Bila sesuatu yang baik dianggap buruk. Bila sesuatu yang sudah dikatakan Allah SWT masih saja dicari-cari kesalahannya yang tidak akan pernah ditemukan. Bila tindakan yang dicontohkan Rasullullah SAW masih saja diperdebatkan. Dan segudang alasan alasan itu hanya untuk nama kebebasan. Kebebasan made in siapa?.
Lalu yang tidak ada kepentingan selalu ikut-ikutan. Berlomba agar di cap sebagai pahlawan pembela ketidakadilan. Berkoar-koar di jalanan selalu ngotot meyakinkan rakyat bahwa ocehannya yang paling benar. Memutar balikkan opini sehingga orang yang pinter terkesan bodoh. Seolah yang benar itu selalu salah. Untuk apa ?. Untuk sekian lembar Rupiah atau Dollar? Atau hanya untuk menyenangkan majikan yang diagung-agungkan?
Mengapa tidak mau belajar? Mengapa lebih suka menelan mentah-mentah propaganda yang disebarkan? Mengapa tidak membaca hati nurani sendiri? Mengapa tidak malu pada diri sendiri?. Mengapa ini dipandang sebagai sebuah perlombaan dimana lawan harus kalah dan mati? Lalu pemenangnya adalah yang bisa menancapkan demokrasi sinting didada sang mayat?
Kemudian yang benar disalahkan. Diciptakan image yang mengakar bahwa paham mereka demikian brutalnya. Dan anak cucu mereka menerima keadaan ini dengan pongah tanpa pernah mengerti yang sebenarnya terjadi. Melupakan kenyataan yang ada. Terbius oleh surga dunia yang hanya seupil semut. Lantas mereka menyuruh kita diam dan jangan hiraukan. Mereka katakan kalau tidak suka ya jangan diterima.
Dibalik keadaan yang selalu dan selalu diputar-putar sehingga membuat yang Halal dan Haram menjadi tidak ada bedanya.... ternyata kepala mereka masih saja menoleh ketika sebuah uang logam jatuh di trotoar. Capek deh.... tapi... jangan lupa... kita disini tidak akan pernah diam, Insya Allah.
Lalu yang tidak ada kepentingan selalu ikut-ikutan. Berlomba agar di cap sebagai pahlawan pembela ketidakadilan. Berkoar-koar di jalanan selalu ngotot meyakinkan rakyat bahwa ocehannya yang paling benar. Memutar balikkan opini sehingga orang yang pinter terkesan bodoh. Seolah yang benar itu selalu salah. Untuk apa ?. Untuk sekian lembar Rupiah atau Dollar? Atau hanya untuk menyenangkan majikan yang diagung-agungkan?
Mengapa tidak mau belajar? Mengapa lebih suka menelan mentah-mentah propaganda yang disebarkan? Mengapa tidak membaca hati nurani sendiri? Mengapa tidak malu pada diri sendiri?. Mengapa ini dipandang sebagai sebuah perlombaan dimana lawan harus kalah dan mati? Lalu pemenangnya adalah yang bisa menancapkan demokrasi sinting didada sang mayat?
Kemudian yang benar disalahkan. Diciptakan image yang mengakar bahwa paham mereka demikian brutalnya. Dan anak cucu mereka menerima keadaan ini dengan pongah tanpa pernah mengerti yang sebenarnya terjadi. Melupakan kenyataan yang ada. Terbius oleh surga dunia yang hanya seupil semut. Lantas mereka menyuruh kita diam dan jangan hiraukan. Mereka katakan kalau tidak suka ya jangan diterima.
Dibalik keadaan yang selalu dan selalu diputar-putar sehingga membuat yang Halal dan Haram menjadi tidak ada bedanya.... ternyata kepala mereka masih saja menoleh ketika sebuah uang logam jatuh di trotoar. Capek deh.... tapi... jangan lupa... kita disini tidak akan pernah diam, Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar