Selasa, 15 Desember 2009

Dibawah Otoritas Guru

Sejak kecil ia sangat jarang keluar rumah. Ia hanya keluar ketika sekolah, selebihnya mengurung diri dalam kamar. Karena itulah, mungkin, ia dikenal pendiam. Namun, kalau kamu mengenalnya lebih dekat, sebenarnya ia bukanlah sosok pendiam. Ia banyak bicara, melalui tulisan. Bibirnya memang lebih sering terkatup, namun entah sudah berapa lembar ia habiskan untuk menulis. Entah sekedar menulis iseng atau opini serius. Sehingga ketika tulisannya dimuat di mading, sekolah pun geger. Sosok yang pendiam itu, ternyata seorang penggugat!

Malam itu, di dalam kamarnya yang sepi ia menulis:
Banyak hal yang membuat sekolah ini aneh. Ada kontradiksi besar disini, digedung sekolah dan di lembaga pendidikan ini. Dalam dunia pendidikan, seharusnya kita tumbuh dalam iklim berpikir yang bebas. Namun yang kusaksikan, yang kulihat dan kurasakan sungguh lain. Disini kita tidak hanya tidak bisa berpikir secara bebas, namun kita juga dipaksa untuk tunduk pada otoritas guru yang terkadang sewenang-wenang. Ada beberapa guru yang kurang berdisiplin dalam memenuhi kewajibannya mengajar. Dan ketika kita pertanyakan, kita malah di damprat, “Kamu berani mengkritik guru!”.Sementara ketika kita mencoba bertanya kenapa ada guru yang tidak konsisten menjalankan peraturan sekolah, kita pun ditegur, “Kamu sudah berani sama guru!”

Lain lagi ketika ada guru yang kurang bisa mengkomunikasikan pelajaran. Dan ketika kita coba mengkritiknya, kita malah kena semprot, “Jangan kurang ajar sama guru!”. Guru, dengan demikian, menjadi seperti sosok yang selalu benar, tak pernah salah. Dan kita pun terpaksa tunduk dibawah ketidak berdayaan karena memang tak ada undang-undang yang melindungi hak murid.Entah setan mana yang membuatnya nekat mengirimkan tulisan tersebut ke mading sekolah.

Yang pasti, ketika tulisan tersebut dimuat, genting sekolah nyaris ambrol. Ia yang selama ini dikenal pendiam, tiba-tiba berbicara dengan sangat keras dan tajam, lewat tulisan.
Apa yang ditulisnya menjadi gunjingan hangat. Di perpustakaan, di kantin, dan bahkan di sudut-sudut kelas, siswa beramai-ramai mengomentari. Sehingga dewan guru pun terpaksa mengambil tindakan. Atas nama ketertiban dan kedisiplinan, dengan sangat terpaksa, anak yang pendiam itu di keluarkan! “Ia lebih berbahaya dari siswa yang menggunakan narkoba. Ia menyebarkan pikiran radikal. Ia juga telah memprovokasi para siswa untuk berani melawan guru. Karena itu, keputusan ini tidak bisa ditawar lagi!” begitu komentar kepala sekolah
Tapi tidak, anak itu tidak dikeluarkan dari sekolah. Ia hanya dipindah sekolahkan, cuma di lempar, cuma dibuang.Malangnya si pendiam..

Tidak ada komentar: