Rabu, 10 Februari 2010

Waktu


Cepat sekali seperti baru saja terjadi. Seperti baru kemarin bermain dengan teman2 kecil, sekarang sudah umur berkepala dua. Rasanya baru tadi sore aku bercanda dengan anak tetanggaku yang masih TK, ternyata sekarang dia sudah dewasa.

Seperti baru kemarin uang lima ribu bisa dapat sebungkus rokok, nyatanya sekarang berharga tiga kali lipatnya. Yaa.. seperti baru minggu lalu aku lihat dia hidup pas-pasan utang sana sini, tadi kujumpai dia sudah dianter sopir kesana kemari dengan sedan eropa terbaru.

Waktu cepat berlalu dan ndak mungkin bisa di 'pause' atau di 'rewind'. Sekarang aku mengetik disini dengan perasaan gamang. Mungkin tiga tahun kedepan kalau umurku masih ada, saat kubaca ulang tulisan ini, aku dalam keadaan yang berbeda. Dan perjalanan menuju tiga tahun kedepan itu mungkin hanya terasa seperti 3 jam atau 3 menit atau bahkan 3 detik.

Hai waktu... sudahkah aku manfaatkan dengan baik?.. pertanyaan yang terus melintas tak beraturan dipikiranku... dan mungkin juga dipikiran kalian...

Jumat, 05 Februari 2010

Maaf, Aku bukan orang baik

Malam gelap tak berbintang, anginpun tidak berhembus kencang. Pintu itu sudah dibukakan oleh tangan-tangan gempal tak berbulu. Senyum ramah dipaksakan menyambut ayunan langkah kaki. Kerlipan lampu berwarna warni temaram menggantikan indahnya kunang-kunang. Dentuman musik hingar-bingar mendebarkan dada ini, serasa jantung ingin keluar dari rongga tulang iga.

Botol-botol minuman tertata rapi diatas meja, asbak kaca sebesar piring makan masih bersih mengkilap. Lengan halus lemah gemulai siap menggelayut diatas pundak ketika sodoran butiran kecil pahit masuk kedalam mulut yang masih mengepul asap rokok putih. Air mineral yang harganya saat itu hampir sepuluh kali lipat dari biasanya mulai membasahi kerongkongan.

Tak lama terduduk disitu, kaki mulai lemas, telapak tangan seperti membeku. Dentuman musik memaksa kepala bergoyang, rahang menjadi kaku, bahu bergerak kesana kemari, tangan melambai-lambai dan kaki tidak mau terdiam. Enam jam dalam kegaduhan, enam jam dalam kegembiraan, enam jam dalam khayalan, enam jam dalam kebosanan, enam jam dalam kepalsuan.

Pagi menyapa tak terasa diruangan ber-ac namun pengap dan berasap. Disudut sana ada yang tergeletak tak berdaya, diseberang sana ada yang masih bergoyang, didepan ada yang tertidur, dibelakang masih banyak yang kebingungan, dan disini ternyata sudah gelisah berteman bidadari sesaat yang terkapar dalam pelukan Arjuna dalam kepalsuan.

Maaf kawan, aku bukan orang baik. Ini adalah hidupku, hampir setiap hari aku begini. Uang tak mudah dicari, namun mudah sekali melepaskannya. Sampaikan salamku untuk mereka disana. Jangan sampai mereka mengikuti jalanku, jauhilah sudut kota dimana tempat semacam ini menjadi santapan sehari-hari.

Minggu, 17 Januari 2010

Terbangun..

Pagi ini saya tertampar angin pagi yang dingin dan lembab karna embun. Membuat saya terbangun. Ada kuda terbang di sebelah saya. Mengelus rambut saya dengan hidungnya. Ada kupu-kupu berjubah pelangi membawa sari bunga dan meletakkannya di rambut saya. Ada burung gagak merah dengan mata hijau, sedang membangun rumah jerami dengan gagak warna warni lainnya.

Saya melihat ke sekitar. Bangun. Berjalan. Menyibak semak berries. Melewati rumput tinggi berbunga putih. Ada bunga edelweiss kering. Saya mengambilnya dan menyimpannya di saku celana saya yang terbuat dari bunga sepatu. Saya berjalan lagi. Melompati rumah semut dan rumah tikus.

Saya mengangkat kepala, menatap langit. Langit berwarna biru muda, awan berwarna pink, matahari berwarna jingga. Saya merentangkan tangan. Hangatnya matahari masih belum terasa. Saya berusaha mencari dalam benak. Apa yang saya cari? Saya kehilangan. Tapi tidak ingat apa yang hilang.

Saya tidak lagi mendongak. Saya menatap ke bawah. Ada bunga putri malu, membengkok karena terinjak. Saya mengangkat kaki saya dan merasa bersalah telah menginjak bunga putri malu. Saya mengelusnya dan ah, tertusuk durinya.

Saya mengecap jari saya yang berdarah. Kembali berjalan. Melewati rambut-rambut pohon beringin. Menemukan tempat tidur dari daun pohon pisang. Dan merebahkan diri disana. Terlelap. Satu detik… Dua detik… Saya tertampar angin dingin lagi. Saya terbangun.

Ada melon tersenyum membawa lollipop merah-biru-kuning-putih. Melambai ke arah saya. Seekor kelinci melompat keluar dengan sepatu heels, menyusul kemudian tupai bertuxedo abu-abu. Saya bangun. Berjalan. Ada kerang meninggalkan rumahnya untuk rayap-rayap. Saya bertanya, apa saya kehilangan sesuatu? Mereka menjawab, tidak.

Saya berjalan ke arah cahaya merah muda. Ada bunyi musik. Saya menari sambil mendekati cahaya merah muda. Semakin dekat, semakin sadar. Semakin dekat, semakin ingat. Saya bernyanyi pelan. Tertawa. Mengingat ternyata kamulah yang hilang. Saya menari dan berlari makin cepat. Bernyanyi makin cepat dan keras. Sampai pada akhirnya saya menangis. Airmata ini terjun ke tanah, meninggalkan warna ungu pekat. Saya terus menangis sampai baju saya basah dan berwarna ungu. Saya mengejar cahaya merah muda. Dan menangis makin kencang.

Itu suara musik yang keluar dari bibirmu, seperti kotak musik. Kamu bernyanyi lagu kepergian. Mengingatkan saya kamu telah hilang. Dulu kamu pernah memberikan saya gelang bunga dandelion. Yang akhirnya saya simpan di saku celana saya. Saya mendekati kamu. Mendekati cahaya merah muda.saya ingin kamu tau bahwa saya masih menyimpan gelang dandelion pemberian kamu. Saya merogoh saku, dan yang saya temukan adalah bunga edelweiss kering. Kamu tersenyum sedih dan melambaikan tangan. Kamu berkata,

“Ini lagu terakhir dari saya untuk kamu…”

Cahaya merah muda memudar…

Kamu pergi dan saya mengejar kamu, tapi tak ada apa-apa. Semua kosong. Hanya saya dan bunga edelweiss kering di genggaman saya. Saya menangis, mengelap airmata di kedua mata saya. Dan bulu mata saya berjatuhan ke tanah. Membuat dentingan keras yang nyata dan sunyi.



*buat Ve..

Sabtu, 16 Januari 2010

Indahnya Allah, anehnya saya..

Yaah, semoga ini bukan dianggap curhat. Karma saya Cuma dapet ilham dari Tuhan saya Yang Maha Esa dan menerjemahkannya lewat bahasa saya yang amburadul

Ternyata saya diperhatikan-Nya. Diperhatikan dan diberi inspirasi untuk tulis dalam bentuk kata. Saya rasa ini baik. Ini gak jahat. Karma pikiran saya yang baik-baik milik-Nya. Yang jahat mirip setan, tapi itu masih saya.

Kata Guru saya, Allah mencintai keindahan karena Beliau Maha Indah. Itu kenapa Al-Quran diturunkan di Arab dengan bahasa puitis tingkat tinggi.

Tapi saya senyum. Semoga Allah suka inspirasi-Nya saya buat begini. Toh ini di Indonesia. Dan ini bukan tentang nabi-nabian. Juga bukan Al-Quran. Serta bukan dari bahasa Arab.
Jadi itu saya pikir oke. Okelah Allah, ternyata selain cinta keindahan, Engkau juga cinta keanehan seperti diri saya ini yang bawa-bawa nama-Mu di dalamnya.

Ya Allah, ini tanda cinta, supaya Engkau terkenal, dikenal dan makin dikenal sebagai Tuhan Yang Terkenal.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh…
Apa kabarmu, aku baik-baik saja.

Jumat, 15 Januari 2010

Curhat Ibu tentang Kakek.

Sore-sore ibu cerita tentang bapaknya,
yang ba'da maghrib nanti dikenangnya sejuta hari:

Yang ibu tahu pekerjaannya,
cuma seorang tukang panggul dikota
keluar masuk pasar
pergi pulang tak karuan
Juga,
duduk disadel becak
mengayuh jatah bulanan nyonya belanda
Kadang,
membetot bass dipanggung hajatan
mengiring simfoni keroncong kampungan

Yang ibu tahu kegigihannya,
ketika 'kartini' tenggelam
pasar baru menyala
hanya kasur yang dibawa
berharap tidur saja malam ini
esok pagi semua bisa dicari

Yang ibu tahu kedigjayaannya,
walau asma mendera
cobalah membuatnya marah
meraung bukan menjadi macan
merangkak jangan disebut hewan

Yang ibu tak kan melupakannya,
dia seorang yang dilupakan
karna meninggalkan sodara-sodara yang lupa daratan
tanah yang dijejaknya bukanlah warisan
dia terkubur diranah rantau

Sambil menebar karpet dan tikar,
ibu bukan mengusap airmata,
tapi mengangkat kepala......bangga.

Tuhan diatas segala Agama


Diciptakannya semesta raya beserta partikel debu kehidupan. Debu-debu yang kemudian terbawa angin , debu-debu yang akan tersiram air hujan.
Debu-debu yang akan menciptakan bintik-bintik baru kelahiran.

Tiada terdengar tawa riang mahkluk berdaun yang berkerumun di hutan sana.
Tak kutangkap jerit suara tangis mereka , saat aku terlibat dalam pemusnahan.
Tiada kasat dimata bahagia pohon-pohon yang tumbuh di halaman.
Tak terlihat pula raut wajah merintih pedih saat mereka ditebang .

Terlambatkah untuk sadar ... mengapa alam menjadi murka pada manusia
Sudah percuma-kah untuk menyadari ... bukan hanya manusia penghuni di jagat ini .

Dikeheningan yang sendiri , aku memohon pada-MU
Selamatkanlah anak-anak dan cucu-cucuku nanti ...

amien.

Aku Terhenyak..


Siapakah yang bisa merasakan.
Siapakah yang mau peduli.

Ketika sebuah karya terasa ingin membunuh bapaknya sendiri..
Diperdengarkan tanpa substansi
Dipertontonkan tanpa esensi

Aku....serasa badut!

Kamis, 14 Januari 2010

Pantun Koruptor.

(Dibacakan WS Rendra ditengah Iwan Fals dan kawan-kawan menyanyikan lagu HIO dalam konser Merdeka yang berlangsung di Leuwinanggung 16 Agustus 2008)

Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi

Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari

Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan

Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga

Hio… Hio… Hio… Hio…

Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan

Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?

Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga

Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri

Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…

Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…..

Capek Deh...

Bila sesuatu yang baik dianggap buruk. Bila sesuatu yang sudah dikatakan Allah SWT masih saja dicari-cari kesalahannya yang tidak akan pernah ditemukan. Bila tindakan yang dicontohkan Rasullullah SAW masih saja diperdebatkan. Dan segudang alasan alasan itu hanya untuk nama kebebasan. Kebebasan made in siapa?.

Lalu yang tidak ada kepentingan selalu ikut-ikutan. Berlomba agar di cap sebagai pahlawan pembela ketidakadilan. Berkoar-koar di jalanan selalu ngotot meyakinkan rakyat bahwa ocehannya yang paling benar. Memutar balikkan opini sehingga orang yang pinter terkesan bodoh. Seolah yang benar itu selalu salah. Untuk apa ?. Untuk sekian lembar Rupiah atau Dollar? Atau hanya untuk menyenangkan majikan yang diagung-agungkan?

Mengapa tidak mau belajar? Mengapa lebih suka menelan mentah-mentah propaganda yang disebarkan? Mengapa tidak membaca hati nurani sendiri? Mengapa tidak malu pada diri sendiri?. Mengapa ini dipandang sebagai sebuah perlombaan dimana lawan harus kalah dan mati? Lalu pemenangnya adalah yang bisa menancapkan demokrasi sinting didada sang mayat?

Kemudian yang benar disalahkan. Diciptakan image yang mengakar bahwa paham mereka demikian brutalnya. Dan anak cucu mereka menerima keadaan ini dengan pongah tanpa pernah mengerti yang sebenarnya terjadi. Melupakan kenyataan yang ada. Terbius oleh surga dunia yang hanya seupil semut. Lantas mereka menyuruh kita diam dan jangan hiraukan. Mereka katakan kalau tidak suka ya jangan diterima.

Dibalik keadaan yang selalu dan selalu diputar-putar sehingga membuat yang Halal dan Haram menjadi tidak ada bedanya.... ternyata kepala mereka masih saja menoleh ketika sebuah uang logam jatuh di trotoar. Capek deh.... tapi... jangan lupa... kita disini tidak akan pernah diam, Insya Allah.

Senin, 11 Januari 2010

Dalam Rumah Dalam Penjara Tiada Beda

Ini memang rahasia umum, semua tahu. Sering terekspose lalu tenggelam dan sekarang terekspose lagi dan rasanya semakin dibesar-besarkan karena suasana politik yang memanas. Penonton senang, media juga senang.

Bandit kaya meski dipenjara tapi hidupnya bebas. Maling kelas coro, kalau dipenjara benar-benar tersiksa. Tuh lihat, koruptor kelas kakap... memang dia ketangkep basah dan dipenjara. Tapi kondisi selnya seperti hotel bintang lima. Ada lagi anak jendral yang terbukti merencanakan pembunuhan, tapi dia bebas pergi kemana-mana dan dapat potongan masa tahanan bertahun-tahun dari hukuman yang dijatuhkan.

Jadi ingat lagunya Iwan Fals di tahun 80-an yang berjudul 3 Bulan... Tahun segitu Iwan Fals sudah berani menyindir kondisi peradilan disini. Salah satu kalimat dalam lirik lagu itu 'dalam rumah dalam penjara tiada beda' seperti membuktikan pada masa itu kondisi penjara untuk orang kaya/orang kuat memang sudah di istimewakan.

Dan sekarang? semakin terbukti kan?... Ternyata uang tetap segalanya..
Jangan-jangan para koruptor atau bandit kaya itu kalau masuk neraka masih berpikiran bisa menyuap malaikat penjaga Neraka ya? Mungkin mereka berpikiran mental penjaga Neraka seperti mental penegak keadilan di negeri ini yang haus dan rakus dengan fulus.

Syafiq Baktir
iwanfalsmania.blogspot.com
---------------
Tiga Bulan
Iwan Fals

Tiga bulan lamanya kau dalam penjara
Teman
Seratus butir telur ayam di pasar
Hilang engkau ganyang

Palu keras bapak hakim berbunyi tegas
Terbayang
Bibir sumbing gigi rompal dapat kupastikan
Malah engkau tawan

Tiga bulan lamanya kah tuan ditahan
Nikmat benar
Seratus juta uang negara terbang melayang
Masuk kantong tuan

Palu kayu bapak hakim berbunyi pelan
Terdengar sumbang
Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman

Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman

---------------

Senin, 21 Desember 2009

Emak

Selamat hari ibu untuk Ibuku dan semua wanita yang telah menjadi Ibu..


Emak
Iwan Fals / Bagoes A.A. ( Album Wakil Rakyat 1987 )


Tanpa engkau
Sedikitpun tiada artinya aku
Bagiku kau api
Yang berikan hangat begitu kuat
Pada beku nadi

Tiada dua
Engkau hadirkan cinta tak berahir
Tak kan pernah mampu
Kulukis putihmu lewat lagu
Maafkanlah aku

Bagai bening mata air
Memancar tak henti
Mungkin masihlah teramat kurang

Bagai sinar matahari
Yang tak kenal bosan
Berikan terangnya pada kita
Kaulah segalanya

Hanya ini
Yang sanggup kutulis untukmu bunda
Jangan tertawakan
Simpan dalam hatimu yang sejuk
Rimbun akan doa

Kau berikan semuanya
Yang bisa kau beri
Tanpa setitikpun harap balas

Kau kisahkan segalanya
Tanpa ada duka
Walaupun air matamu tumpah
Tenggelamkan dunia

Bagai sinar matahari
Yang tak kenal bosan
Berikan terangnya pada jiwa

Kau berikan semuanya
Yang bisa kau beri
Tanpa setitikpun harap balas
Agungnya engkau

Bagai luas laut biru
Batinmu untukku
Selalu ada tempat tuk resahku

Bagai bening mata air
Memancar tak henti
Sirami jiwaku waktu kecewa
Datang menggoda

Sabtu, 19 Desember 2009

Sejarah Lagu BONGKAR Dan Kelompok SWAMI

Bongkar!
Oleh : Naniel C. Yakin
Foto : Dok. Pribadi

Kelahiran Swami sendiri berawal dari kegundahan Iwan Fals yang sedang meng-alami musibah, karena rencana promo tur album rekaman terbarunya Mata Dewa ke 100 kota di Indonesia, sekitar tahun 1988, tiba-tiba izinnya dibatalkan oleh yang berwajib tanpa alasan yang jelas. Pada masa pemerintah Orde Baru saat itu, kegiatan yang mendatangkan massa merupakan ke-giatan yang patut diwaspadai. Apa lagi bila kegiatan itu terkesan bernuansa mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk kegiatan atau konser musik yang berani bersuara atau bernada kritik.

Ketika radiogram pelarangan dari Mabes Polri untuk memberitahukan pembatalan izin konser promo tour itu diterima AIRO sebagai EO, rombongan artis dan kru sudah berada di Palembang, sehari sebelum konser di kota tersebut berlangsung. Saat itu, saya ikut dalam rombongan dengan status sebagai wartawan dari sebuah koran sore ibukota (Suara Pembaruan), yang diundang untuk meliput oleh pimpinan Sofyan Ali, direktur AIRO yang menangani konser promo tersebut.

Kesedihan dan kekecewaan menyelimuti kita semua. Tapi apa boleh buat. Keputus-an tidak bisa diubah. Ada bisik-bisik bahwa kejadian ini berkait dengan peristiwa konser Iwan sebelumnya di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, yang dianggap rusuh. Tapi ada juga gosip bahwa Iwan terlalu berani menyuarakan kritik saat di atas panggung. Tapi yang jelas pentas Iwan tidak mendapatkan izin saat itu.

Rombongan artis lainnya seperti Grass Rock dan Nicky Astria esok harinya kembali ke Jakarta. Tapi Iwan bersikeras untuk tetap berjalan sesuai jadwal ke kota-kota yang sudah dijadwal bakal dilewati konser promo ini. “Aku harus memberi penjelas-an pada publik di kota-kota itu, bahwa pembatalan ini bukan dari aku,” tegas Iwan yang berusaha tetap tegar.

Akhirnya Iwan, beberapa panitia, promotor dan beberapa wartawan, tetap tinggal untuk menyusun perjalanan selanjutnya. Saya bersama beberapa rekan wartawan musik ibu kota saat itu, antara lain Remy Soetansyah, Hans Miller Banureah, Toro dan satu lagi rekan dari koran Palembang, Sriwijaya Pos, termasuk yang diminta tinggal untuk menemani Iwan ke kota-kota tempat konser yang batal.

Selama perjalanan itulah saya banyak berkomunikasi dengan Iwan. Bahkan di saat-saat senggang saya sering terlibat diskusi, kadang sama-sama menulis lirik yang terus kami coba nyanyikan bersama. Sayang beberapa lirik yang berhasil kami jadikan lagu sampai saat ini tidak sempat kami rekam. Sekitar dua minggu kami berjalan sebelum kemudian kembali ke Jakarta.

Kembali ke Jakarta, Iwan semakin gelisah. Bahkan terbersit niatnya untuk tidak bermain musik lagi. “Mending aku jadi penulis di media saja dari pada main musik tapi tidak boleh tampil seperti sekarang,” cetusnya kesal. Kami makin sering bertemu dan mengobrol. Saya jadi sering main ke tempat tinggal Iwan di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Dari hasil mengobrol, diskusi dan debat warung kopi di rumah Iwan itulah lahir beberapa lagu seperti “Condet” dan “Kebaya Merah” yang kemudian direkam di Swami II, dan “Bento”. Entah karena tidak punya beban, dan motivasi membuat lagu-lagu itu semata-mata karena keinginan berekspresi dari beban batin yang kami rasakan saat itu, lagu-lagu tersebut lahir begitu saja dengan cair tanpa hambatan.

Dalam kegalauan tersebut, sebenarnya Iwan punya sebuah pekerjaan yang sa-ngat penting yang harus ia selesaikan, yaitu rekaman album Kantata Takwa bersama WS Rendra (almarhum), Setiawan Djodi, Sawung Jabo dan Yockie Suryoprayogo. Di sela-sela jadwal latihan mereka, saya sering diajak Iwan main ke rumah Sawung Jabo di bilangan Pasar Minggu.

Sebelumnya, saya cukup sering bertemu Jabo. Bahkan ketika pertama kali saya ke Jakarta tahun ‘80-an, saya tinggal di rumah Jabo dan juga ikut bermain di grupnya, Sirkus Barock. Di rumah Jabo ini kami kembali mengobrol dan menelurkan beberapa lagu antara lain, “Oh Ya”, “Perjalanan Waktu”, “Badut” dan lain-lain.

Kami semakin tenggelam dalam perenungan-perenungan, mencermati keadaan sampai berusaha menyikapinya lewat kata-kata dan notasi. Kalau tidak di Condet, rumah Iwan atau Pasar Minggu, rumah Jabo. Kami bertemu di rumah saya di kawasan Perumnas Klender. Tidak jarang, tiba-tiba larut malam menjelang pagi mereka berdua datang mengetuk-ngetuk pintu rumah saya. Kami begadang, ngopi, mengobrol dan jadilah beberapa lagu seperti “Eseks-eseks Udug-udug”, “Cinta”, “Potret” dan lainnya. Mereka memang sengaja datang malam, karena pernah mereka datang sore hari, akibatnya rumah saya diserbu warga yang ingin ketemu Iwan Fals.

Rupanya kolaborasi ini memberi sema-ngat bagi Iwan. Dia mengusulkan untuk melatih lagu-lagu ini dalam sebuah kelompok musik. Jabo mengusulkan nama Tatas sebagai pemain keyboard dan Iwan sendiri menyorongkan nama Jerry, sebagai pemain gitar. Sedangkan untuk penggebuk drum dan pencabik bas, kami setuju merekrut Innisisri dan Nanoe. Kami akhirnya latih-an dengan formasi Iwan Fals (gitar, vokal), Sawung Jabo (gitar, vokal), Naniel (flute, vokal, perkusi), Innisisri (drum, vokal), Nanoe (bas, vokal), Tatas (keyboard) dan Jerry (gitar). Jabo mengusulkan nama Swami bagi kelompok ini. Kami setuju, “Oke, mulai saat ini grup ini kita namakan Swami!”.

Kami pentas pertama di kawasan Bintaro dalam acara ulang tahun sebuah ke-lompok pemanjat tebing. Saya ingat, kami masing-masing mendapat honor Rp 200 ribu. Kami berusaha mencari produser yang mau merekam lagu-lagu yang sudah kami latih ini, tapi ternyata susah. Hampir semua produser yang kami datangi selalu menjawab, “Bagaimana caranya kami menjual lagu-lagu macam ini. Bikin saja yang biasa,” kilah mereka umumnya. Lagu-lagu ini mereka rasakan terlalu keras, terutama liriknya. Pasti akan bermasalah bagi mereka kalau diedarkan.

Untung kedekatan Iwan dengan Setiawan Djodi di Kantata Takwa ternyata membawa berkah. Djodi bersedia membia-yai rekaman Swami. Kami pun kemudian rekaman di GIN Studio yang terletak di daerah Roxy. Tidak ada kesulitan, semua lancar sampai ketika Iwan menyodorkan lagu “Bongkar” yang nantinya disempurnakan oleh Jabo. Ada masalah pada lirik lagu ini yang mengundang kontroversi di antara kami. Dalam lirik lagu itu menyinggung nama-nama tempat yang merupakan kasus militer dan tabu diucapkan saat itu. Nama-nama itu seperti: Way Jepara, Kedung Ombo, Kaca Piring yang merupakan tempat kejahatan HAM berat. Kami khawatir kalau tetap tidak diubah akan jadi masalah bagi album ini.

“Ya, tapi kreativitas dan ekspresi kan nggak- boleh diatur-atur? Kita kan bukan kambing yang hanya menurut dibawa ke kanan, menurut dibawa ke kiri,” kata Iwan bersikeras.

“Ya, tapi kita juga harus berstrategi, Wan. Bukan masalah takut dan berani. Kalau nggak- boleh edar, buat apa kita mengerjakan rekaman ini? Kita kan bisa menyiasati dengan cara lain?” saya coba nimbrung, berusaha mencairkan suasana.

Akhirnya disepakati Jabo akan merevisi dan menyusun ulang sebagian lirik dari lagu “Bongkar” ini. Beberapa kali ditawarkan, akhirnya disepakati lirik seperti yang kita kenal sekarang dalam lagu “Bongkar” karya Iwan Fals dan Sawung Jabo. Lirik lagu ini memang agak berubah di penyajian, tapi visinya tetap. Liriknya lebih puitis tidak frontal seperti awalnya. Rekaman dan mixing-nya kami selesaikan sekitar satu bulan kerja di studio. Sayang begitu selesai rekam-an, karena alasan bersifat pribadi, Tatas dan Jerry mengundurkan diri. Maka dalam konser promo di Jogya, Salatiga, Semarang dan Surabaya, posisi keyboard dan gitar digantikan oleh Yockie Suryoprayogo dan Toto Tewel.

Komposisi pemain ini bertahan terus sampai rekaman Swami II dan konser Sumatra di kota-kota, Bandar Lampung, Padang dan Medan. Setelah konser di kota-kota tersebut, Swami tidak lagi mendapatkan izin untuk pentas dari pihak aparat keaman-an masa Orde Baru saat itu. Rekam-an kedua melahirkan beberapa hit macam “Kuda Lumping”, ”HIO” dan lain-lain.

Dari kesepakatan awal, Swami memang bukan kelompok musik yang dikonsumsikan bagi industri musik, tetap lebih pada kerja kreatif dari sebuah komunitas yang ber-usaha menyuarakan aspirasinya lewat bahasa musik. Swami sebagai sosok memang tidak bisa tampil karena tidak mendapatkan izin dari pihak berwenang saat itu. Tetapi suara yang sudah terlanjur berkumandang lewat serangkaian lagu-lagu yang mereka hasilkan sudah terlanjur didengar dan disukai oleh publik. Bahkan pecinta musik saat ini yang ketika lagu-lagu macam “Bento”, “Bongkar”, “Eseks-eseks Udug-udug” pertama kali diperdengarkan masih orok, sekarang ternyata banyak yang ikut mengapresiasi, menyukai, bahkan hapal -liriknya.

Atas persetujuan bersama, akhirnya disepakati oleh semua personel, tahun 1992 Swami dibubarkan. Itulah kelompok musik Swami dalam pandangan saya. Walau sudah tidak ada lagi, bahkan ada kesan kehadirannya tidak terlalu dicatat oleh industri musik, tapi grup ini tetap hidup lewat lagu-lagu yang mereka hasilkan. Selama masih ada pecinta musik yang menginginkan kejujuran ekspresi, maka saya rasa lagu-lagu Swami akan tetap hidup sebagai referensi, betapa kekuatan musik sebagai media -perlawanan!

SUMBER TULISAN :
http://www.rollingstone.co.id/read/2009/11/26/531/13/2/Bongkar

--------------------------
Catatan:
Saya merasa perlu melakukan copy dan paste penuh tulisan ini dari sumber diatas dan menyebarluaskan dikalangan kita, mungkin ada yang belum sempat membacanya. Sebab tulisan sejarah seperti ini jarang kita jumpai.

Tulisan ini pantas dan wajib diketahui kawan-kawan yang mengaku FANS agar tidak sekedar bisa nyanyi lagunya, tanpa pernah tahu kisah dibelakangnya.

Terima kasih untuk mas NANIEL dan majalah ROLLING STONE INDONESIA yang sudah mempublikasikan tulisan ini. HORMAT SAYA UNTUK KALIAN...!

Rabu, 16 Desember 2009

Gelora Tertekan

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak beredar. Informasinya lagu ini direkam sekitar tahun 1996. Iwan Fals tidak hanya jago menulis lagu bertema kritik, namun dia juga hebat dalam tema percintaan seperti lirik dibawah ini. Coba baca dan renungi. Lagu-lagu cinta karya Iwan Fals memang bukan lagu cinta kacangan.

Gelora Tertekan
(Iwan Fals)


Dari jauh aku melihat dirimu
Curi pandang melempar panah asmara
Tak tau apakah sampai padamu
Aku malu sepertinya berdosa

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Sempat mata kita saling berpandangan
Juga sempat kita saling berjabat tangan
Tetap hati bergemuruh bak gelombang
Bila rindu memanggilmu sayang

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Semerbak bunga-bunga ditaman
Tak mampu buyarkan lamunan
Dirimu masih terus terbayang
Terbawa mimpi pagi menjelang

Mendekatlah wahai jelita yang malang
Aku ikhlas membuatmu bahagia
Tertawalah lepas jelita yang malang
Aku yakin aku tak berdaya

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Semerbak bunga-bunga ditaman
Tak mampu buyarkan lamunan
Dirimu masih terus terbayang
Terbawa mimpi pagi menjelang

Terima kasih buat Mas Syafiq Baktir..
kalau mau lebih lengkapnya bisa di lihat di
: http://iwanfalsmania.blogspot.com/search/label/-%20Lirik%20Lagu%20Yang%20Tidak%20Dikomersilkan

Selasa, 15 Desember 2009

Dibawah Otoritas Guru

Sejak kecil ia sangat jarang keluar rumah. Ia hanya keluar ketika sekolah, selebihnya mengurung diri dalam kamar. Karena itulah, mungkin, ia dikenal pendiam. Namun, kalau kamu mengenalnya lebih dekat, sebenarnya ia bukanlah sosok pendiam. Ia banyak bicara, melalui tulisan. Bibirnya memang lebih sering terkatup, namun entah sudah berapa lembar ia habiskan untuk menulis. Entah sekedar menulis iseng atau opini serius. Sehingga ketika tulisannya dimuat di mading, sekolah pun geger. Sosok yang pendiam itu, ternyata seorang penggugat!

Malam itu, di dalam kamarnya yang sepi ia menulis:
Banyak hal yang membuat sekolah ini aneh. Ada kontradiksi besar disini, digedung sekolah dan di lembaga pendidikan ini. Dalam dunia pendidikan, seharusnya kita tumbuh dalam iklim berpikir yang bebas. Namun yang kusaksikan, yang kulihat dan kurasakan sungguh lain. Disini kita tidak hanya tidak bisa berpikir secara bebas, namun kita juga dipaksa untuk tunduk pada otoritas guru yang terkadang sewenang-wenang. Ada beberapa guru yang kurang berdisiplin dalam memenuhi kewajibannya mengajar. Dan ketika kita pertanyakan, kita malah di damprat, “Kamu berani mengkritik guru!”.Sementara ketika kita mencoba bertanya kenapa ada guru yang tidak konsisten menjalankan peraturan sekolah, kita pun ditegur, “Kamu sudah berani sama guru!”

Lain lagi ketika ada guru yang kurang bisa mengkomunikasikan pelajaran. Dan ketika kita coba mengkritiknya, kita malah kena semprot, “Jangan kurang ajar sama guru!”. Guru, dengan demikian, menjadi seperti sosok yang selalu benar, tak pernah salah. Dan kita pun terpaksa tunduk dibawah ketidak berdayaan karena memang tak ada undang-undang yang melindungi hak murid.Entah setan mana yang membuatnya nekat mengirimkan tulisan tersebut ke mading sekolah.

Yang pasti, ketika tulisan tersebut dimuat, genting sekolah nyaris ambrol. Ia yang selama ini dikenal pendiam, tiba-tiba berbicara dengan sangat keras dan tajam, lewat tulisan.
Apa yang ditulisnya menjadi gunjingan hangat. Di perpustakaan, di kantin, dan bahkan di sudut-sudut kelas, siswa beramai-ramai mengomentari. Sehingga dewan guru pun terpaksa mengambil tindakan. Atas nama ketertiban dan kedisiplinan, dengan sangat terpaksa, anak yang pendiam itu di keluarkan! “Ia lebih berbahaya dari siswa yang menggunakan narkoba. Ia menyebarkan pikiran radikal. Ia juga telah memprovokasi para siswa untuk berani melawan guru. Karena itu, keputusan ini tidak bisa ditawar lagi!” begitu komentar kepala sekolah
Tapi tidak, anak itu tidak dikeluarkan dari sekolah. Ia hanya dipindah sekolahkan, cuma di lempar, cuma dibuang.Malangnya si pendiam..

Senin, 14 Desember 2009

Kembali Ke Masa Lalu

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak di komersilkan.

Aku ingin kembali ke masa lalu

Berjalan dari warung ke warung
Berjalan dari rumah ke rumah
Berada disetiap tempat sampah
Begadang, main gitar, mabuk, nyanyi
Setelah itu bercanda dengan para pelacur

Aku ingin kembali ke masa lalu

Ke masa kesalahan menjadi kebanggaan
Waktu itu aku bebas aku lepas
Aku bisa teriak sekeras aku suka
Aku bisa menangis secengeng aku mau
Langkahku ringan rasanya terbang

Aku paling suka mencari perhatian

Segala cara aku lakukan
Tak ada beban tak ada dosa
Tak ada yang aku risaukan
Paling paling hanya hari depan
Dan dituduh P K I

(Iwan Fals)