Malam gelap tak berbintang, anginpun tidak berhembus kencang. Pintu itu sudah dibukakan oleh tangan-tangan gempal tak berbulu. Senyum ramah dipaksakan menyambut ayunan langkah kaki. Kerlipan lampu berwarna warni temaram menggantikan indahnya kunang-kunang. Dentuman musik hingar-bingar mendebarkan dada ini, serasa jantung ingin keluar dari rongga tulang iga.
Botol-botol minuman tertata rapi diatas meja, asbak kaca sebesar piring makan masih bersih mengkilap. Lengan halus lemah gemulai siap menggelayut diatas pundak ketika sodoran butiran kecil pahit masuk kedalam mulut yang masih mengepul asap rokok putih. Air mineral yang harganya saat itu hampir sepuluh kali lipat dari biasanya mulai membasahi kerongkongan.
Tak lama terduduk disitu, kaki mulai lemas, telapak tangan seperti membeku. Dentuman musik memaksa kepala bergoyang, rahang menjadi kaku, bahu bergerak kesana kemari, tangan melambai-lambai dan kaki tidak mau terdiam. Enam jam dalam kegaduhan, enam jam dalam kegembiraan, enam jam dalam khayalan, enam jam dalam kebosanan, enam jam dalam kepalsuan.
Pagi menyapa tak terasa diruangan ber-ac namun pengap dan berasap. Disudut sana ada yang tergeletak tak berdaya, diseberang sana ada yang masih bergoyang, didepan ada yang tertidur, dibelakang masih banyak yang kebingungan, dan disini ternyata sudah gelisah berteman bidadari sesaat yang terkapar dalam pelukan Arjuna dalam kepalsuan.
Maaf kawan, aku bukan orang baik. Ini adalah hidupku, hampir setiap hari aku begini. Uang tak mudah dicari, namun mudah sekali melepaskannya. Sampaikan salamku untuk mereka disana. Jangan sampai mereka mengikuti jalanku, jauhilah sudut kota dimana tempat semacam ini menjadi santapan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar