Khotbah jum'at tanggal 15 Oktober 2010. Masjid Baitu Ula.
Khotib: Ustadz DR. Asep usman ismail.
Kau
ungkapan cinta
mengendap dalam cangkang hatiku
sebagai penentu
pada ikatan langkah
menuju induk segala tujuan
Kau bara apiku
menyala dipuncak pengetahuanku
disumbu yang satu
pada minyak yang padu
menjadi suluh menuju-Mu
Kau detak nadiku, nafas dalam inginku
menjaga ruku' dan khusyu'
penggerak sujud dan tuma'ninah-ku
Kau waktu dan ruang, siang dan malam, jalan tengahku
tawar
hambar
datar
penenang limbungku
penyeimbang bingungku
menghantar ke-terang-Mu
221010
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat datang kepada siapa saja dan 'apa saja' yang telah singgah atau cuma 'nyasar' di tempat ini. Hanyalah sedikit yang bisa dituangkan bagi yang sempat membaca. Sedikit yang bisa diberi untuk yang memerlukan. Dan semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Jumat, 29 Oktober 2010
Selasa, 26 Oktober 2010
Wajah Jakarta
Wajah Jakarta adalah bocah-bocah yang hilir mudik memainkan kecrekan sambil menempelkan wajah di jendela mobil pada suatu siang yang panas terik, sementara tak jauh dari situ seorang bayi kurus menggeliat dalam gendongan seorang perempuan di perempatan lampu merah.
Wajah Jakarta adalah tongkat bergagang besi yang mengoreki tempat sampah semen. Pemiliknya adalah pemulung yang harap-harap cemas berebut rezeki dengan kucing gendut, tikus got dan lalat.
Wajah Jakarta adalah aroma menyengat di bantaran sungai yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah dan rumah-rumah berdinding papan. Bila kau pasang telingamu baik-baik, dapat kau dengar dari dalam isakan bocah perempuan yang sudah dua hari panas demam.
Wajah Jakarta adalah pisau dingin berkarat yang dipakai menakut-nakuti pelajar berseragam dan wanita berkalung emas di angkutan kota. Sebuah pelajaran berharga bisa kau petik dari sana: jangan menaruh HP di saku celana, jangan memakai perhiasan di dalam bis, dan simpan dompetmu jauh-jauh di tempat yang tak terogoh.
Wajah Jakarta adalah pengamen yang bernyanyi sumbang di bis oranye sambil menadahkan kantung bekas keripik dan preman yang menadahkan tangan minta uang dengan paksa. Pelajaran berharga kedua: selalu siapkan recehan lebih dari cukup. Kita tak pernah tahu.
Wajah Jakarta adalah kelelahan yang menggurat wajah seorang laki-laki berkemeja lengan panjang dengan map berisi surat lamaran kerja yang mulai lecek setelah ditenteng seharian. Di rumah, anak-istrinya menunggu dengan penuh harap. Hari ini Ayah pasti pulang bawa rejeki.
Wajah Jakarta adalah letusan kembang api yang gegap-gempita membelah angkasa dan bisa kau saksikan dari jarak belasan kilometer pada malam pergantian tahun, yang kata tetangga sebelah, “Nggak mahal kok, delapan juta aja.”
Wajah Jakarta adalah jendela-jendela mobil yang kacanya dihitamkan sehingga mustahil untuk sekadar diintip. Hawa di dalam situ tak pernah segarang terik matahari. Udaranya sejuk dan selalu wangi parfum, dan selalu tersedia air mineral penangkal dahaga jika kau haus.
Wajah Jakarta adalah bocah-bocah berseragam yang menenteng telepon genggam dan permainan elektronik, sementara pengasuhnya berjalan di belakang membawakan tas sekolah, botol minum, dan kotak bekal makanan.
Wajah Jakarta adalah remaja belasan tahun bergaya Harajuku yang sakunya terisi kartu kredit warisan orang tua dan Blackberry seri terkini yang baru saja di-upgrade. Dan jangan lupakan Louis Vuitton KW-1 yang sesekali mereka tenteng dalam gaya yang berbeda.
Wajah Jakarta adalah butik berskala internasional yang dengan mudah kau temui di pusat perbelanjaan raksasa, yang menempelkan label puluhan hingga ratusan juta pada sebuah tas cantik dari kulit.
Wajah Jakarta adalah langkah tergesa kaki-kaki yang dibungkus sepatu berhak tinggi dan pantofel berkilap yang bersanding dengan tangan-tangan menengadah di jembatan penyeberangan.
Wajah Jakarta adalah gemerlap lampu warna-warni yang berpendar diiringi musik menghentak dan cairan merah di gelas-gelas kristal dalam geliat malam yang masih muda.
Wajah Jakarta adalah anak laki-laki berbaju kusam yang menatap iri saat kita bergandengan tangan menyusuri trotoar di sebuah malam minggu sambil makan es krim. Wajah Jakarta adalah senyumnya yang terkembang saat kau gandeng tangan mungilnya ke abang penjual es dan mempersilakannya memilih rasa yang ia suka.
Wajah Jakarta adalah pengemis berkaki buntung yang tak henti-henti mengucapkan terima kasih saat kau cemplungkan selembar ribuan ke gelas plastiknya. Dalam syukurnya ada doa agar panjang umurmu selalu.
Wajah Jakarta adalah anggukan tulus pedagang kaki lima saat kau bayarkan sejumlah rupiah sebagai penglaris jualannya pagi ini tanpa minta kembalian.
Tahukah kau apa yang terlintas di benakku hari ini, saat memandangi Jakarta dan pencakar-pencakar langitnya dari kaca gedung bertingkat tempat kita menghabiskan sembilan jam dalam sehari?
Jakarta sesungguhnya tak pernah miskin. Ia hanya lupa menoleh pada yang terpinggir.
Tinggi pohon tinggi berderet setia lindungi
Hijau rumput hijau tersebar indah sekali
Terasa damai kehidupan di kampungku
Kokok ayam bangunkan ku tidur setiap pagi
Tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
Gubuk gubuk liar yang resah di pinggir kali
Terlihat jelas kepincangan kota ini
Tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam
Lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
Diatas derita mereka masih bisa tertawa
Memang ku akui kejamnya kota Jakarta
Namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka
Jakarta oh Jakarta
Si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya
Luka si miskin semakin menganga
Jakarta oh Jakarta
Terimalah suaraku dalam kebisinganmu
Kencang teriakku semakin menghilang
Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan
Jakarta oh Jakarta
Angkuhmu buahkan tanya
Bisu dalam kekontrasannya
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Hijau rumput hijau tersebar indah sekali
Terasa damai kehidupan di kampungku
Kokok ayam bangunkan ku tidur setiap pagi
Tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
Gubuk gubuk liar yang resah di pinggir kali
Terlihat jelas kepincangan kota ini
Tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam
Lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
Diatas derita mereka masih bisa tertawa
Memang ku akui kejamnya kota Jakarta
Namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka
Jakarta oh Jakarta
Si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya
Luka si miskin semakin menganga
Jakarta oh Jakarta
Terimalah suaraku dalam kebisinganmu
Kencang teriakku semakin menghilang
Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan
Jakarta oh Jakarta
Angkuhmu buahkan tanya
Bisu dalam kekontrasannya
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
( Kontrasmu Bisu - Iwan Fals )
(suatu siang, dalam keramaian sebuah Pusat perbelanjaan di jantung ibukota)
Senin, 25 Oktober 2010
Diri
Aku kehidupan yang punya nama, nyawa dan cangkang, dan di kesemuanya engkau tinggal.
Aku kebenaran yang tak perlu dibela; tudungmu siang-malam dari segala tuduhan dan cerca.
Aku ibu yang merawatmu, dan bocah dalam jiwamu tahu, aku ada. Rasakan dekapanku. Rasakan hangatku. Rasakan degup jantung yang berpadu kala aku menimangmu.
Aku ayah yang melimpahimu dengan sayang, dadaku tempatmu bernaung, dan kau tak perlu khawatir akan apa pun.
Aku senangmu kala kau susah, bahagiamu saat kau merana, haru yang melarutkan sengsaramu, tawa yang tersimpan di balik tangismu, riang yang melanda hampamu, dan gembira yang kau bawa saat sulit mendera. Kita berdampingan, karena kita dua yang satu adanya.
Aku geming yang meredakan riuh di benakmu, heningmu saat kau merapuh, dan beningmu saat kau mengeruh, luruh dan tandus.
Aku mata yang mengamatimu sejak kau terjaga hingga terlelap. Kerap kau tak tahu aku ada, namun aku tak pernah beranjak. Aku penontonmu yang paling setia.
Aku telinga yang mendengarkan gemuruh, desau dan bisikan setipis udara pagi yang acap luput kau sadari.
Aku tangan yang menggenggammu aman saat kau tersandung, terjungkal, terperosok.
Aku kaki yang menahanmu kala kau tergelincir dan menyokongmu untuk kembali menapak.
Aku tali tempatmu berpegangan meniti jalan di lingkaran, agar kau tak perlu terbanting hancur.
Aku nyanyian yang membelai telingamu dan mengisi rongga dadamu dengan senandung.
Aku mentari yang mencerahkan matamu dan membimbingmu ke jalan cahaya, aku juga sinar yang menuntunmu ke api yang mereka sebut neraka.
Aku sungai yang mengalir di bawah kakimu, dan di sana engkau bercermin.
Aku air yang membebaskan kerongkonganmu dari dahaga dan membuatmu sejuk.
Aku obat kala kau terkapar sakit, dan penyembuh segala lukamu.
Aku jembatan tempatmu menemukan jalan pulang dan dipan tempatmu beristirahat melepas lelah.
Aku daya yang mengusungmu kala kau terkulai, dan tandu bagi jiwamu.
Aku surga tempat Tuhan bersemayam; kau tak perlu pergi jauh untuk menemuiNya.
Aku kekasih yang bercinta denganmu, dan kita terbakar bersama dalam bara.
Aku cinta yang memberimu nafas untuk tetap hidup, dan engkau akan terus ada.
Aku di sini. Tanpa terbelit ruang dan waktu.
Aku, ya, aku
Selamanya bagimu.
~ Gili, 23 Oktober 2010. Bahkan kata-kata tak sanggup mencengkeramnya. ~
Aku kebenaran yang tak perlu dibela; tudungmu siang-malam dari segala tuduhan dan cerca.
Aku ibu yang merawatmu, dan bocah dalam jiwamu tahu, aku ada. Rasakan dekapanku. Rasakan hangatku. Rasakan degup jantung yang berpadu kala aku menimangmu.
Aku ayah yang melimpahimu dengan sayang, dadaku tempatmu bernaung, dan kau tak perlu khawatir akan apa pun.
Aku senangmu kala kau susah, bahagiamu saat kau merana, haru yang melarutkan sengsaramu, tawa yang tersimpan di balik tangismu, riang yang melanda hampamu, dan gembira yang kau bawa saat sulit mendera. Kita berdampingan, karena kita dua yang satu adanya.
Aku geming yang meredakan riuh di benakmu, heningmu saat kau merapuh, dan beningmu saat kau mengeruh, luruh dan tandus.
Aku mata yang mengamatimu sejak kau terjaga hingga terlelap. Kerap kau tak tahu aku ada, namun aku tak pernah beranjak. Aku penontonmu yang paling setia.
Aku telinga yang mendengarkan gemuruh, desau dan bisikan setipis udara pagi yang acap luput kau sadari.
Aku tangan yang menggenggammu aman saat kau tersandung, terjungkal, terperosok.
Aku kaki yang menahanmu kala kau tergelincir dan menyokongmu untuk kembali menapak.
Aku tali tempatmu berpegangan meniti jalan di lingkaran, agar kau tak perlu terbanting hancur.
Aku nyanyian yang membelai telingamu dan mengisi rongga dadamu dengan senandung.
Aku mentari yang mencerahkan matamu dan membimbingmu ke jalan cahaya, aku juga sinar yang menuntunmu ke api yang mereka sebut neraka.
Aku sungai yang mengalir di bawah kakimu, dan di sana engkau bercermin.
Aku air yang membebaskan kerongkonganmu dari dahaga dan membuatmu sejuk.
Aku obat kala kau terkapar sakit, dan penyembuh segala lukamu.
Aku jembatan tempatmu menemukan jalan pulang dan dipan tempatmu beristirahat melepas lelah.
Aku daya yang mengusungmu kala kau terkulai, dan tandu bagi jiwamu.
Aku surga tempat Tuhan bersemayam; kau tak perlu pergi jauh untuk menemuiNya.
Aku kekasih yang bercinta denganmu, dan kita terbakar bersama dalam bara.
Aku cinta yang memberimu nafas untuk tetap hidup, dan engkau akan terus ada.
Aku di sini. Tanpa terbelit ruang dan waktu.
Aku, ya, aku
Selamanya bagimu.
~ Gili, 23 Oktober 2010. Bahkan kata-kata tak sanggup mencengkeramnya. ~
Selasa, 12 Oktober 2010
Pada Satuminggu
Mereka bilang, perpisahan adalah sebuah titik
Bagiku, perpisahan adalah sebuah koma
Yang mengajarku menggurat tanda-tanda lain di kanvas ini
Mereka bilang, perpisahan adalah duka
Bagiku, perpisahan adalah lahirnya jiwa
Ketika sayap yang merapuh kembali menemukan daya
Mereka bilang, perpisahan adalah derita
Bagiku, perpisahan adalah menerima dan memaafkan
Dan dari sana aku belajar mengenal cinta
Mereka bilang, perpisahan adalah akhir
Bagiku, perpisahan merupakan awal
Karena perpisahan mempertemukanku denganmu
Hari ini, genap satu minggu sudah
Kita masih menari, dan kita masih tak tahu
Kemana hidup akan bergulir, kemana hati mengalir
Namun satu hal hatiku tahu
Apa pun yang dihadiahkan hidup pada kita kelak
Perjumpaan denganmu adalah sesuatu yang akan kusyukuri selamanya
~ 13 Oktober 2010, 00:01, Untuk Ruth Mayest Peristi Lesan
Bagiku, perpisahan adalah sebuah koma
Yang mengajarku menggurat tanda-tanda lain di kanvas ini
Mereka bilang, perpisahan adalah duka
Bagiku, perpisahan adalah lahirnya jiwa
Ketika sayap yang merapuh kembali menemukan daya
Mereka bilang, perpisahan adalah derita
Bagiku, perpisahan adalah menerima dan memaafkan
Dan dari sana aku belajar mengenal cinta
Mereka bilang, perpisahan adalah akhir
Bagiku, perpisahan merupakan awal
Karena perpisahan mempertemukanku denganmu
Hari ini, genap satu minggu sudah
Kita masih menari, dan kita masih tak tahu
Kemana hidup akan bergulir, kemana hati mengalir
Namun satu hal hatiku tahu
Apa pun yang dihadiahkan hidup pada kita kelak
Perjumpaan denganmu adalah sesuatu yang akan kusyukuri selamanya
~ 13 Oktober 2010, 00:01, Untuk Ruth Mayest Peristi Lesan
Minggu, 10 Oktober 2010
Bahagia Versi Saya
...adalah ketika saya melihat hidup saya, diri saya, apa adanya, dan menyadari tidak ada sesuatu pun yang ingin saya ubah.
Hidup tidak selalu indah. Tapi ia sempurna. Dan untuk itu, kata yang paling pas barangkali hanya "Terima kasih".
Sungguh, Tuhan. Tidak ada yang lain.
.....
Well, setidaknya untuk saat ini. ;-)
Rabu, 06 Oktober 2010
Kamu
Terima kasih untuk menelepon di saat yang sangat tepat. Ketika saya merasa penat dengan segala kegilaan yang terus bergulir; saat saya sedang ingin meninggalkan semuanya untuk mencicipi kehidupan ‘normal’ – sebentar saja.
“Don’t be sad,” katamu, padahal saya tak bercerita apa-apa. Mungkin gelombang otak kita sedang berada dalam frekuensi yang sama, atau kemampuan telepati mendadak muncul karena kita saling merindu.
Kamu, ya, kamu. Saya selalu sayang kamu. Saya tahu kamu tahu. Dan terima kasih karena selalu ada.
(Tidak, yang saya maksudkan bukan kehadiranmu secara fisik. Tapi hatimu.)
I love you, Utte.
Dan, ya, saya janji tidak akan terlalu sering merokok dan begadang lagi. :-)
“Don’t be sad,” katamu, padahal saya tak bercerita apa-apa. Mungkin gelombang otak kita sedang berada dalam frekuensi yang sama, atau kemampuan telepati mendadak muncul karena kita saling merindu.
Kamu, ya, kamu. Saya selalu sayang kamu. Saya tahu kamu tahu. Dan terima kasih karena selalu ada.
(Tidak, yang saya maksudkan bukan kehadiranmu secara fisik. Tapi hatimu.)
I love you, Utte.
Dan, ya, saya janji tidak akan terlalu sering merokok dan begadang lagi. :-)
Kamis, 30 September 2010
Veerish
Dua setengah tahun berjuang melawan kanker, akhirnya Verish terpaksa menyerah. Namun, sebagaimana sifatnya yang tertutup dan tidak ingin menyusahkan orang, Dia menyimpan penderitaannya rapat-rapat, bahkan sampai detik terakhir.
Hari itu, untuk kesekian kalinya Ia dibawa ke rumah sakit karena komplikasi setelah menjalani kemoterapi. Ia pergi ditemani Mama dan Kakaknya. Saya tidak merasa perlu ikut mendampinginya. Saya, yang sudah terbiasa dengan kunjungan rutin ke rumah sakit lima hari dalam sebulan, menganggap hari itu sama seperti hari-hari lainnya.
Saya berdiri di depan pintu, melepas kepergian Dia sambil melambaikan tangan. Ia dengan sweater panjang kesayangannya. Ia dengan kepala dengan rambut yg hampir botak karena rontok, ia membenci wig dan topi yang membuat gerah. Ia dengan wajah mengernyit, tanpa satu pun keluhan terlontar.
Hari itu tanggal 3 Oktober. Dia pergi ke rumah sakit tanpa saya di sisinya. Ia tidak pernah kembali lagi.
Saya merelakan kepergian Verish, karena saya lebih memilih kehilangan seorang kekasih ketimbang melihatnya menderita dalam kesakitan. Namun, perlahan-lahan kehilangan itu menjelma menjadi lubang hitam. Saya merindukannya, dan kini saya tidak akan pernah lagi bertemu dengannya. Satu-satunya saat di mana kami dapat berjumpa lagi, barangkali nanti, ketika saya menyusulnya ke surga. Meski saya tidak bisa memungkiri perasaan bahwa dalam saat-saat tertentu, ia terasa begitu dekat.
Seolah-olah Verish tidak pernah pergi dari sisi saya. Ia hadir dalam saat-saat terberat di mana saya merasa hidup tidak lagi ada gunanya. Ia hadir dalam masa-masa paling mengecewakan di mana yang ingin saya lakukan hanya mengubur diri di bawah selimut dan menghindari dunia.
Seakan-akan Dia ada dan berbisik, “Tidak apa-apa, Semua akan baik-baik saja,” meski tangannya tak dapat menjangkau wajah saya yang berairmata.
Ia hadir dalam saat-saat penuh kebahagiaan di mana saya berkhayal dapat menghambur ke rumahnya dan menceritakan apa yang saya rasakan dengan penuh sukacita. Ia hadir dalam masa-masa penuh kegembiraan ketika saya berbangga hati atas pencapaian yang saya raih. Seakan-akan Dia ada, tepat di sisi saya, tersenyum lebar, dan berbisik, “That’s my boy.”
Betapa saya rindu mempersembahkan setiap kemenangan dan keberhasilan saya untuknya, dan saya tahu dia tahu.
Setelah hampir satu tahun, akhirnya saya sadar: saya keliru.
Verish tidak pergi ke tempat asing bernama Surga di mana kami terpisah selamanya. Saya tidak perlu menanti sampai mati untuk berjumpa lagi dengannya. Saya tidak perlu menunggu sampai masa kontrak saya dengan dunia berakhir untuk bisa menemuinya.
Verish tidak pergi ke tempat lain. Ia pulang ke hati saya. Sebuah tempat di mana ia akan abadi dan tak terganti. Dan kami akan selalu bersama. Selamanya.
Hari itu, untuk kesekian kalinya Ia dibawa ke rumah sakit karena komplikasi setelah menjalani kemoterapi. Ia pergi ditemani Mama dan Kakaknya. Saya tidak merasa perlu ikut mendampinginya. Saya, yang sudah terbiasa dengan kunjungan rutin ke rumah sakit lima hari dalam sebulan, menganggap hari itu sama seperti hari-hari lainnya.
Saya berdiri di depan pintu, melepas kepergian Dia sambil melambaikan tangan. Ia dengan sweater panjang kesayangannya. Ia dengan kepala dengan rambut yg hampir botak karena rontok, ia membenci wig dan topi yang membuat gerah. Ia dengan wajah mengernyit, tanpa satu pun keluhan terlontar.
Hari itu tanggal 3 Oktober. Dia pergi ke rumah sakit tanpa saya di sisinya. Ia tidak pernah kembali lagi.
Saya merelakan kepergian Verish, karena saya lebih memilih kehilangan seorang kekasih ketimbang melihatnya menderita dalam kesakitan. Namun, perlahan-lahan kehilangan itu menjelma menjadi lubang hitam. Saya merindukannya, dan kini saya tidak akan pernah lagi bertemu dengannya. Satu-satunya saat di mana kami dapat berjumpa lagi, barangkali nanti, ketika saya menyusulnya ke surga. Meski saya tidak bisa memungkiri perasaan bahwa dalam saat-saat tertentu, ia terasa begitu dekat.
Seolah-olah Verish tidak pernah pergi dari sisi saya. Ia hadir dalam saat-saat terberat di mana saya merasa hidup tidak lagi ada gunanya. Ia hadir dalam masa-masa paling mengecewakan di mana yang ingin saya lakukan hanya mengubur diri di bawah selimut dan menghindari dunia.
Seakan-akan Dia ada dan berbisik, “Tidak apa-apa, Semua akan baik-baik saja,” meski tangannya tak dapat menjangkau wajah saya yang berairmata.
Ia hadir dalam saat-saat penuh kebahagiaan di mana saya berkhayal dapat menghambur ke rumahnya dan menceritakan apa yang saya rasakan dengan penuh sukacita. Ia hadir dalam masa-masa penuh kegembiraan ketika saya berbangga hati atas pencapaian yang saya raih. Seakan-akan Dia ada, tepat di sisi saya, tersenyum lebar, dan berbisik, “That’s my boy.”
Betapa saya rindu mempersembahkan setiap kemenangan dan keberhasilan saya untuknya, dan saya tahu dia tahu.
Setelah hampir satu tahun, akhirnya saya sadar: saya keliru.
Verish tidak pergi ke tempat asing bernama Surga di mana kami terpisah selamanya. Saya tidak perlu menanti sampai mati untuk berjumpa lagi dengannya. Saya tidak perlu menunggu sampai masa kontrak saya dengan dunia berakhir untuk bisa menemuinya.
Verish tidak pergi ke tempat lain. Ia pulang ke hati saya. Sebuah tempat di mana ia akan abadi dan tak terganti. Dan kami akan selalu bersama. Selamanya.
“I know you’re listening, Ve. Welcome home.”
* * *
Once in a dream, I saw you telling me
That you’ve traveled in the dark
Just to find that little spot
How you’d settle for a light
In the vastness of the night
Then I saw some tears were coming from your eyes
As you said you’d found your paradise
And I began to ask you: why you have to cry?
And now, it’s so dreamlike I hear you telling me
It’s been such a perfect grace; it’s been such a perfect place
To be in my heart at last, and have angels singing you a song
And it’s time for me to say goodbye to those eyes
To let you go so sleeplike and hear you whisper: why we have to cry?
It’s a journey, you say, an illusion of a journey
Now you can’t see where it ends and where it starts
It’s our life and our love that you wish to have, where you wish to be
In this tiny spark of memory, mortality
What’s left for me to do is to welcome you home
Back to my heart, back to heaven’s light
Back to my heart, and we’re never apart
(Back to Heaven's Light - Dewi Lestari)
Rabu, 29 September 2010
Surat Buat Presiden
Bapak Presiden yang Terhormat,
Beberapa minggu lalu, seorang pejabat tempat ibadah mengalami luka berat akibat penusukan yang dilakukan sekelompok orang dari sebuah organisasi pembela agama. Sebelumnya, tempat ibadah yang dilarang berdiri itu sudah menjadi saksi unjuk rasa dan adu jotos kepentingan atas nama agama. Jemaat pun terguncang. Bukan saja mereka kehilangan tempat beribadah, mereka harus menyaksikan orang yang mereka hormati berlumuran darah di depan mata mereka sendiri.
Kemarin, ratusan orang dari sebuah organisasi agama menyerbu sebuah festival film. Mereka mengancam akan membakar tempat itu. Kemudian Bapak Menteri mengeluarkan pernyataan yang membuat kami terhenyak. Kegiatan itu menyimpang dari etika masyarakat, katanya. Kami pun termangu. Sejak kapan preferensi seksual seseorang menjadi tolok ukur etika dan moral masyarakat?
Hari ini, terjadi kerusuhan di Jalan Ampera. Mereka bilang, korban tewas sejauh ini sudah tiga orang. Empat luka-luka. Seorang polisi tertembak. Potongan tubuh terserak di jalan. Jalan ditutup. Kemacetan mengular. Masyarakat diperingatkan untuk menjauhi area itu.
Bapak, saya tak mengerti politik dan tak ingin tahu banyak tentang politik. Saya warga negara biasa yang sudah cukup puas dengan kehidupan yang layak dan pekerjaan yang baik. Saya yakin di negara ini banyak yang seperti itu. Politik bukan bidang kami, dan barangkali kami memang tak perlu memahaminya, karena seperti yang sering dibilang orang, politik itu bau tai. Kami lebih suka mencium aroma makanan ketimbang kotoran, maka kami serahkan ranah itu kepada orang-orang yang sudah ahli berkecimpung di dalamnya. Namun, kali ini, izinkan kami bersuara.
Bapak, kami marah bukan karena benci. Kami marah karena cinta. Cinta yang kepalang besar bagi pertiwi yang tanahnya sudah kami injak puluhan tahun, yang udaranya kami hirup setiap hari, yang hasil buminya memberi makan mulut-mulut kami.
Prihatin tak lagi cukup, Bapak. Beragam janji dan instruksi tidak lagi mampu membungkam mulut kami, karena kami sudah kenyang dengan janji. Kami lelah menunggu tanpa daya. Kami letih menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.
Nyanyian dari bibirmu sudah kami dengarkan, Bapak. Kini kami menanti sesuatu yang lain. Yang bukan cuma bisa kami simpan dalam bentuk kepingan cakram. Yang bukan cuma bisa kami baca di internet, kami lihat di televisi, kami simak di koran, tanpa pernah menghasilkan apa-apa.
Kami tak minta banyak, Bapak. Kami hanya ingin orang yang kami pilih mampu menyediakan keamanan bagi kami. Kami ingin bisa beribadah dengan damai. Kami ingin bisa melalui jalan-jalan kota dengan tenteram. Kami ingin menikmati film dan pergi ke tempat-tempat hiburan dengan leluasa. Kami ingin bebas dari rasa takut dan teror.
Kami ingin pajak yang kami bayarkan digunakan untuk sebaik-baiknya kepentingan rakyat dan pembangunan negara, karena sekalipun kami hidup berkecukupan, jutaan penduduk Indonesia belum menikmati kehidupan yang layak. Sudah cukup kami merasa pedih melihat uang hasil jerih payah kami digunakan untuk plesiran anggota dewan yang terhormat, sementara jutaan rakyat miskin makan nasi yang sudah kotor setiap hari.
Kami muak dengan kekerasan. Kami muak dengan aksi semena-mena. Kami muak melihat nama Tuhan digadaikan demi hawa nafsu segelintir orang tertentu. Kami sudah lelah mencaci dan menangis.
Bapak, tolong dengarkan kami. Lakukan sesuatu. Bertindaklah agar kami tahu orang yang kami pilih memang layak mengemban kepercayaan kami.
Beberapa minggu lalu, seorang pejabat tempat ibadah mengalami luka berat akibat penusukan yang dilakukan sekelompok orang dari sebuah organisasi pembela agama. Sebelumnya, tempat ibadah yang dilarang berdiri itu sudah menjadi saksi unjuk rasa dan adu jotos kepentingan atas nama agama. Jemaat pun terguncang. Bukan saja mereka kehilangan tempat beribadah, mereka harus menyaksikan orang yang mereka hormati berlumuran darah di depan mata mereka sendiri.
Kemarin, ratusan orang dari sebuah organisasi agama menyerbu sebuah festival film. Mereka mengancam akan membakar tempat itu. Kemudian Bapak Menteri mengeluarkan pernyataan yang membuat kami terhenyak. Kegiatan itu menyimpang dari etika masyarakat, katanya. Kami pun termangu. Sejak kapan preferensi seksual seseorang menjadi tolok ukur etika dan moral masyarakat?
Hari ini, terjadi kerusuhan di Jalan Ampera. Mereka bilang, korban tewas sejauh ini sudah tiga orang. Empat luka-luka. Seorang polisi tertembak. Potongan tubuh terserak di jalan. Jalan ditutup. Kemacetan mengular. Masyarakat diperingatkan untuk menjauhi area itu.
Bapak, saya tak mengerti politik dan tak ingin tahu banyak tentang politik. Saya warga negara biasa yang sudah cukup puas dengan kehidupan yang layak dan pekerjaan yang baik. Saya yakin di negara ini banyak yang seperti itu. Politik bukan bidang kami, dan barangkali kami memang tak perlu memahaminya, karena seperti yang sering dibilang orang, politik itu bau tai. Kami lebih suka mencium aroma makanan ketimbang kotoran, maka kami serahkan ranah itu kepada orang-orang yang sudah ahli berkecimpung di dalamnya. Namun, kali ini, izinkan kami bersuara.
Bapak, kami marah bukan karena benci. Kami marah karena cinta. Cinta yang kepalang besar bagi pertiwi yang tanahnya sudah kami injak puluhan tahun, yang udaranya kami hirup setiap hari, yang hasil buminya memberi makan mulut-mulut kami.
Prihatin tak lagi cukup, Bapak. Beragam janji dan instruksi tidak lagi mampu membungkam mulut kami, karena kami sudah kenyang dengan janji. Kami lelah menunggu tanpa daya. Kami letih menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.
Nyanyian dari bibirmu sudah kami dengarkan, Bapak. Kini kami menanti sesuatu yang lain. Yang bukan cuma bisa kami simpan dalam bentuk kepingan cakram. Yang bukan cuma bisa kami baca di internet, kami lihat di televisi, kami simak di koran, tanpa pernah menghasilkan apa-apa.
Kami tak minta banyak, Bapak. Kami hanya ingin orang yang kami pilih mampu menyediakan keamanan bagi kami. Kami ingin bisa beribadah dengan damai. Kami ingin bisa melalui jalan-jalan kota dengan tenteram. Kami ingin menikmati film dan pergi ke tempat-tempat hiburan dengan leluasa. Kami ingin bebas dari rasa takut dan teror.
Kami ingin pajak yang kami bayarkan digunakan untuk sebaik-baiknya kepentingan rakyat dan pembangunan negara, karena sekalipun kami hidup berkecukupan, jutaan penduduk Indonesia belum menikmati kehidupan yang layak. Sudah cukup kami merasa pedih melihat uang hasil jerih payah kami digunakan untuk plesiran anggota dewan yang terhormat, sementara jutaan rakyat miskin makan nasi yang sudah kotor setiap hari.
Kami muak dengan kekerasan. Kami muak dengan aksi semena-mena. Kami muak melihat nama Tuhan digadaikan demi hawa nafsu segelintir orang tertentu. Kami sudah lelah mencaci dan menangis.
Bapak, tolong dengarkan kami. Lakukan sesuatu. Bertindaklah agar kami tahu orang yang kami pilih memang layak mengemban kepercayaan kami.
Senin, 27 September 2010
pang | gung
Iya, teman.
Ini panggungku.
Panggung yang kupilih dengan kesadaran penuh.
Yang kujaga dengan kantuk sangat tiap malam.
Berteman dengan ribuan hening.
Berpacu bersama lajunya waktu.
Bersandar pada ludah dan peluh.
Bernyawa oleh denyut lamat.
Iya, teman.
Itu panggungmu.
Yang kauhiasi indah.
Dengan lampu-lampu semarak.
Bak 50 tahun emas Indonesia Merdeka.
Bertaburan intan permata.
Berseliweran oleh domba-domba berdasi.
Berkacak di antara serdadu-serdadu wangi.
Berkacamata dengan silaunya lentera kristal.
Iya teman, kita ada di sandiwara yang sama.
Tapi, entah
mengapa kita berada di sisi panggung yang sangat berbeda....
Terinspirasi oleh:
Kenaikan harga BBM, malnutrisi & busung lapar, krisis listrik & BBM, Perpres Tanah, rekonstruksi-macet Aceh, vonis Nurdin Halid & Adiguna, industri tengik bernama Periklanan, omong kosong Widya 'Pertamina' Purnama, hemat energi ala badut Jusuf Kalla, pertunjukan opera Mahakampung Cinta-nya Guruh & Didi Petet, dan pernikahan Agus & Anissa.
Kamis, 23 September 2010
Teguh Beriman
Guh...
inget gak pas tahun 2002, jaman kita beneran masih ABG--masih kelas 3 SMP! (gak kayak skrg.. NGAKUnya doang masih ABG :p) dan kita berdua jadi juara 3 lomba ngeRAP di My Place discotheque? Huaahahahahaha...bodoh banget..
Pesertanya cuman 4 tim, jelas aja juara 3!!!
Udah gitu jaman itu kita juga lagi suka-sukanya ama Run DMC, Beastie Boys dan...............
Rick Astley!!!? Najis lo Guh...he he he...
Guh...
Inget gak jaman itu elo orgnya tempra banget. Sampe elo sempet ribut gebuk-gebukan sama Iwan Tarjo di kelas pas pelajaran Pak Sum. Atau berantem sama Bamos di depan kantin PKK cewek. (Gue masih inget banget komennya Bamos pas pertama lo pukul.."Aduhh!!! SAKIT GUH!!!" hi hi hi)
Atau pas jaman SMA yang elo digebukin rame-rame sama anak Islamiyah di depan WC sementara deket kantin Don Salamo ? Gara-gara elo mukul Tulo pas elo gak pake badge?
Saking seringnya lo ribut sama orang, sampe pas elo sama Adam tabrakan on the way ke PAMSOS --acara musiknya anak SMA 6--dan tangan lo patah, banyak yang bilang elo kena tulah karena "ringan tangan"
Padahal abis itu justru Ijum Verdi kena pukul elo gara2 maen slepetan di kelas nyasar ke tangan lo yang lagi patah digips itu. Hi hi hi...
Guh...
Inget gak di suatu saat di Lapangan Depan, ketika kita masih SMP, elo bilang gini ke kita-kita "He he..iya yah gue tuh kalo udah begini selalu nyesel, kenapa gak seringan maen sama elo-elo...", menyesali kenakalan elo bersama gank nakal lo.
atau pas jaman pas kita liburan di Bandung, dan elo memberi kami fasilitas sebuah rumah di jalan Kanayakan punyanya sodara lo untuk kita acak-acak sementara. Malah jaman itu elo masih pacaran sama Tanya, elo pake telponnya sodara lo untuk interlokal Tanya, sambil maenin lagu pake piano. Romantis sih Guh, tapi berapa ya tagihan telpon sodara lo setelah itu..ha ha ha...
Atau jaman kita rame-rame nangkring di rumah Teges, dan elo selalu memainkan piano dengan romantisnya, tapi saat lo mau menyanyi, Teges ngebekap mulut lo "Udah Guh, kamu maen piano aja..."
Hahahahaha...Tae tuh emang Teges.
Guh..
inget gak jaman elo mulai cabut dr The Hours of Silence trus mulai gabung ama Kidnap dan seterusnya jadi anak potlot dan kita mulai "kehilangan" elo meskipun kita sesekali masih ketemu elo.
Guh..
Mungkin blog gue gak cukup buat nulis semua kenangan-kenangan dan kejadian-kejadian tolol yang pernah kita lakuin bareng-bareng.
Tapi semoga cukup bisa ngingetin ke semua orang bahwa, mau ke manapun kita pergi, cuman IMAN kitalah yang bakal menentukan ke mana akhirnya kita.
Seperti seluruh perjalanan terakhir-terakhir hidup lo yang tercermin dari postingan-postingan blog lo...
Yang tenang ya DI SANA, Guh....
Layar pun menutup perlahan
Lampu-lampu satu persatu padam
Tinggal raut wajah malam
Kulihat menjawab dengan tawa
tanda pertubjukan selesai
sampai di sini...
DRAMA HITAM-PUTIH
by Anda, Yuka, Teguh (?)
inget gak pas tahun 2002, jaman kita beneran masih ABG--masih kelas 3 SMP! (gak kayak skrg.. NGAKUnya doang masih ABG :p) dan kita berdua jadi juara 3 lomba ngeRAP di My Place discotheque? Huaahahahahaha...bodoh banget..
Pesertanya cuman 4 tim, jelas aja juara 3!!!
Udah gitu jaman itu kita juga lagi suka-sukanya ama Run DMC, Beastie Boys dan...............
Rick Astley!!!? Najis lo Guh...he he he...
Guh...
Inget gak jaman itu elo orgnya tempra banget. Sampe elo sempet ribut gebuk-gebukan sama Iwan Tarjo di kelas pas pelajaran Pak Sum. Atau berantem sama Bamos di depan kantin PKK cewek. (Gue masih inget banget komennya Bamos pas pertama lo pukul.."Aduhh!!! SAKIT GUH!!!" hi hi hi)
Atau pas jaman SMA yang elo digebukin rame-rame sama anak Islamiyah di depan WC sementara deket kantin Don Salamo ? Gara-gara elo mukul Tulo pas elo gak pake badge?
Saking seringnya lo ribut sama orang, sampe pas elo sama Adam tabrakan on the way ke PAMSOS --acara musiknya anak SMA 6--dan tangan lo patah, banyak yang bilang elo kena tulah karena "ringan tangan"
Padahal abis itu justru Ijum Verdi kena pukul elo gara2 maen slepetan di kelas nyasar ke tangan lo yang lagi patah digips itu. Hi hi hi...
Guh...
Inget gak di suatu saat di Lapangan Depan, ketika kita masih SMP, elo bilang gini ke kita-kita "He he..iya yah gue tuh kalo udah begini selalu nyesel, kenapa gak seringan maen sama elo-elo...", menyesali kenakalan elo bersama gank nakal lo.
atau pas jaman pas kita liburan di Bandung, dan elo memberi kami fasilitas sebuah rumah di jalan Kanayakan punyanya sodara lo untuk kita acak-acak sementara. Malah jaman itu elo masih pacaran sama Tanya, elo pake telponnya sodara lo untuk interlokal Tanya, sambil maenin lagu pake piano. Romantis sih Guh, tapi berapa ya tagihan telpon sodara lo setelah itu..ha ha ha...
Atau jaman kita rame-rame nangkring di rumah Teges, dan elo selalu memainkan piano dengan romantisnya, tapi saat lo mau menyanyi, Teges ngebekap mulut lo "Udah Guh, kamu maen piano aja..."
Hahahahaha...Tae tuh emang Teges.
Guh..
inget gak jaman elo mulai cabut dr The Hours of Silence trus mulai gabung ama Kidnap dan seterusnya jadi anak potlot dan kita mulai "kehilangan" elo meskipun kita sesekali masih ketemu elo.
Guh..
Mungkin blog gue gak cukup buat nulis semua kenangan-kenangan dan kejadian-kejadian tolol yang pernah kita lakuin bareng-bareng.
Tapi semoga cukup bisa ngingetin ke semua orang bahwa, mau ke manapun kita pergi, cuman IMAN kitalah yang bakal menentukan ke mana akhirnya kita.
Seperti seluruh perjalanan terakhir-terakhir hidup lo yang tercermin dari postingan-postingan blog lo...
Yang tenang ya DI SANA, Guh....
Layar pun menutup perlahan
Lampu-lampu satu persatu padam
Tinggal raut wajah malam
Kulihat menjawab dengan tawa
tanda pertubjukan selesai
sampai di sini...
DRAMA HITAM-PUTIH
by Anda, Yuka, Teguh (?)
Rabu, 22 September 2010
Time Passes By
Kadang kita emang gak pernah inget apa yang udah kita lewati sejalan dengan waktu berlalu.
Kadang elo tauk-tauk tersadar dan kemudian melongo sambil berucap
"Hahh?? Itu tahun lalu?"
"Hahh?? masak sih itu udah 5 tahun yang lalu?"
Kayak yang gue lakuin waktu ngelongok postingan terakhir gue di blog geblek ini.
"Buset ampir 1 bulan udah ini blog gue onggokin."
Dalam sebulan ini apa aja yang udah terjadi ya?
Yep, gue kumpul2 dengan beberapa temen jaman SMP plus temen SMA.
Pertama di Chatterbox Citos,
trus di Rumah Apit & Dunya di Cilandak,
dan terakhir di rumah Harlin dan Aya di Mampang.
Selintas muka-muka yang nongol gak ada yang berubah.
Tapi jangan tanya soal postur.
Damm!
Bocah-bocah yg hampir 8 tahun lalu satu sekolah ini udah menjelma jadi bapak-bapak (Apit, Tanti, Harlin, Emink, kambing, Irto), ibu-ibu (Shanti, Tari, Vivi, Lina, Dita) , tante-tante (Cumi & Soraya!), oom-oom (Maesa, Yoris, dan Aci dan Ireneee!).
Cuman gue doang yg keliatan masih ABG..he he he
(Anak-anak: Iya HEEERRR, maksud lo ABG = Anaknya Baru Gede!!??)
8 tahun?
Gila ke mana aja waktu itu berjalan....
Selain itu apalagi yang terjadi?
Ari Kondang kawin!
LAGI!
He he he...
Perasaan baru kemaren gue nyalamin dia di pelaminan berdampingan sama Rosa.
Tauk-tauk pertengahan Desember kemaren itu gue udah di pinggir pantai Pulau Seribu, bareng Dicky, Keke & Wulan, Alex & Ella, David Hutagalung, Riri, Maesa dan Fabby,
Jadi saksi Kondang dan Maria kawin.
Kawin lagi buat Kondang, kawin pertama buat Maria.=)
Kemudian?
Rasanya baru kemaren gue posting soal nyeseknya BBM Naik.
Tauk-tauk hari ini gue ngerasain betapa uang 20 rb itu cuman dibakar jadi uap sehari.
Sore udah harus diisi lagi.
Hikk...hikk...emaaakkk berasmu dirampokkkkkk!!!
Bedebah kau SBY, bangsat kau BUDIONO!
Yang terakhir.
Rasanya baru kemaren ngeliat Paddy's dan Sari Club rata jadi tanah.
Dan rasanya belum lama setelah itu gue, Bowo dan Jhos berpotret ria di tempat yang sama yang berubah jadi monumen Ground Zero.
Makan di desiran angin pantai Jimbaran.
(Dengan susah payah karena Gue bawa ransel gede waktu itu)
Keliling-keliling di keramaian Kuta Square.
Dan sekejap itu udah jadi gambaran masa lalu lagi...
Entah apa lagi yang bakal kita lewatin.
Dan entah ke mana perginya masa-masa itu.
Entah lenyap begitu aja ninggalin memori.
atau pergi bareng sama rasa kemanusiaan dan keluluhlantakan.
Entah...
Kadang elo tauk-tauk tersadar dan kemudian melongo sambil berucap
"Hahh?? Itu tahun lalu?"
"Hahh?? masak sih itu udah 5 tahun yang lalu?"
Kayak yang gue lakuin waktu ngelongok postingan terakhir gue di blog geblek ini.
"Buset ampir 1 bulan udah ini blog gue onggokin."
Dalam sebulan ini apa aja yang udah terjadi ya?
Yep, gue kumpul2 dengan beberapa temen jaman SMP plus temen SMA.
Pertama di Chatterbox Citos,
trus di Rumah Apit & Dunya di Cilandak,
dan terakhir di rumah Harlin dan Aya di Mampang.
Selintas muka-muka yang nongol gak ada yang berubah.
Tapi jangan tanya soal postur.
Damm!
Bocah-bocah yg hampir 8 tahun lalu satu sekolah ini udah menjelma jadi bapak-bapak (Apit, Tanti, Harlin, Emink, kambing, Irto), ibu-ibu (Shanti, Tari, Vivi, Lina, Dita) , tante-tante (Cumi & Soraya!), oom-oom (Maesa, Yoris, dan Aci dan Ireneee!).
Cuman gue doang yg keliatan masih ABG..he he he
(Anak-anak: Iya HEEERRR, maksud lo ABG = Anaknya Baru Gede!!??)
8 tahun?
Gila ke mana aja waktu itu berjalan....
Selain itu apalagi yang terjadi?
Ari Kondang kawin!
LAGI!
He he he...
Perasaan baru kemaren gue nyalamin dia di pelaminan berdampingan sama Rosa.
Tauk-tauk pertengahan Desember kemaren itu gue udah di pinggir pantai Pulau Seribu, bareng Dicky, Keke & Wulan, Alex & Ella, David Hutagalung, Riri, Maesa dan Fabby,
Jadi saksi Kondang dan Maria kawin.
Kawin lagi buat Kondang, kawin pertama buat Maria.=)
Kemudian?
Rasanya baru kemaren gue posting soal nyeseknya BBM Naik.
Tauk-tauk hari ini gue ngerasain betapa uang 20 rb itu cuman dibakar jadi uap sehari.
Sore udah harus diisi lagi.
Hikk...hikk...emaaakkk berasmu dirampokkkkkk!!!
Bedebah kau SBY, bangsat kau BUDIONO!
Yang terakhir.
Rasanya baru kemaren ngeliat Paddy's dan Sari Club rata jadi tanah.
Dan rasanya belum lama setelah itu gue, Bowo dan Jhos berpotret ria di tempat yang sama yang berubah jadi monumen Ground Zero.
Makan di desiran angin pantai Jimbaran.
(Dengan susah payah karena Gue bawa ransel gede waktu itu)
Keliling-keliling di keramaian Kuta Square.
Dan sekejap itu udah jadi gambaran masa lalu lagi...
Entah apa lagi yang bakal kita lewatin.
Dan entah ke mana perginya masa-masa itu.
Entah lenyap begitu aja ninggalin memori.
atau pergi bareng sama rasa kemanusiaan dan keluluhlantakan.
Entah...
Amnesia
Bangsat..
Padahal baru 12 kali tahun baru, tapi otak melayu sudah menguap.
Injakan sepatu PDL dan bau mesiu gak berbekas setitikpun.
Kelelawar-kelelawar haus darahpun njelma jadi burung kakaktua.
Dipuja-puja dan diberhalakan.
Saat duduk-duduk di atas jeritan dan kepingan manusia.
Yang dulu kau nisani dengan pelor tajam.
Di tengah peluh dan air mata keluarganya.
"Apa kabar rakyat...?"
"Apa kabar bangsa..?"
"Apa kabar bangsat..?"
Padahal baru 12 kali tahun baru, tapi otak melayu sudah menguap.
Injakan sepatu PDL dan bau mesiu gak berbekas setitikpun.
Kelelawar-kelelawar haus darahpun njelma jadi burung kakaktua.
Dipuja-puja dan diberhalakan.
Saat duduk-duduk di atas jeritan dan kepingan manusia.
Yang dulu kau nisani dengan pelor tajam.
Di tengah peluh dan air mata keluarganya.
"Apa kabar rakyat...?"
"Apa kabar bangsa..?"
"Apa kabar bangsat..?"
Salah
Siapa sih yang gak takut salah?
Siapa sih yang mau berbuat salah?
Siapa sih yang gak malu dibilang salah?
Itulah sebabnya maka yang muncul berikutnya adalah:
"Siapa yang salah!!??" *dengan nada agak ngotot*
"Salah siapa!!!?" *lebih ngotot*
Manusia memang makhluk yang gak sempurna.
Yang gak mau sempurna karena gak mau berusaha benerin salahnya.
Yang gak mau sempurna karena terus-terusan bikin salah yang sama.
Dan semakin gak sempurna karena terus2an berlindung dibalik ke-gaksempurna-an nya itu.
Dalam bentuk mikronya biasanya statement andalannya adalah:
"Gue emang begini orangnya...gimana lagi?"
Inferioritas dipake buat berlindung.
Ketidakmauberubahan dijadiin perisai.
Dan ke-manusiawi-an adalah kerudung yang dipake atau dibuka tergantung kebutuhan.
Lalu pertanyaan berikutnya: tendensi ini benernya anak haram siapa?
Benar gak sih itu hasil perselingkuhan dengan keabu-abuan?
anak haram yang lahir dan menisbikan nilai salah dan benar.
Tercenung gue di beberapa hari belakangan.
Salahkah gue?
Cari musuh di belantara industri..
Pasang karbit di dedaunan muda...
Cari penyakit di tetunasan jari sendiri...
Pasang bar tinggi di tengah kegamangan...
Berasa asing di halaman belakang rumah..
Berasa kerampokan value tiap hari...
Nemenin Yoga jadi sekrup kapitalis..
Mungkin enggak.
Tapi mungkin juga salah.
Itu gunanya ada lebaran.
Supaya kita bisa mohon maaf atas salah kita.
Baik ke orang lain maupun ke diri sendiri...
Gue maafin, Her.... *sambil ngaca*
Siapa sih yang mau berbuat salah?
Siapa sih yang gak malu dibilang salah?
Itulah sebabnya maka yang muncul berikutnya adalah:
"Siapa yang salah!!??" *dengan nada agak ngotot*
"Salah siapa!!!?" *lebih ngotot*
Manusia memang makhluk yang gak sempurna.
Yang gak mau sempurna karena gak mau berusaha benerin salahnya.
Yang gak mau sempurna karena terus-terusan bikin salah yang sama.
Dan semakin gak sempurna karena terus2an berlindung dibalik ke-gaksempurna-an nya itu.
Dalam bentuk mikronya biasanya statement andalannya adalah:
"Gue emang begini orangnya...gimana lagi?"
Inferioritas dipake buat berlindung.
Ketidakmauberubahan dijadiin perisai.
Dan ke-manusiawi-an adalah kerudung yang dipake atau dibuka tergantung kebutuhan.
Lalu pertanyaan berikutnya: tendensi ini benernya anak haram siapa?
Benar gak sih itu hasil perselingkuhan dengan keabu-abuan?
anak haram yang lahir dan menisbikan nilai salah dan benar.
Tercenung gue di beberapa hari belakangan.
Salahkah gue?
Cari musuh di belantara industri..
Pasang karbit di dedaunan muda...
Cari penyakit di tetunasan jari sendiri...
Pasang bar tinggi di tengah kegamangan...
Berasa asing di halaman belakang rumah..
Berasa kerampokan value tiap hari...
Nemenin Yoga jadi sekrup kapitalis..
Mungkin enggak.
Tapi mungkin juga salah.
Itu gunanya ada lebaran.
Supaya kita bisa mohon maaf atas salah kita.
Baik ke orang lain maupun ke diri sendiri...
Gue maafin, Her.... *sambil ngaca*
Senin, 20 September 2010
An Apple
Pasti pernah denger dong quote: An Apple a Day, Keep Doctors Away
Gue gak tau siapa yang pertama mencetuskan.
Tapi konon memang apel punya banyak khasiat kalo dikonsumsi dengan rutin dalam takaran yang pas.
Pada dasarnya memang banyak makanan yang berkhasiat kalo dikonsumsi rutin dengan takaran yang pas.
Konon wine pun begitu.
Tempe juga.
Di luar makanan, banyak hal juga yang seharusnya “berkhasiat” kalo “dikonsumsi” rutin dengan takaran yang pas.
Belajar. Main. Dugem.
Tidur. Kerja.
Istirahat. Main Winning Eleven.
Main Futsal. Nonton TV. Baca Koran.
Main Game. Fitness. Chatting.
Pijet. Main Internet.
Nonton Bokep. Baca buku. Nulis Blog.
Semua.
Problemnya, setiap orang punya kecenderungan “keseret” ke salah satu dengan porsi yang berlebihan dibanding yang lain.
Yang doyan dugem, dugeeeeem terus.
Yang doyan chatting, chattinnnnnng terus.
Yang korupsi, dipol-polin korupsinya.
Yang jalan kotanya rusak, dibablasiiiinnn terus rusaknya.
Yang kelelep lumpur dilelepiiiiinnn terus.
Yang dipenjara ngotot mimpiiiiiiinnnn PSSI teruss.
Yang naik harga, naiiiiiikkkkkk terus.
Yang ngelindungin bangsat BLBI, ngelindungin gak ada matinyeee.
Makanya ada konsep yin-yang.
Ada konsep keseimbangan semesta.
Ada balancing dan spooring kalo di mobil.
Balik ke masalah apel.
Dah seminggu ini gue sok-sokan sahur apel doang tiap hari.
Bener sih, maag kambuhan gue berkurang.
Badanpun agak2 fit gak lemes.
Entah beneran, sugesti, atau gara2 skrg juga rutin Tennis??? Hehehe..
Terakhir belanja di Aneka Buana gue ngambil 12 biji apel impor cina yang emang enak.
Pas ditimbang…“Pa, buset…total 62 ribu!!!”
Gue mikir sejenak, “anjrot sebijinya goceng lebih!!”
Tiba-tiba kayak di film Donald Bebek, di sisi kiri kepala gue muncul iblis mungil berkarakter Herry bilang :
“Herr…2 biji itu sama dengan sebungkus Dji Sam Soe 16!”
Dan tiba-tiba muncul di kanan kepala gue sesosok malaikat mungil berkarakter Herry juga, mbisikin lembut:
“Coba lo inget udah berapa duit yang lo habiskan buat hal-hal yang ngerusak badan lo? Saatnya berkorban dikit buat kesehatan badan lo kali, Herrrr…”
Puff!
Si Iblis menghilang, dan malaikat berjaya.
Dan gue berjalan ke kasir dengan gagah bak koboi menuju matahari terbenam.
Penuh kemenangan...
Senin, 13 September 2010
Si Sri dan Mimpinya
Kisah ini semula gue kira sebuah kisah sedih.
Tapi rasanya bukan.
Karena kisah nyata ini ternyata memberi seorang Herry pelajaran.
Kisah dibuka dengan sebuah telpon dari tante gue buat nyokap, di saat gue dan keluarga menjadi Upik Abu di rumah, setelah ditinggal bedinde-bedinde pulang kampung dan memaksa kita ambil cuti bergantian.
Di telpon, tante gue bercerita bahwa di rumahnya ada seorang cewek.
Namanya Sri.
Dia dateng dari Temanggung dianter sama ibunya untuk casting di sebuah Talent Agency di daerah Gandul deket rumah tante. (Jooooo… talent agency kok di daerah Gandul???)
Singkatnya, mereka sempet terdampar di rumah tante gue, sebelum nemuin tuh Talent Agency. Karena belum punya tempat tinggal, akhirnya tante gue menampung anak-beranak itu semalem di rumah. Selama di rumah nyokap mereka sempet bantu-bantu kerjaan rumah juga. Setelah itu mereka ngontrak di deket Talent Agency itu untuk sewaktu-waktu dipanggil casting.
Menurut cerita mereka, mereka diharuskan membayar uang Rp 450.000 untuk mengikat kontrak setahun (MEMBAYAR lho bukan DIBAYAR…), supaya sewaktu-waktu bisa dipanggil kalo dibutuhin.
Alhasil setelah beberapa lama ngontrak, suatu hari si Sri “maen” ke rumah tante gue lagi. Ujung-ujungnya dia cerita bahwa dia kehabisan duit buat bayar uang kontrakannya dan mau minjem duit. Dan tante gue karena gak bisa bantu, nyaranin Sri untuk kerja sebagai PRT serep yang justru pas lebaran gini dibutuhin orang-orang.
Singkatnya, itulah kenapa tante gue menelpon, dia nawarin Sri untuk jadi PRT serep di rumah gue selama 10 hari. Gayung bersambut, karena memang gue dan nyokap mulai kelelahan menjadi upik abu.
Dan tanpa gue sangka, si Sri bekerja luar biasaaaaaaa.
Kerjanya cepet, rapi, bersih.
Rumah gue justru lebih rapi dan bersih dibanding hari-hari sebelum lebaran.
Belum lagi soal inisiatif dan ketidakcanggungannya berhadapan sama orang.
Bener-bener ngebantu banget pas rumah kita open house kedatengan sodara-sodara di H1 lebaran.
Di suatu hari, gue sempet ngobrol sama si Sri.
Gue terenyuh denger cerita dia. Apalagi gue ngeliat secara fisik (duh maap ya…) dia gak punya penampilan yang memadai untuk jadi talent atau tampil di sinetron.
“Saya udah sempet syuting 2 kali kok mas” katanya berbinar-binar.
“Yang pertama buat sinetron yang satu lagi buat iklan.
Cuman numpang-numpang lewat sih.
Yang sinetron saya dibayar Rp 25 ribu.
Kalo yang iklan lebih gede mas. Rp 40 ribu…”
Mak Jlep!
Duh…
Mungkin orang bisa bilang gue materialistis ya, tapi tetep aja uang segitu itu kan minim bangettttt!!
Setauk gue extras buat iklan aja 100-150 ribu perak bukannn?
“Saya sih gak pilih-pilih mas. Kalo teman-teman saya yang lain banyak yang udah pilih-pilih. Kalo saya peran apa aja saya ambil aja. Istilahnya kan sambil belajar ya mas ya. Jadi ntar lama-lama insya allah dikasih dialog..”
Awalnya gue miris.
Kayak gini ya ternyata imbas iming-iming jadi bintang itu?
Thank’s to AFI, Idol dan pemilihan-pemilihan idola lainnya…
Kenapa sih dia gak jadi pembantu ajah????
Kerja dia bagus banget kokkk, begitu pikiran gue.
Itulah makanya akhirnya gue nawarin dia untuk kerja permanen karena gue udah males juga sama bedinde lama gue, yang sampe detik gue ngobrol gak ada kabar dia akan balik atau enggak.
Tapi apa jawabnya si Sri?
“Wah mas..sebenrnya kalo soal mau sih mau aja mas. Cuman gak bisa saya… Soalnya udah keiket sama yang di sana kan mas…”
begitu jawab dia sambil nyebut nama talent agency yang “mengontrak” dia.
Gue udah pengen ngelarang dia nerusin niatnya itu.
Tapi entah kenapa, ngeliat sorot matanya yang berbinar penuh keyakinan, gue tiba-tiba tersadar.
Siapa sih gue, kok berani-beraninya ngelarang Sri?
Siapa sih gue, kok bisa-bisanya yakin mimpi dia gak bakal terwujud?
Siapa sih gue, kok punya nyali untuk ngevonis dia bakal lebih sukses jadi pembantu daripada ngejar mimpinya?
Tiba-tiba gue ngerasa kecil di depan dia.
Buat dia saat ini, impossible is nothing.
Sementara gue tiba-tiba berubah menjadi orang kecil yang karena udah gak berani lagi bermimpi, akhirnya cuman bisa ngelecehin orang-orang yang masih berani bermimpi.
Damned.
Sejak kapan gue jadi orang yang nyinyir soal mimpi seseorang?
Sejak kapan gue jadi sutradara yang nentuin jalan cerita orang lain?
Sejak kapan gue membunuh kepercayaan gue tentang the power of dreams?
Sejak kapan …
Tiba-tiba beribu pertanyaan berloncatan.
Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampe detik inipun masih gak bisa gue jawab…
Tapi rasanya bukan.
Karena kisah nyata ini ternyata memberi seorang Herry pelajaran.
Kisah dibuka dengan sebuah telpon dari tante gue buat nyokap, di saat gue dan keluarga menjadi Upik Abu di rumah, setelah ditinggal bedinde-bedinde pulang kampung dan memaksa kita ambil cuti bergantian.
Di telpon, tante gue bercerita bahwa di rumahnya ada seorang cewek.
Namanya Sri.
Dia dateng dari Temanggung dianter sama ibunya untuk casting di sebuah Talent Agency di daerah Gandul deket rumah tante. (Jooooo… talent agency kok di daerah Gandul???)
Singkatnya, mereka sempet terdampar di rumah tante gue, sebelum nemuin tuh Talent Agency. Karena belum punya tempat tinggal, akhirnya tante gue menampung anak-beranak itu semalem di rumah. Selama di rumah nyokap mereka sempet bantu-bantu kerjaan rumah juga. Setelah itu mereka ngontrak di deket Talent Agency itu untuk sewaktu-waktu dipanggil casting.
Menurut cerita mereka, mereka diharuskan membayar uang Rp 450.000 untuk mengikat kontrak setahun (MEMBAYAR lho bukan DIBAYAR…), supaya sewaktu-waktu bisa dipanggil kalo dibutuhin.
Alhasil setelah beberapa lama ngontrak, suatu hari si Sri “maen” ke rumah tante gue lagi. Ujung-ujungnya dia cerita bahwa dia kehabisan duit buat bayar uang kontrakannya dan mau minjem duit. Dan tante gue karena gak bisa bantu, nyaranin Sri untuk kerja sebagai PRT serep yang justru pas lebaran gini dibutuhin orang-orang.
Singkatnya, itulah kenapa tante gue menelpon, dia nawarin Sri untuk jadi PRT serep di rumah gue selama 10 hari. Gayung bersambut, karena memang gue dan nyokap mulai kelelahan menjadi upik abu.
Dan tanpa gue sangka, si Sri bekerja luar biasaaaaaaa.
Kerjanya cepet, rapi, bersih.
Rumah gue justru lebih rapi dan bersih dibanding hari-hari sebelum lebaran.
Belum lagi soal inisiatif dan ketidakcanggungannya berhadapan sama orang.
Bener-bener ngebantu banget pas rumah kita open house kedatengan sodara-sodara di H1 lebaran.
Di suatu hari, gue sempet ngobrol sama si Sri.
Gue terenyuh denger cerita dia. Apalagi gue ngeliat secara fisik (duh maap ya…) dia gak punya penampilan yang memadai untuk jadi talent atau tampil di sinetron.
“Saya udah sempet syuting 2 kali kok mas” katanya berbinar-binar.
“Yang pertama buat sinetron yang satu lagi buat iklan.
Cuman numpang-numpang lewat sih.
Yang sinetron saya dibayar Rp 25 ribu.
Kalo yang iklan lebih gede mas. Rp 40 ribu…”
Mak Jlep!
Duh…
Mungkin orang bisa bilang gue materialistis ya, tapi tetep aja uang segitu itu kan minim bangettttt!!
Setauk gue extras buat iklan aja 100-150 ribu perak bukannn?
“Saya sih gak pilih-pilih mas. Kalo teman-teman saya yang lain banyak yang udah pilih-pilih. Kalo saya peran apa aja saya ambil aja. Istilahnya kan sambil belajar ya mas ya. Jadi ntar lama-lama insya allah dikasih dialog..”
Awalnya gue miris.
Kayak gini ya ternyata imbas iming-iming jadi bintang itu?
Thank’s to AFI, Idol dan pemilihan-pemilihan idola lainnya…
Kenapa sih dia gak jadi pembantu ajah????
Kerja dia bagus banget kokkk, begitu pikiran gue.
Itulah makanya akhirnya gue nawarin dia untuk kerja permanen karena gue udah males juga sama bedinde lama gue, yang sampe detik gue ngobrol gak ada kabar dia akan balik atau enggak.
Tapi apa jawabnya si Sri?
“Wah mas..sebenrnya kalo soal mau sih mau aja mas. Cuman gak bisa saya… Soalnya udah keiket sama yang di sana kan mas…”
begitu jawab dia sambil nyebut nama talent agency yang “mengontrak” dia.
Gue udah pengen ngelarang dia nerusin niatnya itu.
Tapi entah kenapa, ngeliat sorot matanya yang berbinar penuh keyakinan, gue tiba-tiba tersadar.
Siapa sih gue, kok berani-beraninya ngelarang Sri?
Siapa sih gue, kok bisa-bisanya yakin mimpi dia gak bakal terwujud?
Siapa sih gue, kok punya nyali untuk ngevonis dia bakal lebih sukses jadi pembantu daripada ngejar mimpinya?
Tiba-tiba gue ngerasa kecil di depan dia.
Buat dia saat ini, impossible is nothing.
Sementara gue tiba-tiba berubah menjadi orang kecil yang karena udah gak berani lagi bermimpi, akhirnya cuman bisa ngelecehin orang-orang yang masih berani bermimpi.
Damned.
Sejak kapan gue jadi orang yang nyinyir soal mimpi seseorang?
Sejak kapan gue jadi sutradara yang nentuin jalan cerita orang lain?
Sejak kapan gue membunuh kepercayaan gue tentang the power of dreams?
Sejak kapan …
Tiba-tiba beribu pertanyaan berloncatan.
Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampe detik inipun masih gak bisa gue jawab…
Langganan:
Postingan (Atom)



