Steve “The Crocodile Hunter” Irwin meninggal disengat ikan pari!
Entah kenapa saat pertama denger kabar itu gak ada kekagetan sedikitpun di hati gue. Mungkin sama gak kagetnya ketika dulu denger Ayrton Senna meninggal karena nabrak tembok pembatas Imola.
Buat gue rasanya, memang lebih pantes mereka meninggal dengan cara seperti itu.
Kecintaan mereka yang besar terhadap dunia mereka masing-masing, rasanya bakal jadi unhappy ending kalo mereka gak meninggal di dalam dunianya itu.
Bayangin kalo Irwin meninggal gara-gara kakinya canthengan.
Atau misalnya Senna tewas diserempet Bajaj.
Kayak kata banci-banci: “AGAK KURANG, YAAAAAAAAAAA!!???”
Tapi beda banget.
Dada gue sesak waktu denger beberapa pemulung meninggal gara-gara kelongsoran sampah di bantargebang.
Bener.
Sampah memang dunia mereka.
Tapi denger mereka meninggal di ”dunia mereka” kok rasanya perih yah.
Atau pas denger mahasiswa IKIP Makassar mati ditusuk preman di kampusnya gara-gara demo. Preman yang disewa rektor sebagai tenaga kemanan partikelir.
Anjrit, rasanya tusukannya berasa di ulu hati gue.
Atau pas denger sopir buldozer pembuat tanggul buat mencegah lumpur lapindo kelindes buldozernya sendiri.
Duh Gusti…
Kenapa gue belum pernah denger, koruptor mati kekenyangan harta korupsinya?
Kenapa gue belum pernah liat birokrat kotor mati jatuh kepleset kotorannya sendiri?
Kenapa gue belom pernah …
(Anak-anak: AH SUTRALAH Herrrrr!!!!)
Kata siapa dunia itu gak adil?
Buktinya Steve Irwin, Ayrton Senna, Pemulung Bantar Gebang, Sopir Buldozer Lapindo, Mahasiswa IKIP, semua punya kesempatan buat meninggal di dunia mereka….
Tapi, Her ..
AH SUTRALAH, JOOOOO!!!
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat datang kepada siapa saja dan 'apa saja' yang telah singgah atau cuma 'nyasar' di tempat ini. Hanyalah sedikit yang bisa dituangkan bagi yang sempat membaca. Sedikit yang bisa diberi untuk yang memerlukan. Dan semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Rabu, 24 Maret 2010
Semalam Dengan Kenny
Malam ini hujan turun lagi, sama seperti hari kemarin. Setiap malam dingin, setiap malam gak mandi. Habis mau bagaimana lagi, saudara? Kaki kering aja dingin, apalagi kaki basah?
Tidurpun tetap kedinginan. Mimpipun, mimpi dikubur dengan salju. Coba itu, pakai selimutnya. Saya pakai selimut saya. Wahai kawan, selimut saya aja dingin. Selimut apa ini? Mana janji si Abang di Tanah Abang ketika ibu saya beli selimut ini? Katanya bisa jadi hangat kalau ditiduri selimut. Ini malah selimut yang minta dihangatkan sama saya.
Aduh emak, kaki ini mati rasa-pun. Harus digosok berapa lama lagi supaya hangat? Aduh emak, tangan ini dingin kali pun. Harus berapa lama lagi saya jepitkan ke ketek? Aduh emak, ketek saya ikut dingin pun...
Saya ingat Mama. Lagi apa ya dia sekarang? Mungkin duduk di rumah sambil nonton sembari angkat kaki dan jepit rokok di tangan. Pernah saya dan Dian, kakak saya, mau belikan dia asbak yang bentuknya paru-paru. Biar dia liat waktu dia ketuk-ketuk rokok di asbak, dia sedang mengotori paru-paru. Mamak, berhentilah rokoknya. (walaupun saya sebenarnya perokok) Dikumpulin uangnya. Kata Dokter, kalo dihitung-hitung, bisa bikin hotel, Mamak...
“Emang si dokter yang gak ngerokok itu udah punya hotel?”
Saya langsung diam. Pasang headset. Dengar lagu MP3.
Dengar lagu MP3... Seperti sekarang ini... Oh, ini Kenny G.
Itu lagu Kenny G, ya Allah... Si peniup yang Kau ciptakan itu. Masa lupa? Hari sudah malam dan dingin begini, masih aja dia tiup-tiup terompet. Tahun baru rasa-rasanya udah lewat pun.
Saya goyang-goyang kepala gaya metal mendengar lagu-lagunya yang jazzy. Memang kenapa kalau saya lebih suka begitu? Saya joget dangdut kalo denger instrumen Beethoven. Saya melandai-landai kalo denger lagu Navicula. Saya diem aja kalo denger lagu dangdut. Biar dikira orang saya benci lagu dangdut. Huu... lagu kampungan. Lagu gak berkelas. Padahal dalam hati saya menjerit suka. Kalo judul lagu Rossa “Atas Nama Cinta”, kalau saya “Atas Nama Gengsi dan Nama Baik Keluarga”.
Ah, nggak. Semua saya Cuma bercanda.
Mata saya kedap-kedip. Makin lama, ketika sedang sesi merem saat berkedip, sulit sekali untuk kembali melek. Ah, saya matikan lampu, matikan Kenny, minta ditiduri selimut, tutup mata dan baca do’a.
“Ya Allah, tidur malam ini jangan lupa pake kaos kaki. Jangan seperti saya ini yang gak pake. Maklum Tuhan, kaos kaki hanya tinggal sebelah...”
Tidurpun tetap kedinginan. Mimpipun, mimpi dikubur dengan salju. Coba itu, pakai selimutnya. Saya pakai selimut saya. Wahai kawan, selimut saya aja dingin. Selimut apa ini? Mana janji si Abang di Tanah Abang ketika ibu saya beli selimut ini? Katanya bisa jadi hangat kalau ditiduri selimut. Ini malah selimut yang minta dihangatkan sama saya.
Aduh emak, kaki ini mati rasa-pun. Harus digosok berapa lama lagi supaya hangat? Aduh emak, tangan ini dingin kali pun. Harus berapa lama lagi saya jepitkan ke ketek? Aduh emak, ketek saya ikut dingin pun...
Saya ingat Mama. Lagi apa ya dia sekarang? Mungkin duduk di rumah sambil nonton sembari angkat kaki dan jepit rokok di tangan. Pernah saya dan Dian, kakak saya, mau belikan dia asbak yang bentuknya paru-paru. Biar dia liat waktu dia ketuk-ketuk rokok di asbak, dia sedang mengotori paru-paru. Mamak, berhentilah rokoknya. (walaupun saya sebenarnya perokok) Dikumpulin uangnya. Kata Dokter, kalo dihitung-hitung, bisa bikin hotel, Mamak...
“Emang si dokter yang gak ngerokok itu udah punya hotel?”
Saya langsung diam. Pasang headset. Dengar lagu MP3.
Dengar lagu MP3... Seperti sekarang ini... Oh, ini Kenny G.
Itu lagu Kenny G, ya Allah... Si peniup yang Kau ciptakan itu. Masa lupa? Hari sudah malam dan dingin begini, masih aja dia tiup-tiup terompet. Tahun baru rasa-rasanya udah lewat pun.
Saya goyang-goyang kepala gaya metal mendengar lagu-lagunya yang jazzy. Memang kenapa kalau saya lebih suka begitu? Saya joget dangdut kalo denger instrumen Beethoven. Saya melandai-landai kalo denger lagu Navicula. Saya diem aja kalo denger lagu dangdut. Biar dikira orang saya benci lagu dangdut. Huu... lagu kampungan. Lagu gak berkelas. Padahal dalam hati saya menjerit suka. Kalo judul lagu Rossa “Atas Nama Cinta”, kalau saya “Atas Nama Gengsi dan Nama Baik Keluarga”.
Ah, nggak. Semua saya Cuma bercanda.
Mata saya kedap-kedip. Makin lama, ketika sedang sesi merem saat berkedip, sulit sekali untuk kembali melek. Ah, saya matikan lampu, matikan Kenny, minta ditiduri selimut, tutup mata dan baca do’a.
“Ya Allah, tidur malam ini jangan lupa pake kaos kaki. Jangan seperti saya ini yang gak pake. Maklum Tuhan, kaos kaki hanya tinggal sebelah...”
Minggu, 21 Maret 2010
Cinta Di Hati Kami
dulu dalam hati ini ada cinta
sebesar gajah lampung, terbirit menuju kampung
menangisi hutan sekarat, mati kami
hati kami tak ada cinta lagi, terjual
jadi kursi dan teka teki
cinta kami telah terganti, dendam dan sakit hati
jalan kampung tak beraspal, listrik selalu padam
kepada dada siapa kami bersandar
hingga kasur jadi tanah
menuai mimpi kami
sebesar gajah lampung, terbirit menuju kampung
menangisi hutan sekarat, mati kami
hati kami tak ada cinta lagi, terjual
jadi kursi dan teka teki
cinta kami telah terganti, dendam dan sakit hati
jalan kampung tak beraspal, listrik selalu padam
kepada dada siapa kami bersandar
hingga kasur jadi tanah
menuai mimpi kami
Sabtu, 13 Maret 2010
Beban.
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
Senin, 08 Maret 2010
Surat Untuk-Mu.
ALLAH, hari ini telah 4.40 WIB. Kau panggil aku berkali-kali lewat adzan untuk menyolatkan subuh. Hatiku tergerak, mencari celana panjang dan sajadah. Namun tak kutemukan.
Aku diam dan bingung. Bolehkah aku tidak memakainya? Haruskah kulanjutkan niatku untuk-Mu?
“Lebih baik sholat daripada engkau tidur” ucap Adzan.
Kucari akar saat rotan tak berguna.
Kutemukan sarung, jaket, dan sprei. Kukenakan sarung dan jaket untuk menutupi tubuhku, dan kulebarkan sprei sebagai alas sholatku.
Ya Allah, terimalah niat dan sholatku juga hatiku untuk-Mu.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh…
Aku diam dan bingung. Bolehkah aku tidak memakainya? Haruskah kulanjutkan niatku untuk-Mu?
“Lebih baik sholat daripada engkau tidur” ucap Adzan.
Kucari akar saat rotan tak berguna.
Kutemukan sarung, jaket, dan sprei. Kukenakan sarung dan jaket untuk menutupi tubuhku, dan kulebarkan sprei sebagai alas sholatku.
Ya Allah, terimalah niat dan sholatku juga hatiku untuk-Mu.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh…
Rabu, 10 Februari 2010
Waktu

Cepat sekali seperti baru saja terjadi. Seperti baru kemarin bermain dengan teman2 kecil, sekarang sudah umur berkepala dua. Rasanya baru tadi sore aku bercanda dengan anak tetanggaku yang masih TK, ternyata sekarang dia sudah dewasa.
Seperti baru kemarin uang lima ribu bisa dapat sebungkus rokok, nyatanya sekarang berharga tiga kali lipatnya. Yaa.. seperti baru minggu lalu aku lihat dia hidup pas-pasan utang sana sini, tadi kujumpai dia sudah dianter sopir kesana kemari dengan sedan eropa terbaru.
Waktu cepat berlalu dan ndak mungkin bisa di 'pause' atau di 'rewind'. Sekarang aku mengetik disini dengan perasaan gamang. Mungkin tiga tahun kedepan kalau umurku masih ada, saat kubaca ulang tulisan ini, aku dalam keadaan yang berbeda. Dan perjalanan menuju tiga tahun kedepan itu mungkin hanya terasa seperti 3 jam atau 3 menit atau bahkan 3 detik.
Hai waktu... sudahkah aku manfaatkan dengan baik?.. pertanyaan yang terus melintas tak beraturan dipikiranku... dan mungkin juga dipikiran kalian...
Jumat, 05 Februari 2010
Maaf, Aku bukan orang baik
Malam gelap tak berbintang, anginpun tidak berhembus kencang. Pintu itu sudah dibukakan oleh tangan-tangan gempal tak berbulu. Senyum ramah dipaksakan menyambut ayunan langkah kaki. Kerlipan lampu berwarna warni temaram menggantikan indahnya kunang-kunang. Dentuman musik hingar-bingar mendebarkan dada ini, serasa jantung ingin keluar dari rongga tulang iga.
Botol-botol minuman tertata rapi diatas meja, asbak kaca sebesar piring makan masih bersih mengkilap. Lengan halus lemah gemulai siap menggelayut diatas pundak ketika sodoran butiran kecil pahit masuk kedalam mulut yang masih mengepul asap rokok putih. Air mineral yang harganya saat itu hampir sepuluh kali lipat dari biasanya mulai membasahi kerongkongan.
Tak lama terduduk disitu, kaki mulai lemas, telapak tangan seperti membeku. Dentuman musik memaksa kepala bergoyang, rahang menjadi kaku, bahu bergerak kesana kemari, tangan melambai-lambai dan kaki tidak mau terdiam. Enam jam dalam kegaduhan, enam jam dalam kegembiraan, enam jam dalam khayalan, enam jam dalam kebosanan, enam jam dalam kepalsuan.
Pagi menyapa tak terasa diruangan ber-ac namun pengap dan berasap. Disudut sana ada yang tergeletak tak berdaya, diseberang sana ada yang masih bergoyang, didepan ada yang tertidur, dibelakang masih banyak yang kebingungan, dan disini ternyata sudah gelisah berteman bidadari sesaat yang terkapar dalam pelukan Arjuna dalam kepalsuan.
Maaf kawan, aku bukan orang baik. Ini adalah hidupku, hampir setiap hari aku begini. Uang tak mudah dicari, namun mudah sekali melepaskannya. Sampaikan salamku untuk mereka disana. Jangan sampai mereka mengikuti jalanku, jauhilah sudut kota dimana tempat semacam ini menjadi santapan sehari-hari.
Botol-botol minuman tertata rapi diatas meja, asbak kaca sebesar piring makan masih bersih mengkilap. Lengan halus lemah gemulai siap menggelayut diatas pundak ketika sodoran butiran kecil pahit masuk kedalam mulut yang masih mengepul asap rokok putih. Air mineral yang harganya saat itu hampir sepuluh kali lipat dari biasanya mulai membasahi kerongkongan.
Tak lama terduduk disitu, kaki mulai lemas, telapak tangan seperti membeku. Dentuman musik memaksa kepala bergoyang, rahang menjadi kaku, bahu bergerak kesana kemari, tangan melambai-lambai dan kaki tidak mau terdiam. Enam jam dalam kegaduhan, enam jam dalam kegembiraan, enam jam dalam khayalan, enam jam dalam kebosanan, enam jam dalam kepalsuan.
Pagi menyapa tak terasa diruangan ber-ac namun pengap dan berasap. Disudut sana ada yang tergeletak tak berdaya, diseberang sana ada yang masih bergoyang, didepan ada yang tertidur, dibelakang masih banyak yang kebingungan, dan disini ternyata sudah gelisah berteman bidadari sesaat yang terkapar dalam pelukan Arjuna dalam kepalsuan.
Maaf kawan, aku bukan orang baik. Ini adalah hidupku, hampir setiap hari aku begini. Uang tak mudah dicari, namun mudah sekali melepaskannya. Sampaikan salamku untuk mereka disana. Jangan sampai mereka mengikuti jalanku, jauhilah sudut kota dimana tempat semacam ini menjadi santapan sehari-hari.
Minggu, 17 Januari 2010
Terbangun..
Pagi ini saya tertampar angin pagi yang dingin dan lembab karna embun. Membuat saya terbangun. Ada kuda terbang di sebelah saya. Mengelus rambut saya dengan hidungnya. Ada kupu-kupu berjubah pelangi membawa sari bunga dan meletakkannya di rambut saya. Ada burung gagak merah dengan mata hijau, sedang membangun rumah jerami dengan gagak warna warni lainnya.
Saya melihat ke sekitar. Bangun. Berjalan. Menyibak semak berries. Melewati rumput tinggi berbunga putih. Ada bunga edelweiss kering. Saya mengambilnya dan menyimpannya di saku celana saya yang terbuat dari bunga sepatu. Saya berjalan lagi. Melompati rumah semut dan rumah tikus.
Saya mengangkat kepala, menatap langit. Langit berwarna biru muda, awan berwarna pink, matahari berwarna jingga. Saya merentangkan tangan. Hangatnya matahari masih belum terasa. Saya berusaha mencari dalam benak. Apa yang saya cari? Saya kehilangan. Tapi tidak ingat apa yang hilang.
Saya tidak lagi mendongak. Saya menatap ke bawah. Ada bunga putri malu, membengkok karena terinjak. Saya mengangkat kaki saya dan merasa bersalah telah menginjak bunga putri malu. Saya mengelusnya dan ah, tertusuk durinya.
Saya mengecap jari saya yang berdarah. Kembali berjalan. Melewati rambut-rambut pohon beringin. Menemukan tempat tidur dari daun pohon pisang. Dan merebahkan diri disana. Terlelap. Satu detik… Dua detik… Saya tertampar angin dingin lagi. Saya terbangun.
Ada melon tersenyum membawa lollipop merah-biru-kuning-putih. Melambai ke arah saya. Seekor kelinci melompat keluar dengan sepatu heels, menyusul kemudian tupai bertuxedo abu-abu. Saya bangun. Berjalan. Ada kerang meninggalkan rumahnya untuk rayap-rayap. Saya bertanya, apa saya kehilangan sesuatu? Mereka menjawab, tidak.
Saya berjalan ke arah cahaya merah muda. Ada bunyi musik. Saya menari sambil mendekati cahaya merah muda. Semakin dekat, semakin sadar. Semakin dekat, semakin ingat. Saya bernyanyi pelan. Tertawa. Mengingat ternyata kamulah yang hilang. Saya menari dan berlari makin cepat. Bernyanyi makin cepat dan keras. Sampai pada akhirnya saya menangis. Airmata ini terjun ke tanah, meninggalkan warna ungu pekat. Saya terus menangis sampai baju saya basah dan berwarna ungu. Saya mengejar cahaya merah muda. Dan menangis makin kencang.
Itu suara musik yang keluar dari bibirmu, seperti kotak musik. Kamu bernyanyi lagu kepergian. Mengingatkan saya kamu telah hilang. Dulu kamu pernah memberikan saya gelang bunga dandelion. Yang akhirnya saya simpan di saku celana saya. Saya mendekati kamu. Mendekati cahaya merah muda.saya ingin kamu tau bahwa saya masih menyimpan gelang dandelion pemberian kamu. Saya merogoh saku, dan yang saya temukan adalah bunga edelweiss kering. Kamu tersenyum sedih dan melambaikan tangan. Kamu berkata,
“Ini lagu terakhir dari saya untuk kamu…”
Cahaya merah muda memudar…
Kamu pergi dan saya mengejar kamu, tapi tak ada apa-apa. Semua kosong. Hanya saya dan bunga edelweiss kering di genggaman saya. Saya menangis, mengelap airmata di kedua mata saya. Dan bulu mata saya berjatuhan ke tanah. Membuat dentingan keras yang nyata dan sunyi.
*buat Ve..
Saya melihat ke sekitar. Bangun. Berjalan. Menyibak semak berries. Melewati rumput tinggi berbunga putih. Ada bunga edelweiss kering. Saya mengambilnya dan menyimpannya di saku celana saya yang terbuat dari bunga sepatu. Saya berjalan lagi. Melompati rumah semut dan rumah tikus.
Saya mengangkat kepala, menatap langit. Langit berwarna biru muda, awan berwarna pink, matahari berwarna jingga. Saya merentangkan tangan. Hangatnya matahari masih belum terasa. Saya berusaha mencari dalam benak. Apa yang saya cari? Saya kehilangan. Tapi tidak ingat apa yang hilang.
Saya tidak lagi mendongak. Saya menatap ke bawah. Ada bunga putri malu, membengkok karena terinjak. Saya mengangkat kaki saya dan merasa bersalah telah menginjak bunga putri malu. Saya mengelusnya dan ah, tertusuk durinya.
Saya mengecap jari saya yang berdarah. Kembali berjalan. Melewati rambut-rambut pohon beringin. Menemukan tempat tidur dari daun pohon pisang. Dan merebahkan diri disana. Terlelap. Satu detik… Dua detik… Saya tertampar angin dingin lagi. Saya terbangun.
Ada melon tersenyum membawa lollipop merah-biru-kuning-putih. Melambai ke arah saya. Seekor kelinci melompat keluar dengan sepatu heels, menyusul kemudian tupai bertuxedo abu-abu. Saya bangun. Berjalan. Ada kerang meninggalkan rumahnya untuk rayap-rayap. Saya bertanya, apa saya kehilangan sesuatu? Mereka menjawab, tidak.
Saya berjalan ke arah cahaya merah muda. Ada bunyi musik. Saya menari sambil mendekati cahaya merah muda. Semakin dekat, semakin sadar. Semakin dekat, semakin ingat. Saya bernyanyi pelan. Tertawa. Mengingat ternyata kamulah yang hilang. Saya menari dan berlari makin cepat. Bernyanyi makin cepat dan keras. Sampai pada akhirnya saya menangis. Airmata ini terjun ke tanah, meninggalkan warna ungu pekat. Saya terus menangis sampai baju saya basah dan berwarna ungu. Saya mengejar cahaya merah muda. Dan menangis makin kencang.
Itu suara musik yang keluar dari bibirmu, seperti kotak musik. Kamu bernyanyi lagu kepergian. Mengingatkan saya kamu telah hilang. Dulu kamu pernah memberikan saya gelang bunga dandelion. Yang akhirnya saya simpan di saku celana saya. Saya mendekati kamu. Mendekati cahaya merah muda.saya ingin kamu tau bahwa saya masih menyimpan gelang dandelion pemberian kamu. Saya merogoh saku, dan yang saya temukan adalah bunga edelweiss kering. Kamu tersenyum sedih dan melambaikan tangan. Kamu berkata,
“Ini lagu terakhir dari saya untuk kamu…”
Cahaya merah muda memudar…
Kamu pergi dan saya mengejar kamu, tapi tak ada apa-apa. Semua kosong. Hanya saya dan bunga edelweiss kering di genggaman saya. Saya menangis, mengelap airmata di kedua mata saya. Dan bulu mata saya berjatuhan ke tanah. Membuat dentingan keras yang nyata dan sunyi.
*buat Ve..
Sabtu, 16 Januari 2010
Indahnya Allah, anehnya saya..
Yaah, semoga ini bukan dianggap curhat. Karma saya Cuma dapet ilham dari Tuhan saya Yang Maha Esa dan menerjemahkannya lewat bahasa saya yang amburadul
Ternyata saya diperhatikan-Nya. Diperhatikan dan diberi inspirasi untuk tulis dalam bentuk kata. Saya rasa ini baik. Ini gak jahat. Karma pikiran saya yang baik-baik milik-Nya. Yang jahat mirip setan, tapi itu masih saya.
Kata Guru saya, Allah mencintai keindahan karena Beliau Maha Indah. Itu kenapa Al-Quran diturunkan di Arab dengan bahasa puitis tingkat tinggi.
Tapi saya senyum. Semoga Allah suka inspirasi-Nya saya buat begini. Toh ini di Indonesia. Dan ini bukan tentang nabi-nabian. Juga bukan Al-Quran. Serta bukan dari bahasa Arab.
Jadi itu saya pikir oke. Okelah Allah, ternyata selain cinta keindahan, Engkau juga cinta keanehan seperti diri saya ini yang bawa-bawa nama-Mu di dalamnya.
Ya Allah, ini tanda cinta, supaya Engkau terkenal, dikenal dan makin dikenal sebagai Tuhan Yang Terkenal.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh…
Apa kabarmu, aku baik-baik saja.
Ternyata saya diperhatikan-Nya. Diperhatikan dan diberi inspirasi untuk tulis dalam bentuk kata. Saya rasa ini baik. Ini gak jahat. Karma pikiran saya yang baik-baik milik-Nya. Yang jahat mirip setan, tapi itu masih saya.
Kata Guru saya, Allah mencintai keindahan karena Beliau Maha Indah. Itu kenapa Al-Quran diturunkan di Arab dengan bahasa puitis tingkat tinggi.
Tapi saya senyum. Semoga Allah suka inspirasi-Nya saya buat begini. Toh ini di Indonesia. Dan ini bukan tentang nabi-nabian. Juga bukan Al-Quran. Serta bukan dari bahasa Arab.
Jadi itu saya pikir oke. Okelah Allah, ternyata selain cinta keindahan, Engkau juga cinta keanehan seperti diri saya ini yang bawa-bawa nama-Mu di dalamnya.
Ya Allah, ini tanda cinta, supaya Engkau terkenal, dikenal dan makin dikenal sebagai Tuhan Yang Terkenal.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh…
Apa kabarmu, aku baik-baik saja.
Jumat, 15 Januari 2010
Curhat Ibu tentang Kakek.
Sore-sore ibu cerita tentang bapaknya,
yang ba'da maghrib nanti dikenangnya sejuta hari:
Yang ibu tahu pekerjaannya,
cuma seorang tukang panggul dikota
keluar masuk pasar
pergi pulang tak karuan
Juga,
duduk disadel becak
mengayuh jatah bulanan nyonya belanda
Kadang,
membetot bass dipanggung hajatan
mengiring simfoni keroncong kampungan
Yang ibu tahu kegigihannya,
ketika 'kartini' tenggelam
pasar baru menyala
hanya kasur yang dibawa
berharap tidur saja malam ini
esok pagi semua bisa dicari
Yang ibu tahu kedigjayaannya,
walau asma mendera
cobalah membuatnya marah
meraung bukan menjadi macan
merangkak jangan disebut hewan
Yang ibu tak kan melupakannya,
dia seorang yang dilupakan
karna meninggalkan sodara-sodara yang lupa daratan
tanah yang dijejaknya bukanlah warisan
dia terkubur diranah rantau
Sambil menebar karpet dan tikar,
ibu bukan mengusap airmata,
tapi mengangkat kepala......bangga.
yang ba'da maghrib nanti dikenangnya sejuta hari:
Yang ibu tahu pekerjaannya,
cuma seorang tukang panggul dikota
keluar masuk pasar
pergi pulang tak karuan
Juga,
duduk disadel becak
mengayuh jatah bulanan nyonya belanda
Kadang,
membetot bass dipanggung hajatan
mengiring simfoni keroncong kampungan
Yang ibu tahu kegigihannya,
ketika 'kartini' tenggelam
pasar baru menyala
hanya kasur yang dibawa
berharap tidur saja malam ini
esok pagi semua bisa dicari
Yang ibu tahu kedigjayaannya,
walau asma mendera
cobalah membuatnya marah
meraung bukan menjadi macan
merangkak jangan disebut hewan
Yang ibu tak kan melupakannya,
dia seorang yang dilupakan
karna meninggalkan sodara-sodara yang lupa daratan
tanah yang dijejaknya bukanlah warisan
dia terkubur diranah rantau
Sambil menebar karpet dan tikar,
ibu bukan mengusap airmata,
tapi mengangkat kepala......bangga.
Tuhan diatas segala Agama

Diciptakannya semesta raya beserta partikel debu kehidupan. Debu-debu yang kemudian terbawa angin , debu-debu yang akan tersiram air hujan.
Debu-debu yang akan menciptakan bintik-bintik baru kelahiran.
Tiada terdengar tawa riang mahkluk berdaun yang berkerumun di hutan sana.
Tak kutangkap jerit suara tangis mereka , saat aku terlibat dalam pemusnahan.
Tiada kasat dimata bahagia pohon-pohon yang tumbuh di halaman.
Tak terlihat pula raut wajah merintih pedih saat mereka ditebang .
Terlambatkah untuk sadar ... mengapa alam menjadi murka pada manusia
Sudah percuma-kah untuk menyadari ... bukan hanya manusia penghuni di jagat ini .
Dikeheningan yang sendiri , aku memohon pada-MU
Selamatkanlah anak-anak dan cucu-cucuku nanti ...
amien.
Debu-debu yang akan menciptakan bintik-bintik baru kelahiran.
Tiada terdengar tawa riang mahkluk berdaun yang berkerumun di hutan sana.
Tak kutangkap jerit suara tangis mereka , saat aku terlibat dalam pemusnahan.
Tiada kasat dimata bahagia pohon-pohon yang tumbuh di halaman.
Tak terlihat pula raut wajah merintih pedih saat mereka ditebang .
Terlambatkah untuk sadar ... mengapa alam menjadi murka pada manusia
Sudah percuma-kah untuk menyadari ... bukan hanya manusia penghuni di jagat ini .
Dikeheningan yang sendiri , aku memohon pada-MU
Selamatkanlah anak-anak dan cucu-cucuku nanti ...
amien.
Aku Terhenyak..
Kamis, 14 Januari 2010
Pantun Koruptor.
(Dibacakan WS Rendra ditengah Iwan Fals dan kawan-kawan menyanyikan lagu HIO dalam konser Merdeka yang berlangsung di Leuwinanggung 16 Agustus 2008)
Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi
Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari
Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan
Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga
Hio… Hio… Hio… Hio…
Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan
Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?
Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga
Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri
Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…
Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…..
Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi
Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari
Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan
Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga
Hio… Hio… Hio… Hio…
Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan
Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?
Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga
Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri
Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…
Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…..
Capek Deh...
Bila sesuatu yang baik dianggap buruk. Bila sesuatu yang sudah dikatakan Allah SWT masih saja dicari-cari kesalahannya yang tidak akan pernah ditemukan. Bila tindakan yang dicontohkan Rasullullah SAW masih saja diperdebatkan. Dan segudang alasan alasan itu hanya untuk nama kebebasan. Kebebasan made in siapa?.
Lalu yang tidak ada kepentingan selalu ikut-ikutan. Berlomba agar di cap sebagai pahlawan pembela ketidakadilan. Berkoar-koar di jalanan selalu ngotot meyakinkan rakyat bahwa ocehannya yang paling benar. Memutar balikkan opini sehingga orang yang pinter terkesan bodoh. Seolah yang benar itu selalu salah. Untuk apa ?. Untuk sekian lembar Rupiah atau Dollar? Atau hanya untuk menyenangkan majikan yang diagung-agungkan?
Mengapa tidak mau belajar? Mengapa lebih suka menelan mentah-mentah propaganda yang disebarkan? Mengapa tidak membaca hati nurani sendiri? Mengapa tidak malu pada diri sendiri?. Mengapa ini dipandang sebagai sebuah perlombaan dimana lawan harus kalah dan mati? Lalu pemenangnya adalah yang bisa menancapkan demokrasi sinting didada sang mayat?
Kemudian yang benar disalahkan. Diciptakan image yang mengakar bahwa paham mereka demikian brutalnya. Dan anak cucu mereka menerima keadaan ini dengan pongah tanpa pernah mengerti yang sebenarnya terjadi. Melupakan kenyataan yang ada. Terbius oleh surga dunia yang hanya seupil semut. Lantas mereka menyuruh kita diam dan jangan hiraukan. Mereka katakan kalau tidak suka ya jangan diterima.
Dibalik keadaan yang selalu dan selalu diputar-putar sehingga membuat yang Halal dan Haram menjadi tidak ada bedanya.... ternyata kepala mereka masih saja menoleh ketika sebuah uang logam jatuh di trotoar. Capek deh.... tapi... jangan lupa... kita disini tidak akan pernah diam, Insya Allah.
Lalu yang tidak ada kepentingan selalu ikut-ikutan. Berlomba agar di cap sebagai pahlawan pembela ketidakadilan. Berkoar-koar di jalanan selalu ngotot meyakinkan rakyat bahwa ocehannya yang paling benar. Memutar balikkan opini sehingga orang yang pinter terkesan bodoh. Seolah yang benar itu selalu salah. Untuk apa ?. Untuk sekian lembar Rupiah atau Dollar? Atau hanya untuk menyenangkan majikan yang diagung-agungkan?
Mengapa tidak mau belajar? Mengapa lebih suka menelan mentah-mentah propaganda yang disebarkan? Mengapa tidak membaca hati nurani sendiri? Mengapa tidak malu pada diri sendiri?. Mengapa ini dipandang sebagai sebuah perlombaan dimana lawan harus kalah dan mati? Lalu pemenangnya adalah yang bisa menancapkan demokrasi sinting didada sang mayat?
Kemudian yang benar disalahkan. Diciptakan image yang mengakar bahwa paham mereka demikian brutalnya. Dan anak cucu mereka menerima keadaan ini dengan pongah tanpa pernah mengerti yang sebenarnya terjadi. Melupakan kenyataan yang ada. Terbius oleh surga dunia yang hanya seupil semut. Lantas mereka menyuruh kita diam dan jangan hiraukan. Mereka katakan kalau tidak suka ya jangan diterima.
Dibalik keadaan yang selalu dan selalu diputar-putar sehingga membuat yang Halal dan Haram menjadi tidak ada bedanya.... ternyata kepala mereka masih saja menoleh ketika sebuah uang logam jatuh di trotoar. Capek deh.... tapi... jangan lupa... kita disini tidak akan pernah diam, Insya Allah.
Senin, 11 Januari 2010
Dalam Rumah Dalam Penjara Tiada Beda
Ini memang rahasia umum, semua tahu. Sering terekspose lalu tenggelam dan sekarang terekspose lagi dan rasanya semakin dibesar-besarkan karena suasana politik yang memanas. Penonton senang, media juga senang.
Bandit kaya meski dipenjara tapi hidupnya bebas. Maling kelas coro, kalau dipenjara benar-benar tersiksa. Tuh lihat, koruptor kelas kakap... memang dia ketangkep basah dan dipenjara. Tapi kondisi selnya seperti hotel bintang lima. Ada lagi anak jendral yang terbukti merencanakan pembunuhan, tapi dia bebas pergi kemana-mana dan dapat potongan masa tahanan bertahun-tahun dari hukuman yang dijatuhkan.
Jadi ingat lagunya Iwan Fals di tahun 80-an yang berjudul 3 Bulan... Tahun segitu Iwan Fals sudah berani menyindir kondisi peradilan disini. Salah satu kalimat dalam lirik lagu itu 'dalam rumah dalam penjara tiada beda' seperti membuktikan pada masa itu kondisi penjara untuk orang kaya/orang kuat memang sudah di istimewakan.
Dan sekarang? semakin terbukti kan?... Ternyata uang tetap segalanya..
Jangan-jangan para koruptor atau bandit kaya itu kalau masuk neraka masih berpikiran bisa menyuap malaikat penjaga Neraka ya? Mungkin mereka berpikiran mental penjaga Neraka seperti mental penegak keadilan di negeri ini yang haus dan rakus dengan fulus.
Syafiq Baktir
iwanfalsmania.blogspot.com
---------------
Tiga Bulan
Iwan Fals
Tiga bulan lamanya kau dalam penjara
Teman
Seratus butir telur ayam di pasar
Hilang engkau ganyang
Palu keras bapak hakim berbunyi tegas
Terbayang
Bibir sumbing gigi rompal dapat kupastikan
Malah engkau tawan
Tiga bulan lamanya kah tuan ditahan
Nikmat benar
Seratus juta uang negara terbang melayang
Masuk kantong tuan
Palu kayu bapak hakim berbunyi pelan
Terdengar sumbang
Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman
Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman
---------------
Bandit kaya meski dipenjara tapi hidupnya bebas. Maling kelas coro, kalau dipenjara benar-benar tersiksa. Tuh lihat, koruptor kelas kakap... memang dia ketangkep basah dan dipenjara. Tapi kondisi selnya seperti hotel bintang lima. Ada lagi anak jendral yang terbukti merencanakan pembunuhan, tapi dia bebas pergi kemana-mana dan dapat potongan masa tahanan bertahun-tahun dari hukuman yang dijatuhkan.
Jadi ingat lagunya Iwan Fals di tahun 80-an yang berjudul 3 Bulan... Tahun segitu Iwan Fals sudah berani menyindir kondisi peradilan disini. Salah satu kalimat dalam lirik lagu itu 'dalam rumah dalam penjara tiada beda' seperti membuktikan pada masa itu kondisi penjara untuk orang kaya/orang kuat memang sudah di istimewakan.
Dan sekarang? semakin terbukti kan?... Ternyata uang tetap segalanya..
Jangan-jangan para koruptor atau bandit kaya itu kalau masuk neraka masih berpikiran bisa menyuap malaikat penjaga Neraka ya? Mungkin mereka berpikiran mental penjaga Neraka seperti mental penegak keadilan di negeri ini yang haus dan rakus dengan fulus.
Syafiq Baktir
iwanfalsmania.blogspot.com
---------------
Tiga Bulan
Iwan Fals
Tiga bulan lamanya kau dalam penjara
Teman
Seratus butir telur ayam di pasar
Hilang engkau ganyang
Palu keras bapak hakim berbunyi tegas
Terbayang
Bibir sumbing gigi rompal dapat kupastikan
Malah engkau tawan
Tiga bulan lamanya kah tuan ditahan
Nikmat benar
Seratus juta uang negara terbang melayang
Masuk kantong tuan
Palu kayu bapak hakim berbunyi pelan
Terdengar sumbang
Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman
Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman
---------------
Langganan:
Postingan (Atom)