Sabtu, 15 Mei 2010

METAMORPHED (selamat tahun baru yang tak pernah terlambat )

Angka di kalendar itu terasa berdetik bak jam dinding.
Sesaat nafasku sesak menyadari waktuku tinggal sedikit.
Hhhhhhh…..

Pandanganku menerawang,
Entah mencoba dengan sia-sia melihat ke masa depan,
atau sekadar menonton tayangan yang telah lalu di benak sendiri.

Seorang manusia, setiap hari selalu mengambil langkah, coba mencapai tujuannya
meskipun tak pernah tahu apakah akan sampai atau tidak
Dimulai dari langkah pertama yang ia ambil
manusia tak akan pernah berhenti coba mencapai tujuannya.

Padahal kita tahu, satu-satunya yang pasti di langkah manusia adalah ketidakpastian.
Oleh karena itulah manusia memiliki harapan.
Sebuah abstraksi yang diciptakan sendiri demi mempertahankan ayunan langkah.
Yang selalu diinginkan untuk lebih baik dibanding yang sebelumnya.

Mungkin itu sebabnya setiap manusia mengambil momen-momen tertentu untuk menggantungkannya.
Momen seperti tahun baru.
Kebanyakan orang menggantungkannya di tgl 1 Januari.
Saudara-saudara kita yang keturunan Cina di tgl,14 February.
Saudara-saudara kita beragama Islam di tgl.7 Desember.
Terserah.
Setiap orang punya kebebasan memilih momennya.

Termasuk diriku.
Kebetulan saja aku memilih tanggal 16 Mei 2010, sebagai tahun baruku.
Sebagai momen untuk menggantung harapan setinggi langit,
yang akan menerangi langkahku beberapa waktu ke depan
yang akan mengiringiku demi mencoba mencapai tujuan
yang semoga menjadi lebih baik daripada sekarang.

Selamat tahun baru teman-teman.
Have a nice METAMORPH
Tolong doakan aku semoga ber-METAMORPHOSHEQUE…

Senin, 03 Mei 2010

Hipnotis

Ngeliat Uya Kuya dan Romi Rafael ngehipnotis orang
dan nyuruh orang itu berbuat tolol
miris banget rasanya
kok ya tega-teganya bikin acara TV kayak begitu
ngggoblok-goblokin dan jadiin bahan ketawaan seindonesia
ngeraup untung dari kemaluan orang lain

Yang lebih miris lagi adalah saat menyadari
kayak begitulah tololnya kita saat dihipnotis

Gak perlu seorang Uya Kuya dan Romi Rafael
cukup selembar Bung Karno dan Hatta
atau sehelai WR Soepratman
kadang kita bisa-bisanya dihipnotis

Persis plek ketiplek
kita dipermalukan
dianggep gak punya moral
gak punya martabat
jual diri
kayak pelacur mahakam
kayak Evie Juling sang urban legend 80-an

Dan sebentar lagi kita bakal menuai
hasil hipnotis baru
tanpa Romi Rafael
tanpa Uya Kuya
tanpa Soekarno-Hatta
tanpa W.R. Soepratman

Cukup seuntai senyuman jendral

Layaknya senyuman jendral di awal 60-an
yang nggotong kita ke swasembada palsu
ke masa kebebasan yang bertanggung jawab
(siape yang bebas, siape yang tanggung jawab??)
ke dalem ekonomi kekeluargaan
(keluarga siapeee!!??? >-< )
ke dalem era warna dunia hijau - kuning
(dunia hitam kaleeeeeeeeee!!)
ke saat harga-harga DISESUAIKAN
(dinaikin, goblokkkkkkkk!!!!)

selama 3 dasawarsa

Kisah hitam yang terlupakan
kisah klasik yang meromantis lagi
kisah hipnotis yang tersamarkan
dan itu semua pilihanmu
duhai bangsa pemaaf

Selamat datang hipnotis baru...

Kamis, 29 April 2010

KOMPROMI

Sebuah pertengkaran,
biasanya kalo ngelibatin suami dan istri, bisa karena suaminya tiap hari pulang malem dan weekend tetep ngantor.
Atau karena istrinya memang kurang pengertian dengan kerja keras suaminya banting tulang.

Kalo ngelibatin cowok dan cewek yang lagi pacaran,
mungkin karena cowoknya mabuk2an ampe pagi tumbang ditraktir klien gak kontek2 sampe jam 5 pagi,
atau karena si cewek sibuk lembur mulu ngerjain conflicting brand cowoknya.

Kalo ngelibatin boss dan bawahannya, bisa karena si boss dirasain terlalu nggenjot waktu kerjanya.
atau karena si bawahan gak punya manajemen time yang bagus.

Kalo dua orang temen baik?
"Elo kan temen lama gue kok nggak ngerti mau gue sih!!?"
atau
"Justru elo yang sebagai temen lama kok masalah gini aja marah!!"

Pertengkaran adalah moment of truth dalam sebuah hubungan.
Batas antara bencana atau kabar baik.

Manajemen pertengkaran adalah manajemen yang paling sulit dipelajari.
Manajemen perusahaan atau manajemen keuangan mah kagak ada apa2nya!!
Karena yang dilibatkan bukan cuma rasio dan intelektualitas.
Tapi juga air mata, makian, darah, dan doa.

Di saat alam mengenal sore di antara siang dan malam,
juga fajar di antara malam dan pagi
(atau justru siang di antara pagi dan sore -- malam di antara sore dan fajar!!??)
hangat di antara panas dan dingin,
pantai di antara darat dan laut,

di saat yang sama ibu-ibu mengenal AA Gatot dan Elsa Syarief di antara Adjie dan Reza,
rakyat mengenal kompensasi pendidikan dan kesehatan di antara subsidi BBM dan beban BBM,
dan ekonom mengenal Break Event Point di antara profit dan loss.

Tapi mengapa betapa sulitnya manusia mengenal kompromi di antara dua kutub ego?

Tanyakan pada rumput bergoyang yang ada di antara tanah dan langit....

Senin, 19 April 2010

WHAT INDONESIAN PEOPLE NEED FOR THE NEXT 5 YEARS?

Apa yang bisa diharapkan dari para presiden-presiden yang maju dengan percaya diri mengharapkan kemenangan melalui ajang pemilihan Presiden se-Indonesia? Kenapa bisa kita percaya begitu saja kata-kata mereka? Apa mungkin lihat muka yang eksotik dengan hiasan lingkaran hitam di sudut bawah dagu? Atau mungkin lihat gelar sebagai pemimpin di provinsi tempat kelahirannya yang menyebabkan darahnya disebut biru? Atau mungkin juga karena kebetulan visinya yang begitu perhatian dengan rakyat kecil yang selama ini teriak-teriak minta dimakmuri? Ataauuu... Karena alasan simpel dan tanpa repot yang bertema ,’Lanjutkan!’?

Kerja siapapun pasti bagus asal benar dan jujur. Asal para “kaki-kaki”nya juga ikutan benar dan jujur seperti atasannya. Liburan kemarin gue main ke kampung teman gue. Malu kalau disebut. Nanti ketahuan bobrok milik siapa, dan ketahuan dimana bisa ditemukan kebobrokan tersebut.

Ada banyak promosi-promosi partai dan para calon legislatif yang mendekorasi jalanan dan membuat pemandangan menjadi tidak seperti yang turis-turis inginkan saat mereka menghabiskan duitnya untuk pergi ke kampung teman gue itu.

Di suatu pertigaan, billboard besar terpampang dengan gagahnya. Oh, bagus ini. Strategis. Gue lihat ke arah gambarnya. Ups, kenapa di kupingnya ada hiasan perempuan? Yang sama sekali tidak membuat ia tampak ganteng, tidak membuat ia terlihat dapat dipercaya untuk menjadi bagian dari lembaga legislatif, dan tidak. Tidak, dia bukan perempuan. Tapi iya. Iya, dia terlihat seperti preman desa.

Ok, tidak masalah... Selagi Charlie ST12 juga pakai anting-anting, gue rasa bolehlah ini disebut sebagai ikutan tren.

Di jalan berikutnya di hari berikutnya, gue makan di suatu tempat makan lesehan. Mmm... sebenarnya disebut lesehan juga tidak tepat berhubung warung ini buka di tempat parkiran toko yang sudah tutup, dan gue, juga para pembeli yang lainnya, mau tidak mau-suka tidak suka, duduk di parkiran tersebut beralaskan tikar.

Menunggu makanan, gue melihat-lihat spanduk dan billboard untuk kali kedua. Ow, kali ini ada yang jumlah fotonya 3. Yang satu foto Pak Capres wakil dari partainya, yang satu lagi foto dia, dan satu lagi gue juga kurang tau itu foto ibunya siapa. Yah, mungkin itu ibunya. Dia sayang ibu. Baguslah. Hormati ibu, berarti hormati rakyat juga.

Di hari berikutnya lagi, di sudut jalan yang berbeda, gue melihat poster. Hmm... Ini rupa-rupanya seperti poster iklan untuk promosi tempat main billiard baru. Kebetulan gue mau ajak teman-teman gue main billiard. Eh, setelah gue baca dan gue sadar-sadarkan diri. Ini ternyata foto caleg. Bingungnya gue, kenapa dia harus pose sambil main billiard? Oh, mungkinlah jikalau ia menang nanti, kita yang dukung dia bisa ditraktirnya main billiard. Bolehlah, gue contreng dia nanti.

Entah di hari ke berapa gue bersenang-senang, gue terusik lagi dengan gambar-gambar caleg itu. Untung kali ini terusik yang bisa bikin gue ketawa lebar. Biasanya di dalam promosi caleg itu, ada foto si caleg dan si capres. Tapi yang ini kok beda?
Ini foto si caleg dan si Ronaldo. Iya, Christiano Ronaldo. Yang pria pasti tau siapa dia, karena seringnya nonton sepak bola. Yang perempuan juga pasti tau siapa dia, saking keseringan diajakin pacarnya nonton sepak bola.

Apalah maksud caleg satu ini. Gue tidak tau dan tidak yakin apa mungkin capresnya telah melakukan koalisi dengan Ronaldo demi menjaring supporter, gue benar-benar tidak tau.

Weleh, kali ini gue terusik lagi. Karena yah, apalagi kalau bukan billboard caleg? Caleg satu ini berpose berduaan sama ayamnya. Mungkin dia penjual ayam. Oh, tidak apa-apa kalau benar alasannya karena itu. Tapi bagaimana kalau karena hobinya yang doyan mengadu ayam?

Rakyat mau dikasih makan apa? Sementara dia sibuk kasih makan ayamnya dan cari strategi supaya ayamnya menang adu ayam. Wah, ini kejahatan. Tapi mau bilang apa?

Hari-hari gue selanjutnya masih normal dan seharusnya akan tetap normal jika teman gue tidak bercerita tentang mantan bapak kost-nya yang ikutan jadi caleg. Duh, kenapa gue harus tau ini semua?
Dengar-dengar bapak satu ini doyan judi. Gue kurang jelas judi jenis apa. Tapi gue yakin dosanya tetap sama. Nah, ketika si bapak ini kehabisan uang karena kalah judi, dia pergi ke kost-kostan miliknya untuk menagih uang sewa. Meskipun masih jauh hari yang disepakati untuk melakukan pembayaran, dia tidak peduli. Ini yang membuat beberapa penghuni kesal dan termasuk pula teman gue yang satu itu. Mungkin karena itu juga dia berhenti nge-kost disana.
Hebatnya, dia dipilih menjadi caleg. Hallo? Apa ada akal sehat di kepala anda? Gue ingin bicara dengan akal sehat anda.

Memikirkan betapa rusaknya pemilihan caleg ini membuat gue mudah saja untuk bergabung dengan para golputer. Bagaimana tidak? Gue tidak akan menyerahkan negeri gue ini untuk diobrak-abrik oleh orang-orang seperti mereka. Kenapa? Mereka mau marah ke gue? Marah saja, toh gue tidak peduli. Sama seperti mereka tidak peduli terhadap negara gue.

*Fin

Rabu, 14 April 2010

Koja

Sebelum petang datang 14 april 2010 koja meraung
lemparan batu dan desingan peluru

darah memanggil hujan
membilas muka dari luka

batu melawan peluru
darah menetap di batu

luka baru



14April2010

Selasa, 06 April 2010

Hargaku Harganya

Pertama kali denger ada taneman harganya puluhan bahkan ratusan juta komentar gue adalah:

“BUSET DAH! Emang tuh taneman berbuah mobil, apa gimana siyh !!!???”

Masalahnya kalo itu taneman langka kayak Rafflesia yg cuman tinggal beberapa biji di dunia sih, masih masuk di akal gue.
Tapi ini enggak.
Bwanyakkkk bangettt!
Mending bagus lagi bentuknya. >:-(

Yap.
Yang gue omongin memang sang ANTHURIUM yg waktu itu emang lagi jadi buah bibir.
Setelah era kejayaan Aglonema dan Addenium, taneman ini tiba-tiba jadi primadona baru. Bahkan —konon (mau dibalik terserah, Dik! ;P )—ada yang tembus di harga 1 M!

Gak kurang Kompas di dua edisi Minggunya berturut2 ngeliput khusus soal Anthurium.
Tiba-tiba majalah-majalah khusus taneman bermunculan.
Tiba-tiba majalah Trubus diburu bak majalah Playboy!
Tiba-tiba TOKET Andhara Early kalah seksi dibanding TONGKOL Jemanii Anthurium.

Tiba-tiba KISAH CINTA Maia Ahmad (iye iye sekarang namanya Maya Estianty!) kalah seru sama GELOMBANG CINTA Anthurium.

(FYI: Jemanii & Gelombang Cinta adalah salah dua dari sekian nama jenis Anthurium yang populer)

Jenis maling terpopulerpun berubah: Maling Taneman!
Udah gak jaman lagi CURANMOR, yang ngetrend sekarang CURHATAN (Pencurian Hasil Tanaman—halah!)

Semua gara-gara Anthurium!

Tapi ngomongin soal harga gila-gilaan di sebuah hal yang sifatnya hobby sebenernya bukan barang baru.
Burung Bekisar, ikan Arwana, pernah mengalami era keemasan jadi primadona yang diuber-uber.

Membandingkan harga sebuah taneman atau hewan yang harganya sebanding dengan mercedes keluaran terbaru, memang nyaris gak masuk di akal gue.
Tapi seorang temen gue tiba-tiba protes:

“Yah gak usah heran dong, Her. Mobil kan bikinan manusia! Sementara taneman dan hewan kan ciptaan Tuhan….”

Monyet.
Bener juga ya…

Seduniawi itu kah pola pikir gue?
Sehingga memberhalakan barang dan menganggap barang harusnya lebih mahal daripada makhluk hidup.
Eits…
Jangan salahin gue dong.
Salahin sekitar gue juga yang ngebentuk pola pikir gue.

Kemaren nonton TV ada bayi dijual cuman seharga 15 juta . Mobil bekas tahun 90-an aja harganya masih 2x lipetnya kaleeee.
Nyawa orang dewasa cuman dihargain lima ribu perak. Rebutan duit segitu, ampe bacok2an? Banyak beneuuurrrr kasusnya!!
Belum lagi ngomong “nyawa” ratusan keluarga yang dihargai nol rupiah sama Lapindo.
Atau nyawa orang-orang tua dan miskin yang melayang gara-gara keinjek2 pas antri bantuan langsung tunai alias BLT (ngomong-ngomong apa kabar nih BLT ya? BBM gak turun tapi BLT nya kok lenyap??? Katanya dulu pengalihan subsidi BBM!!!!??)

Tapi temen gue juga langsung motong:

“Ah gak usah belaga bego deh lo…. sok pola pikirnya dipola jadi lebih menghargai barang segala! Buktinya elo minta gaji lo naik mulu….Harga seorang Herry kan harga sebuah makhluk hidup bukan?”

Monyet.

---


Dibuai mimpi-mimpi
menggoda mereka
jangankan cari surga dunia
neraka duniapun ada

- Lenggang Lenggok Jakarta ~ A. Meriem Matalatta (1986)

Senin, 05 April 2010

Membaca Wajah

aku membaca wajahku dalam secangkir kopi hangat
terlalu muda untuk bercerita tentang masa muda
sungguh, tak bisa kubaca masa muda saat itu

yang terbaca hanya mimik kuyu
sayu termakan waktu
sederet masa lalu

Selasa, 30 Maret 2010

Kisah Anta dan Prota

Apa salah satu plot favorit film Hollywood?
Tokoh antagonis dibikin abu-abu.
Kadang tokoh antagonis diposisikan sebagai korban, jadi meskipun antagonis tapi audiens dipaksa berempati. Misalnya Catwoman atau Penguin di film Batman.
Atau kadang tokoh antagonis ini justru punya kedekatan dengan tokoh protagonisnya. Misalnya Hannibal Lecter di Silence of the Lambs.

Apa salah satu plot favorit sinetron Indonesia?
Tokoh antagonisnya dibikin item seitem-itemnya, tokoh protagonis putih seputih-putihnya.
(Jadi inget tagline Hugos: “Tempat Party se-party-party-nya” =P )

Misalnya di sinetron ala Hidayah (Hikayah? Habibah? Ah whatever). Tokoh Istri berjilbab yang suaminya miskin, trus diajak ama temennya ngelacur. Pas ketauan dan dinasehatin sama Pak Ustadz, malah si Istri marah2 dan maki-maki


“AHHH PAK USTADZ INI NGAPAIN SIH IKUT CAMPUR URUSAN ORANG. Emangnya kalo kita kelaparan Pak Ustadz mau ngasih makan kita!!??? Udah sana Pak Ustadz ke mesjid aja sana! Sholat gih!”

"Astaghfirullah…"
(Yang ngucap ini selain tokoh pak Ustadz di sinetron itu, juga gue--Gue lebih karena shock kok ada ya penulis skenario setega ini sama karakter ciptaannya…)

Atau ada di sebuah sinetron non religi, yang ceritanya: Bapak-Ibunya itu gak punya uang sementara anak-anaknya lumayan kaya. Si anak ngomong gini,

“Bapak dan Ibu itu udah gak bisa ngasih warisan, malah ngerongrong kita. Orang tua yang baik kalo meninggal itu ngasih warisan! Lagian bapak dan ibu katanya orang yang taat beragama, berarti udah biasa puasa dong!! Tahan laper dikit kenapa sihh!!?”

Tokoh Bapak, Tokoh Ibu, dan gue: “Astaghfirullah…”

Entah apa yang ada di otak penulis skenario sinetron Indonesia.
Mungkin, mereka nganggep orang Indonesia itu bodoh, jadi kalo dikasih abu-abu, bingung yang mana antagonis yang mana protagonis.

Tapi…jangan-jangan emang bener ya?
Jangan-jangan emang begitu karena orang-orang Indonesia di kehidupan sehari-hari emang cenderung dikasih tontonan realitas yang serba abu-abu, jadi susah mbedain antagonis dan protagonis.

Ada (mantan) Narapidana jadi ketua PSSI, siap ndodosin duit APBD-APBD katanya demi “tontonan rakyat” bernama sepakbola.

Ada Menteri yang ‘tangannya bersimbah darah’ korban kecelakaan transportasi laut, darat, dan udara, tapi mukanya yang kucel dan rambutnya yang putih bikin dia dikasihani.

Ada Menteri yang bikin kelaparan ribuan orang, tapi karena dia “Beragama”, jadinya gak terlalu dihujat. (Sama dong sama SPG-SPG dari Univ Moestopo Beragama… :p )

Tapi gue rasa enggak juga.

Buktinya ada orang-orang yang konsisten tetap dengan statement-statement antagonisnya ala sinetron.

Misalnya, ada menteri cameh yang ngurusin kesejahteraan rakyat tapi :
Pas harga elpiji naik, dia nyuruh orang pake kompor minyak
Pas harga minyak naik, dia nyuruh orang pake kompor briket batubara
Pas perusahaannya nenggelemin puluhan desa di sidoarjo, dia bungkem
Terakhir pas Jakarta tenggelem, dia bilang media massa membesar2kan masalah seolah-olah Jakarta mau kiamat
(pak…buat yang mati dan hartanya ludes dibawa air itu namanya kiamat kaleee…)

atau ada Gubernur yang tahun 2002, daerah yang dia pimpin tenggelem, dia bilang, “Siapapun gubernurnya, saya yakin gak ada yang bisa nyelesein masalah banjir ini!”(terus kenapa elo pak yang jadi gubernur? Kenapa gak Mas Rony tukang nasi goreng depan rumah gue? Sama-sama gak bisa ngatasin banjir kan?)

Tahun 2007 pas jakarta tenggelem (lagi) dia bilang dia gak bisa ngatasin sendiri, dan katanya emang ada daerah-daerah Jakarta yang letaknya rendah jadi WAJAR kelelep. (hellooooo…Bapak gubernur kan? Helloooo…Belanda letaknya di bawah permukaan laut bukan, pak?)

Jadi berterimakasihlah pada Sutiyoso dan Aburizal Bakrie.
Karena berkat mereka, audiens kita udah dikasih contoh tokoh antagonis itu kayak apa. Jadi mereka gak bodoh lagi. Jadi sebenernya gak perlu lagi penulis skenario sinetron menghitamputihkan permasalahan. Malah jadi gak membumi dengan keseharian.

Gak se-membumi skenario Ekskul yang jadi film terbaik FFI 2006…

Senin, 29 Maret 2010

Pelajaran Yang Tersisa ( Kisah 2006 )

Di sebuah kelas Fakultas Hukum, Marcello Lippi maju ke depan dengan cerutu di mulutnya.
Dia bicara panjang lebar tentang arti sebuah kerja keras.
Tentang proses panjang menuju sebuah tujuan.
Seluruh isi kelas manggut-manggut.
Mereka tak berani menyangkal kebenaran isi kuliahnya hari itu.
Mereka semua menjadi saksi keberhasilan tim Italia yang dibentuknya dengan solid.
Mulai dari melibas Jerman di partai pemanasan di Firenze, dengan skor telak 4-1, sampai di laga pamuncak mengandaskan Perancis 6-5 lewat adu penalti di Berlin, tim Italia tak pernah terkalahkan.
Determinasi, strategi, permainan cantik menyerang diramu dengan cattenacio, menjadi resepnya.
Dan Piala Dunia di tangannya, menjadi buktinya.

Setelah itu Zinedine Zidane maju ke depan.
Kali ini seisi kelas manggut-manggut mendengar isi kuliah Zizou tentang kehidupan seorang manusia.
Dia bicara tentang perjalanan panjang hidup seorang manusia yang penuh dengan pasang surut.
Tentang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang tak pernah sesempurna penciptanya.
Lagi-lagi mereka tak berani menyangkal kebenaran isi kuliah itu.
Mereka semua memelototi rekaman perjalanan roller coaster Zizou, mulai dari Girondins de Bordeaux, Juventus, Real Madrid.
Mulai Dari WC 1998, 2002, sampai 2006.
Keseimbangan skill dan mental menjadi resep kehidupannya.
Baik dan buruk adalah hasil dari komposisinya.
Golden Ball 2006 dan Kartu Merah adalah buktinya.

Giliran Horacio Elizondo maju ke depan.
Dia bicara soal keadilan.
Dia bicara soal keberanian.
Dia bicara soal esensi pepatah yang sudah lama mereka kenal: "Berani karena Benar"
Dan sekali lagi mereka manggut-manggut.
Mereka memangguti performa Elizondo di tengah kritik buruknya kinerja wasit di WC 2006.
Mereka memangguti keberaniannya bersikap adil, tanpa pandang bulu.
Siapapun bersalah, meskipun bintang seperti Rooney atau dewa seperti Zizou, ya harus dihukum.

Kuliah pun selesai.
Tiga tamu kehormatan, Mendiknas Bambang Sudibyo, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan Wapres Jusuf Kalla pun dipersilakan maju ke depan untuk menyampaikan satu patah dua patah kata.
Sebelum nantinya memukul gong, sebagai penutupan secara simbolis, kuliah singkat tersebut.

Mereka bertiga kemudian bergantian menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tiga dosen tamu tersebut.
Sambil bergantian memberi petuah yang intinya sama: agar para mahasiswa memahami isi kuliah tersebut, mengambil esensinya yang begitu berharga, sebagai pijakan untuk kehidupan dan masa depan para mahasiswa sendiri.

Seorang mahasiswa berdiri.
"Maaf bapak-bapak terhormat.
Kalo benar bapak setuju dengan esensinya pak Lippi, Pak Zidane dan Pak Elizondo, lalu mengapa itu tidak keliatan dr pemikiran dan perilaku Anda bertiga ya?"

Kelas bergemuruh.

"Kebijakan Mendiknas mengadakan Ujian Nasional sama sekali tidak menghargai kerja keras anak-anak sepanjang tahun.
Hanya dalam sehari kerja keras setahun hilang begitu saja.
Hidup matinya seseorang bisa dibalik semudah membalik kertas.
Lihatlah Pak Zidane.
Kesalahannya di partai final, tidak memupus kerja kerasnya sepanjang turnamen.
Dia masih tetap terpilih sebagai Pemain terbaik World Cup 2006.

Ucapan Bapak Wapres yang mau menjadikan janda-janda di daerah puncak menjalankan kawin kontrak supaya menarik wisatawan TimTeng, sangat-sangat tidak memanusiakan manusia.
Pemerintah tak mau kerja keras menyediakan mereka lapangan kerja, dan lebih memilih cara instant dengan melacurkan mereka.
Pemerintah tak menganggap mereka manusia, karena bukan saja tak berusaha meningkatkan skill mereka, tapi juga justru memarjinalkan mental mereka.

Keputusan Pak Ketua MA yang tidak mau datang sebagai saksi di pengadilan Tipikor tidak menggambarkan keadilan.
Merasa dirinya sebagai Dewa yang tak tersentuh.
Boro-boro dikartumerah, diperiksapun tak mau.
Sebaliknya Pak Ketua MA malah "memanusiakan" hakim dengan cara menerbitkan peraturan MA yang membolehkan hakim menerima pemberian..."

Kelas hening.
Semua orang manggut-manggut.
mahasiswa tadi maju ke depan, mengambil pemukul gong.

"Pelajaran sudah selesai..."

GOOOOONGGGGG!!!!!

Jumat, 26 Maret 2010

SIAP

Seorang teman ngomentarin keparnoan gue gara-gara ngeliat di berita tentang anak umur 6 tahun yang jatoh 4 lantai ke bawah di ITC Mega Grosir—ada rekaman CCTV-nya pula!!

Kata temen gue:
“Semua orang harus udah siap ngadepin kematian dirinya maupun kematian keluarganya, toh someday semua orang pasti ngadepin itu. Itu juga yang saya ajarkan ke anak2 saya dari sekarang, kalo-kalo someday mereka harus kehilangan saya”

Exact wordsnya yang temen gue omongin, gue lupa sih, tapi kira2 “something like that” lah.

Salut banget.

Boro-boro ngajarin orang lain, nyiapin diri aja kadang-kadang gue sulit.
Boro-boro nyiapin soal kematian, soal yang lebih remeh aja kadang gue gak sanggup.

Di minggu yang sama, seorang sahabat gue baru kehilangan Bapaknya.
Beliau terserang stroke, dan dalam dua minggu kondisinya terus ngedrop dan akhirnya meninggal. Padahal sebelum-sebelumnya beliau sehat-sehat aja.

“Kaget juga sih, Her”
“Iyalah, Win…mana ada sih orang yang siap ngadepin kayak begini…”

Betul, saat ngucapin itu gue gak mikir apa-apa, kecuali memang berniat membesarkan hati seorang sobat.
Tapi abis itu gue mikir juga, terus kapan ya orang itu bisa siap?
Siap untuk kejadian apapun, lho ya…bukan cuman kematian.
(Tapi emang biasanya orang lebih gak siap menghadapi kejadian yang sifatnya “negatif”--perlu tanda petik untuk pre-emptive adanya debat soal value negatif dan positif he he )

Terus apa dong yang bisa bikin kita siap?
Apakah dengan tauk bahwa sebuah kejadian PASTI akan TERJADI, maka kita harus udah siap, seperti kata temen gue di awal tulisan?

Kadang pas lagi bawa motor, gue suka gak SIAP berhadapan dengan angkot nyelonong tiba tiba nyalip belok kiri-- meski gue dah tau yang kayak gini PASTI TERJADI, karena para sopir angkot itu pada buta rambu lalu lintas!

Kadang gue masih suka gak SIAP ngeliat timnas PSSI ditekuk sama timnas negara lain, padahal itu udah jadi kisah klasik yang PASTI TERJADI di sebuah timnas yang diketuai sama mantan koruptor dan ketua Komisi Disiplinnya ditengarai terima suap!

Kadang gue masih suka gak SIAP kalo ada tagihan dateng, padahal udah jelas itu PASTI TERJADI lha wong namanya aja tagihan bulanan!

Kadang gue masih suka gak SIAP liat rakyat diinjek-injek, didzolimi, ditembak, padahal di negara yang kata guru gue jaman SD adalah negara hukum ini, kejadian kayak gini PASTI TERJADI sehari-hari!

Kadang gue masih suka gak SIAP liat bajingan-bajingan yang dulu bersimbah darah rakyat, sekarang tampil kembali jadi pemimpin-pemimpin alim siap nggerogoti negeri lagi, padahal jelas-jelas itu PASTI TERJADI dari generasi ke generasi!

Makanya gak habis kekaguman gue sama orang-orang yang siap dengan the worst scenario dari kehidupan,

dan bahkan membalikkannya jadi happy ending…






* Dedicated to Sandy & Rara; Peradaban manusia mencintai kalian….

Tersita

Pernah gak sih ngalamin suatu saat di mana elo tiba-tiba seperti harus tarik nafas sejenak, noleh ke belakang, dan tiba-tiba sadar begitu banyak hal di belakang yang lo lewatin begitu aja tanpa sempat lo cermatin?

Yep.

Kalo gue bawa motor, sering banget itu kejadian.
Biasanya kalo pikiran gue lagi ke mana-mana.
Tiba-tiba aja blank dan…
"anjrit! Kok gue dah sampe rumah aja!?? Tadi lewat mana ya???"

Malah Verra –temen baik sekaligus "saudara kembar" gue—pernah cerita, dia sering banget baru kelar mandi dan lagi andukan, …dan tauk-tauk:
"eh gue dah sabunan blom ya barusan?" =))
Di kasus Verra ini si emang agak berbau tolol dan "fak yu tu" sih, tapi gue yakin masalah utamanya bukan itu.

Tapi masalah ketersitaan.

Ya.
Saat2 kayak gitu biasanya Mind, Body, dan Soul kita lagi tersita.
Jadi yang ada cuma gerak refleks dan otomatis ngejalanin sebuah aktivitas.
Ada yang tersita karena kerjaan, ada yang tersita masalah rumah tangga, ada yang karena putus sama pacar, ada yang masalah keuangan, atau malah kombinasi dari itu semua.
Macem-macemlah.

Tapi biasanya ada satu titik di mana kita "bangun" dan sadar bahwa kita udah sampe situ dan coba nginget-nginget lagi apa yang barusan kita lewatin. Dan biasanya titik itu adalah menjelang kita sampai di tujuan akhir sebuah aktivitas.
Kayak dalam 2 contoh kasus di atas, ya pas gue mau sampe rumah atau pas Verra mau kelar mandi.

Tujuan akhir.

Mungkin itulah makanya banyak orang di jaman sekarang yang gak pernah "bangun", karena mungkin mereka lupa apa tujuan akhir saat mereka memulai sebuah hal.

Dan hari ini kejadian itu juga menimpa gue.
Tauk-tauk gue udah di sebuah titik di mana banyak kejadian yang udah gue lewatin tanpa sadar.

Ngelewatin Kehilangan seseorang yang paling gue sayanginkarena Leukimia. (semoga Damai Kau di sana, aku cinta padamu)
Ngelewatin tahun baruan di Lombok.
Ngelewatin sebuah anniversary bertombak tajam.
Ngelewatin resignation Ronny teman setia gue selama 3 tahun lebih.
Ngelewatin momen di mana Ade (Khemonk) --sahabat gue dari kecil-- kehilangan nyokapnya (yang tenang di sana ya, Mah…)
Ngelewatin hari kasih sayang di sebuah pantry kosong. (Valentine??? Jijay lo, 'Her!)
Ngelewatin hari di mana sahabat gua dari kecil Ebby Married.
..dan entah apa lagi yang gue lewatin.

Mungkin karena gue tersita oleh Pro Evolution Soccer, ISCI, atau Facebook.com.
Mungkin "shabu", "candu", atau "kupu-kupu"
Mungkin Wulan, Zizah, dan Yanti..atau mungkin malah Cinta Laura?

Entahlah.
Tapi apapun itu yang menyita gue.
Gue beruntung masih punya tujuan akhir yang rajin "mbangunin" gue, utk kemudian
nginget-inget lagi apa yang udah gue lewatin.

Sebuah tujuan akhir bernama Keluarga…






Time seemed to pass me by
I found myself alone wondering why
You came into my life
And gave your love to me
- Stryper ~ I Believe in You (1988)

Rabu, 24 Maret 2010

Dedikasi Dunia

Steve “The Crocodile Hunter” Irwin meninggal disengat ikan pari!

Entah kenapa saat pertama denger kabar itu gak ada kekagetan sedikitpun di hati gue. Mungkin sama gak kagetnya ketika dulu denger Ayrton Senna meninggal karena nabrak tembok pembatas Imola.

Buat gue rasanya, memang lebih pantes mereka meninggal dengan cara seperti itu.
Kecintaan mereka yang besar terhadap dunia mereka masing-masing, rasanya bakal jadi unhappy ending kalo mereka gak meninggal di dalam dunianya itu.

Bayangin kalo Irwin meninggal gara-gara kakinya canthengan.
Atau misalnya Senna tewas diserempet Bajaj.
Kayak kata banci-banci: “AGAK KURANG, YAAAAAAAAAAA!!???”

Tapi beda banget.

Dada gue sesak waktu denger beberapa pemulung meninggal gara-gara kelongsoran sampah di bantargebang.

Bener.
Sampah memang dunia mereka.
Tapi denger mereka meninggal di ”dunia mereka” kok rasanya perih yah.

Atau pas denger mahasiswa IKIP Makassar mati ditusuk preman di kampusnya gara-gara demo. Preman yang disewa rektor sebagai tenaga kemanan partikelir.
Anjrit, rasanya tusukannya berasa di ulu hati gue.

Atau pas denger sopir buldozer pembuat tanggul buat mencegah lumpur lapindo kelindes buldozernya sendiri.
Duh Gusti…

Kenapa gue belum pernah denger, koruptor mati kekenyangan harta korupsinya?

Kenapa gue belum pernah liat birokrat kotor mati jatuh kepleset kotorannya sendiri?

Kenapa gue belom pernah …
(Anak-anak: AH SUTRALAH Herrrrr!!!!)

Kata siapa dunia itu gak adil?

Buktinya Steve Irwin, Ayrton Senna, Pemulung Bantar Gebang, Sopir Buldozer Lapindo, Mahasiswa IKIP, semua punya kesempatan buat meninggal di dunia mereka….

Tapi, Her ..
AH SUTRALAH, JOOOOO!!!

Semalam Dengan Kenny

Malam ini hujan turun lagi, sama seperti hari kemarin. Setiap malam dingin, setiap malam gak mandi. Habis mau bagaimana lagi, saudara? Kaki kering aja dingin, apalagi kaki basah?

Tidurpun tetap kedinginan. Mimpipun, mimpi dikubur dengan salju. Coba itu, pakai selimutnya. Saya pakai selimut saya. Wahai kawan, selimut saya aja dingin. Selimut apa ini? Mana janji si Abang di Tanah Abang ketika ibu saya beli selimut ini? Katanya bisa jadi hangat kalau ditiduri selimut. Ini malah selimut yang minta dihangatkan sama saya.

Aduh emak, kaki ini mati rasa-pun. Harus digosok berapa lama lagi supaya hangat? Aduh emak, tangan ini dingin kali pun. Harus berapa lama lagi saya jepitkan ke ketek? Aduh emak, ketek saya ikut dingin pun...

Saya ingat Mama. Lagi apa ya dia sekarang? Mungkin duduk di rumah sambil nonton sembari angkat kaki dan jepit rokok di tangan. Pernah saya dan Dian, kakak saya, mau belikan dia asbak yang bentuknya paru-paru. Biar dia liat waktu dia ketuk-ketuk rokok di asbak, dia sedang mengotori paru-paru. Mamak, berhentilah rokoknya. (walaupun saya sebenarnya perokok) Dikumpulin uangnya. Kata Dokter, kalo dihitung-hitung, bisa bikin hotel, Mamak...

“Emang si dokter yang gak ngerokok itu udah punya hotel?”
Saya langsung diam. Pasang headset. Dengar lagu MP3.
Dengar lagu MP3... Seperti sekarang ini... Oh, ini Kenny G.
Itu lagu Kenny G, ya Allah... Si peniup yang Kau ciptakan itu. Masa lupa? Hari sudah malam dan dingin begini, masih aja dia tiup-tiup terompet. Tahun baru rasa-rasanya udah lewat pun.
Saya goyang-goyang kepala gaya metal mendengar lagu-lagunya yang jazzy. Memang kenapa kalau saya lebih suka begitu? Saya joget dangdut kalo denger instrumen Beethoven. Saya melandai-landai kalo denger lagu Navicula. Saya diem aja kalo denger lagu dangdut. Biar dikira orang saya benci lagu dangdut. Huu... lagu kampungan. Lagu gak berkelas. Padahal dalam hati saya menjerit suka. Kalo judul lagu Rossa “Atas Nama Cinta”, kalau saya “Atas Nama Gengsi dan Nama Baik Keluarga”.
Ah, nggak. Semua saya Cuma bercanda.

Mata saya kedap-kedip. Makin lama, ketika sedang sesi merem saat berkedip, sulit sekali untuk kembali melek. Ah, saya matikan lampu, matikan Kenny, minta ditiduri selimut, tutup mata dan baca do’a.
“Ya Allah, tidur malam ini jangan lupa pake kaos kaki. Jangan seperti saya ini yang gak pake. Maklum Tuhan, kaos kaki hanya tinggal sebelah...”

Minggu, 21 Maret 2010

Cinta Di Hati Kami

dulu dalam hati ini ada cinta
sebesar gajah lampung, terbirit menuju kampung
menangisi hutan sekarat, mati kami

hati kami tak ada cinta lagi, terjual
jadi kursi dan teka teki

cinta kami telah terganti, dendam dan sakit hati
jalan kampung tak beraspal, listrik selalu padam
kepada dada siapa kami bersandar

hingga kasur jadi tanah
menuai mimpi kami

Sabtu, 13 Maret 2010

Beban.

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.

"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.

"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.