Senin, 21 Desember 2009

Emak

Selamat hari ibu untuk Ibuku dan semua wanita yang telah menjadi Ibu..


Emak
Iwan Fals / Bagoes A.A. ( Album Wakil Rakyat 1987 )


Tanpa engkau
Sedikitpun tiada artinya aku
Bagiku kau api
Yang berikan hangat begitu kuat
Pada beku nadi

Tiada dua
Engkau hadirkan cinta tak berahir
Tak kan pernah mampu
Kulukis putihmu lewat lagu
Maafkanlah aku

Bagai bening mata air
Memancar tak henti
Mungkin masihlah teramat kurang

Bagai sinar matahari
Yang tak kenal bosan
Berikan terangnya pada kita
Kaulah segalanya

Hanya ini
Yang sanggup kutulis untukmu bunda
Jangan tertawakan
Simpan dalam hatimu yang sejuk
Rimbun akan doa

Kau berikan semuanya
Yang bisa kau beri
Tanpa setitikpun harap balas

Kau kisahkan segalanya
Tanpa ada duka
Walaupun air matamu tumpah
Tenggelamkan dunia

Bagai sinar matahari
Yang tak kenal bosan
Berikan terangnya pada jiwa

Kau berikan semuanya
Yang bisa kau beri
Tanpa setitikpun harap balas
Agungnya engkau

Bagai luas laut biru
Batinmu untukku
Selalu ada tempat tuk resahku

Bagai bening mata air
Memancar tak henti
Sirami jiwaku waktu kecewa
Datang menggoda

Sabtu, 19 Desember 2009

Sejarah Lagu BONGKAR Dan Kelompok SWAMI

Bongkar!
Oleh : Naniel C. Yakin
Foto : Dok. Pribadi

Kelahiran Swami sendiri berawal dari kegundahan Iwan Fals yang sedang meng-alami musibah, karena rencana promo tur album rekaman terbarunya Mata Dewa ke 100 kota di Indonesia, sekitar tahun 1988, tiba-tiba izinnya dibatalkan oleh yang berwajib tanpa alasan yang jelas. Pada masa pemerintah Orde Baru saat itu, kegiatan yang mendatangkan massa merupakan ke-giatan yang patut diwaspadai. Apa lagi bila kegiatan itu terkesan bernuansa mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk kegiatan atau konser musik yang berani bersuara atau bernada kritik.

Ketika radiogram pelarangan dari Mabes Polri untuk memberitahukan pembatalan izin konser promo tour itu diterima AIRO sebagai EO, rombongan artis dan kru sudah berada di Palembang, sehari sebelum konser di kota tersebut berlangsung. Saat itu, saya ikut dalam rombongan dengan status sebagai wartawan dari sebuah koran sore ibukota (Suara Pembaruan), yang diundang untuk meliput oleh pimpinan Sofyan Ali, direktur AIRO yang menangani konser promo tersebut.

Kesedihan dan kekecewaan menyelimuti kita semua. Tapi apa boleh buat. Keputus-an tidak bisa diubah. Ada bisik-bisik bahwa kejadian ini berkait dengan peristiwa konser Iwan sebelumnya di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, yang dianggap rusuh. Tapi ada juga gosip bahwa Iwan terlalu berani menyuarakan kritik saat di atas panggung. Tapi yang jelas pentas Iwan tidak mendapatkan izin saat itu.

Rombongan artis lainnya seperti Grass Rock dan Nicky Astria esok harinya kembali ke Jakarta. Tapi Iwan bersikeras untuk tetap berjalan sesuai jadwal ke kota-kota yang sudah dijadwal bakal dilewati konser promo ini. “Aku harus memberi penjelas-an pada publik di kota-kota itu, bahwa pembatalan ini bukan dari aku,” tegas Iwan yang berusaha tetap tegar.

Akhirnya Iwan, beberapa panitia, promotor dan beberapa wartawan, tetap tinggal untuk menyusun perjalanan selanjutnya. Saya bersama beberapa rekan wartawan musik ibu kota saat itu, antara lain Remy Soetansyah, Hans Miller Banureah, Toro dan satu lagi rekan dari koran Palembang, Sriwijaya Pos, termasuk yang diminta tinggal untuk menemani Iwan ke kota-kota tempat konser yang batal.

Selama perjalanan itulah saya banyak berkomunikasi dengan Iwan. Bahkan di saat-saat senggang saya sering terlibat diskusi, kadang sama-sama menulis lirik yang terus kami coba nyanyikan bersama. Sayang beberapa lirik yang berhasil kami jadikan lagu sampai saat ini tidak sempat kami rekam. Sekitar dua minggu kami berjalan sebelum kemudian kembali ke Jakarta.

Kembali ke Jakarta, Iwan semakin gelisah. Bahkan terbersit niatnya untuk tidak bermain musik lagi. “Mending aku jadi penulis di media saja dari pada main musik tapi tidak boleh tampil seperti sekarang,” cetusnya kesal. Kami makin sering bertemu dan mengobrol. Saya jadi sering main ke tempat tinggal Iwan di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Dari hasil mengobrol, diskusi dan debat warung kopi di rumah Iwan itulah lahir beberapa lagu seperti “Condet” dan “Kebaya Merah” yang kemudian direkam di Swami II, dan “Bento”. Entah karena tidak punya beban, dan motivasi membuat lagu-lagu itu semata-mata karena keinginan berekspresi dari beban batin yang kami rasakan saat itu, lagu-lagu tersebut lahir begitu saja dengan cair tanpa hambatan.

Dalam kegalauan tersebut, sebenarnya Iwan punya sebuah pekerjaan yang sa-ngat penting yang harus ia selesaikan, yaitu rekaman album Kantata Takwa bersama WS Rendra (almarhum), Setiawan Djodi, Sawung Jabo dan Yockie Suryoprayogo. Di sela-sela jadwal latihan mereka, saya sering diajak Iwan main ke rumah Sawung Jabo di bilangan Pasar Minggu.

Sebelumnya, saya cukup sering bertemu Jabo. Bahkan ketika pertama kali saya ke Jakarta tahun ‘80-an, saya tinggal di rumah Jabo dan juga ikut bermain di grupnya, Sirkus Barock. Di rumah Jabo ini kami kembali mengobrol dan menelurkan beberapa lagu antara lain, “Oh Ya”, “Perjalanan Waktu”, “Badut” dan lain-lain.

Kami semakin tenggelam dalam perenungan-perenungan, mencermati keadaan sampai berusaha menyikapinya lewat kata-kata dan notasi. Kalau tidak di Condet, rumah Iwan atau Pasar Minggu, rumah Jabo. Kami bertemu di rumah saya di kawasan Perumnas Klender. Tidak jarang, tiba-tiba larut malam menjelang pagi mereka berdua datang mengetuk-ngetuk pintu rumah saya. Kami begadang, ngopi, mengobrol dan jadilah beberapa lagu seperti “Eseks-eseks Udug-udug”, “Cinta”, “Potret” dan lainnya. Mereka memang sengaja datang malam, karena pernah mereka datang sore hari, akibatnya rumah saya diserbu warga yang ingin ketemu Iwan Fals.

Rupanya kolaborasi ini memberi sema-ngat bagi Iwan. Dia mengusulkan untuk melatih lagu-lagu ini dalam sebuah kelompok musik. Jabo mengusulkan nama Tatas sebagai pemain keyboard dan Iwan sendiri menyorongkan nama Jerry, sebagai pemain gitar. Sedangkan untuk penggebuk drum dan pencabik bas, kami setuju merekrut Innisisri dan Nanoe. Kami akhirnya latih-an dengan formasi Iwan Fals (gitar, vokal), Sawung Jabo (gitar, vokal), Naniel (flute, vokal, perkusi), Innisisri (drum, vokal), Nanoe (bas, vokal), Tatas (keyboard) dan Jerry (gitar). Jabo mengusulkan nama Swami bagi kelompok ini. Kami setuju, “Oke, mulai saat ini grup ini kita namakan Swami!”.

Kami pentas pertama di kawasan Bintaro dalam acara ulang tahun sebuah ke-lompok pemanjat tebing. Saya ingat, kami masing-masing mendapat honor Rp 200 ribu. Kami berusaha mencari produser yang mau merekam lagu-lagu yang sudah kami latih ini, tapi ternyata susah. Hampir semua produser yang kami datangi selalu menjawab, “Bagaimana caranya kami menjual lagu-lagu macam ini. Bikin saja yang biasa,” kilah mereka umumnya. Lagu-lagu ini mereka rasakan terlalu keras, terutama liriknya. Pasti akan bermasalah bagi mereka kalau diedarkan.

Untung kedekatan Iwan dengan Setiawan Djodi di Kantata Takwa ternyata membawa berkah. Djodi bersedia membia-yai rekaman Swami. Kami pun kemudian rekaman di GIN Studio yang terletak di daerah Roxy. Tidak ada kesulitan, semua lancar sampai ketika Iwan menyodorkan lagu “Bongkar” yang nantinya disempurnakan oleh Jabo. Ada masalah pada lirik lagu ini yang mengundang kontroversi di antara kami. Dalam lirik lagu itu menyinggung nama-nama tempat yang merupakan kasus militer dan tabu diucapkan saat itu. Nama-nama itu seperti: Way Jepara, Kedung Ombo, Kaca Piring yang merupakan tempat kejahatan HAM berat. Kami khawatir kalau tetap tidak diubah akan jadi masalah bagi album ini.

“Ya, tapi kreativitas dan ekspresi kan nggak- boleh diatur-atur? Kita kan bukan kambing yang hanya menurut dibawa ke kanan, menurut dibawa ke kiri,” kata Iwan bersikeras.

“Ya, tapi kita juga harus berstrategi, Wan. Bukan masalah takut dan berani. Kalau nggak- boleh edar, buat apa kita mengerjakan rekaman ini? Kita kan bisa menyiasati dengan cara lain?” saya coba nimbrung, berusaha mencairkan suasana.

Akhirnya disepakati Jabo akan merevisi dan menyusun ulang sebagian lirik dari lagu “Bongkar” ini. Beberapa kali ditawarkan, akhirnya disepakati lirik seperti yang kita kenal sekarang dalam lagu “Bongkar” karya Iwan Fals dan Sawung Jabo. Lirik lagu ini memang agak berubah di penyajian, tapi visinya tetap. Liriknya lebih puitis tidak frontal seperti awalnya. Rekaman dan mixing-nya kami selesaikan sekitar satu bulan kerja di studio. Sayang begitu selesai rekam-an, karena alasan bersifat pribadi, Tatas dan Jerry mengundurkan diri. Maka dalam konser promo di Jogya, Salatiga, Semarang dan Surabaya, posisi keyboard dan gitar digantikan oleh Yockie Suryoprayogo dan Toto Tewel.

Komposisi pemain ini bertahan terus sampai rekaman Swami II dan konser Sumatra di kota-kota, Bandar Lampung, Padang dan Medan. Setelah konser di kota-kota tersebut, Swami tidak lagi mendapatkan izin untuk pentas dari pihak aparat keaman-an masa Orde Baru saat itu. Rekam-an kedua melahirkan beberapa hit macam “Kuda Lumping”, ”HIO” dan lain-lain.

Dari kesepakatan awal, Swami memang bukan kelompok musik yang dikonsumsikan bagi industri musik, tetap lebih pada kerja kreatif dari sebuah komunitas yang ber-usaha menyuarakan aspirasinya lewat bahasa musik. Swami sebagai sosok memang tidak bisa tampil karena tidak mendapatkan izin dari pihak berwenang saat itu. Tetapi suara yang sudah terlanjur berkumandang lewat serangkaian lagu-lagu yang mereka hasilkan sudah terlanjur didengar dan disukai oleh publik. Bahkan pecinta musik saat ini yang ketika lagu-lagu macam “Bento”, “Bongkar”, “Eseks-eseks Udug-udug” pertama kali diperdengarkan masih orok, sekarang ternyata banyak yang ikut mengapresiasi, menyukai, bahkan hapal -liriknya.

Atas persetujuan bersama, akhirnya disepakati oleh semua personel, tahun 1992 Swami dibubarkan. Itulah kelompok musik Swami dalam pandangan saya. Walau sudah tidak ada lagi, bahkan ada kesan kehadirannya tidak terlalu dicatat oleh industri musik, tapi grup ini tetap hidup lewat lagu-lagu yang mereka hasilkan. Selama masih ada pecinta musik yang menginginkan kejujuran ekspresi, maka saya rasa lagu-lagu Swami akan tetap hidup sebagai referensi, betapa kekuatan musik sebagai media -perlawanan!

SUMBER TULISAN :
http://www.rollingstone.co.id/read/2009/11/26/531/13/2/Bongkar

--------------------------
Catatan:
Saya merasa perlu melakukan copy dan paste penuh tulisan ini dari sumber diatas dan menyebarluaskan dikalangan kita, mungkin ada yang belum sempat membacanya. Sebab tulisan sejarah seperti ini jarang kita jumpai.

Tulisan ini pantas dan wajib diketahui kawan-kawan yang mengaku FANS agar tidak sekedar bisa nyanyi lagunya, tanpa pernah tahu kisah dibelakangnya.

Terima kasih untuk mas NANIEL dan majalah ROLLING STONE INDONESIA yang sudah mempublikasikan tulisan ini. HORMAT SAYA UNTUK KALIAN...!

Rabu, 16 Desember 2009

Gelora Tertekan

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak beredar. Informasinya lagu ini direkam sekitar tahun 1996. Iwan Fals tidak hanya jago menulis lagu bertema kritik, namun dia juga hebat dalam tema percintaan seperti lirik dibawah ini. Coba baca dan renungi. Lagu-lagu cinta karya Iwan Fals memang bukan lagu cinta kacangan.

Gelora Tertekan
(Iwan Fals)


Dari jauh aku melihat dirimu
Curi pandang melempar panah asmara
Tak tau apakah sampai padamu
Aku malu sepertinya berdosa

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Sempat mata kita saling berpandangan
Juga sempat kita saling berjabat tangan
Tetap hati bergemuruh bak gelombang
Bila rindu memanggilmu sayang

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Semerbak bunga-bunga ditaman
Tak mampu buyarkan lamunan
Dirimu masih terus terbayang
Terbawa mimpi pagi menjelang

Mendekatlah wahai jelita yang malang
Aku ikhlas membuatmu bahagia
Tertawalah lepas jelita yang malang
Aku yakin aku tak berdaya

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Semerbak bunga-bunga ditaman
Tak mampu buyarkan lamunan
Dirimu masih terus terbayang
Terbawa mimpi pagi menjelang

Terima kasih buat Mas Syafiq Baktir..
kalau mau lebih lengkapnya bisa di lihat di
: http://iwanfalsmania.blogspot.com/search/label/-%20Lirik%20Lagu%20Yang%20Tidak%20Dikomersilkan

Selasa, 15 Desember 2009

Dibawah Otoritas Guru

Sejak kecil ia sangat jarang keluar rumah. Ia hanya keluar ketika sekolah, selebihnya mengurung diri dalam kamar. Karena itulah, mungkin, ia dikenal pendiam. Namun, kalau kamu mengenalnya lebih dekat, sebenarnya ia bukanlah sosok pendiam. Ia banyak bicara, melalui tulisan. Bibirnya memang lebih sering terkatup, namun entah sudah berapa lembar ia habiskan untuk menulis. Entah sekedar menulis iseng atau opini serius. Sehingga ketika tulisannya dimuat di mading, sekolah pun geger. Sosok yang pendiam itu, ternyata seorang penggugat!

Malam itu, di dalam kamarnya yang sepi ia menulis:
Banyak hal yang membuat sekolah ini aneh. Ada kontradiksi besar disini, digedung sekolah dan di lembaga pendidikan ini. Dalam dunia pendidikan, seharusnya kita tumbuh dalam iklim berpikir yang bebas. Namun yang kusaksikan, yang kulihat dan kurasakan sungguh lain. Disini kita tidak hanya tidak bisa berpikir secara bebas, namun kita juga dipaksa untuk tunduk pada otoritas guru yang terkadang sewenang-wenang. Ada beberapa guru yang kurang berdisiplin dalam memenuhi kewajibannya mengajar. Dan ketika kita pertanyakan, kita malah di damprat, “Kamu berani mengkritik guru!”.Sementara ketika kita mencoba bertanya kenapa ada guru yang tidak konsisten menjalankan peraturan sekolah, kita pun ditegur, “Kamu sudah berani sama guru!”

Lain lagi ketika ada guru yang kurang bisa mengkomunikasikan pelajaran. Dan ketika kita coba mengkritiknya, kita malah kena semprot, “Jangan kurang ajar sama guru!”. Guru, dengan demikian, menjadi seperti sosok yang selalu benar, tak pernah salah. Dan kita pun terpaksa tunduk dibawah ketidak berdayaan karena memang tak ada undang-undang yang melindungi hak murid.Entah setan mana yang membuatnya nekat mengirimkan tulisan tersebut ke mading sekolah.

Yang pasti, ketika tulisan tersebut dimuat, genting sekolah nyaris ambrol. Ia yang selama ini dikenal pendiam, tiba-tiba berbicara dengan sangat keras dan tajam, lewat tulisan.
Apa yang ditulisnya menjadi gunjingan hangat. Di perpustakaan, di kantin, dan bahkan di sudut-sudut kelas, siswa beramai-ramai mengomentari. Sehingga dewan guru pun terpaksa mengambil tindakan. Atas nama ketertiban dan kedisiplinan, dengan sangat terpaksa, anak yang pendiam itu di keluarkan! “Ia lebih berbahaya dari siswa yang menggunakan narkoba. Ia menyebarkan pikiran radikal. Ia juga telah memprovokasi para siswa untuk berani melawan guru. Karena itu, keputusan ini tidak bisa ditawar lagi!” begitu komentar kepala sekolah
Tapi tidak, anak itu tidak dikeluarkan dari sekolah. Ia hanya dipindah sekolahkan, cuma di lempar, cuma dibuang.Malangnya si pendiam..

Senin, 14 Desember 2009

Kembali Ke Masa Lalu

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak di komersilkan.

Aku ingin kembali ke masa lalu

Berjalan dari warung ke warung
Berjalan dari rumah ke rumah
Berada disetiap tempat sampah
Begadang, main gitar, mabuk, nyanyi
Setelah itu bercanda dengan para pelacur

Aku ingin kembali ke masa lalu

Ke masa kesalahan menjadi kebanggaan
Waktu itu aku bebas aku lepas
Aku bisa teriak sekeras aku suka
Aku bisa menangis secengeng aku mau
Langkahku ringan rasanya terbang

Aku paling suka mencari perhatian

Segala cara aku lakukan
Tak ada beban tak ada dosa
Tak ada yang aku risaukan
Paling paling hanya hari depan
Dan dituduh P K I

(Iwan Fals)

Hari Yang Na'as


Pasca tragedi bunuh diri di sebuah Mall beberapa hari yg lalu.

Cerita misterius ini dialami seorang staff laki-laki yang bekerja di salah satu resto lantai 2 GI di Jl sudirman Jak-pus. Suatu malam (hari kamis malam jumat-3 des 2009) ia bekerja lembur sendirian dan terpaksa pulang agak larut malam sekitar jam 23:00 malam .


Sampai di depan lift, dia pun tekan tombol untuk turun. Kemudian pintu lift terbuka tanpa ada siapa-siapa di dalamnya. Dia masuk dan menekan tombol ‘B1? untuk menuju Basement. Tetapi entah kenapa lift ini bukannya turun melainkan terus naik ke atas.

Lift berjalan terus hingga smp ke lt 5, berhenti dan terbuka persis di lantai yg sama dgn tragedi brp hr lalu. Ketika pintu lift terbuka, ada seorang waria sedang berdiri... tersenyum manis lalu masuk kedalam lift . Staff laki-laki tersebut merasa agak kesal ... "yah ... udah lift nya ngaco ... ketemu waria lagi ; dalam hatinya" .

Waria muda tersebut masuk dan berdiri di belakangnya. Lalu tercium wangi parfum murahan , maka diapun bertanya-tanya dalam hati … darimana waria tersebut? dan kenapa sudah malam begini masih kluyuran di mall , mau disapa tapi enggan , jadi masing-masing saling terdiam.

Dalam suasana hening dan sunyi itu, lift turun perlahan tingkat demi tingkat. Tapi ketika sampai pada lantai 3, tiba-tiba lift berhenti dan kemudian tercium aroma bau yang teramat busuk, yang menusuk tajam hidungnya.. Seketika bulu romanya tiba-tiba merinding. Dia pun langsung berkeringat dingin dan ……. sebisa-bisanya membaca ayat-ayat suci yang terlintas di kepalanya , lift menyala kembali, sambil memberanikan diri dan perlahan-lahan menoleh kebelakang ..

Dan apa yang …..dilihat….? Oooh my GOD...Tiba-tiba saja , waria yang berada di belakangnya tersenyum malu…dan berkata: “Maaf ya Mas’, tadi saya kentut..…."

http://www.facebook.com/note.php?note_id=190882907671


Sabtu, 12 Desember 2009

Akhirnya...

Assalamualaikum..
Alhamdulillah akhirnya bisa buat blog juga. hehehehe
Selamat datang kepada siapa saja dan 'apa saja' yang telah singgah atau cuma 'nyasar' di tempat ini.
Hanyalah sedikit yang bisa dituangkan bagi yang sempat membaca. Sedikit yang bisa diberi untuk yang memerlukan. Dan semoga bermanfaat.
Terima kasih atas kunjungannya.